Tag Archives: Opini Bareng BBI 2015

The Old Curiosity Shop – Charles Dickens

The Old Curiosity ShopTitle : The Old Curiosity Shop
Author : Charles Dickens (1841)
Illustrator : George Cattermole and Hablot K. Browne
Publisher : Penguin Books
Edition : Penguin English Library, 2012
Format : Paperback, 748 pages

Nell Trent tinggal bersama kakeknya di Old Curiosity Shop, toko yang menjual berbagai macam benda koleksi. Meski hidup dalam kesederhanaan (bahkan kekurangan), Nell merasa cukup bahagia karena dia dan kakeknya saling memiliki dan menyayangi. Sayangnya, kakeknya tidak berpikiran sama. Dia berambisi untuk membahagiakan dan meningkatkan taraf hidup cucunya itu, dengan cara berjudi. Jalan pintas yang dilaluinya itu bukannya membantu, tetapi justru menjebaknya dalam lilitan utang dan angan-angan kosong yang terus menghantuinya.

shopDi tengah kesulitan yang dibuat oleh kakeknya, muncul pihak-pihak yang ingin memanfaatkan hal itu demi ambisinya sendiri. Sebut saja Quilp yang kejam, yang mengambil alih Old Curiosity Shop sebagai pengganti utang yang tidak mempu dibayar kakek Nell. Ada juga Frederick, kakak Nell yang berhati busuk, yang mengatur jebakan untuk adiknya sendiri. Namun, Nell tidak sendirian, ada Kit Nubbles, pelayan sekaligus sahabat yang selalu ada untuk Nell, saat tidak ada siapa pun yang bisa melindunginya.

Bagaimanapun, tekanan yang mereka terima ternyata sangat mengguncang kakek Nell. Demi kebaikan keduanya, mereka harus meninggalkan rumah, meninggalkan London secara diam-diam, termasuk meninggalkan Kit yang sempat disalahpahami. Jadilah Nell dan kakeknya mengalami sebuah perjalanan yang mempertemukan mereka dengan banyak orang, berbagai pengalaman yang menguji dan mendewasakan keduanya. Terutama Nell, yang meski baru berusia empat belas tahun, seringkali harus bertindak lebih dewasa karena sang keterbatasan sang kakek.

nell

While he, subdued and abashed, seemed to crouch before her, and to shrink and cower down as if in the presence of some superior creature, the child herself was sensible of a new feeling within her, which elevated her nature, and inspired her with an energy and confidence she had never known. There was no divided responsibility now; the whole burden of their two lives had fallen upon her, and henceforth she must think and act for both. ‘I have saved him,’ she thought. ‘In all dangers and distresses, I will remember that.’ (p.424)

Kita dibawa dalam ketegangan dan ketakutan saat Nell dan kakeknya terpaksa harus berjalan bersama orang yang kelihatan hanya ingin mengeruk manfaat dari mereka, bahkan mengancam akan membawa keduanya kembali ke Quilp. Kita juga diajak dalam hari-hari yang hangat, saat Nell dan kakeknya bertemu dengan orang-orang baik yang membantu mereka setulus hati, meski tak mengetahui latar belakang keduanya. Pun saat perpisahan harus terjadi, keputusan besar harus diambil, dan kerinduan akan rumah membuncah dalam diri orang-orang itu, penulis menceritakan kejadian dan emosi dengan detail yang membuat pembaca ikut merasakan dan masuk ke dalam perjalanan Little Nell.

‘… Forgotten! oh, if the good deeds of human creatures could be traced to their source, how beautifully would even death appear; for how much charity, mercy, and purified affection, would be seen to have their growth in dusty graves!’ (p.537)

Membaca buku ini bukanlah perjalanan yang mudah. Kita dihadapkan pada konflik yang bervariasi, tidak hanya perjalanan Nell dan kakeknya, tetapi juga perjuangan Kit di London, juga Quilp dengan tingkah laku busuk yang tak ada habisnya. Banyak karakter pendukung lain yang berperan dan konflik-konflik ini, seperti kakak beradik Brass, pengacara yang berhubungan dengan Quilp, istri dan mertua Quilp yang menegaskan bagaimana sikap kasar dan buruk pria itu, ibu dan adik-adik Kit, Barbara dan ibunya yang banyak membantu Kit, pelayan Brass yang nantinya akan berperan penting, penyewa di tempat Brass yang juga mencari Nell, dan masih banyak lagi, salah satu yang tak boleh dilupakan adalah Dick Swiveller, salah satu karakter dengan transformasi yang menarik. Segala kerumitan ini masih ditambah lagi suasana kisah yang murung dan hari-hari gelap yang seolah tiada akhir, juga aroma kematian yang kental di sepanjang buku. Akan tetapi, masa-masa mendung yang berkepanjangan itu membuat apa yang akan muncul kemudian terasa jauh lebih hangat dan lebih indah—meski tak bisa dikatakan bahwa buku ini sepenuhnya berakhir bahagia.

But night-time in this dreadful spot!—night, when the smoke was changed to fire; when every chimney spirted up its flame; and places, that had been dark vaults all day, now shone red-hot, with figures moving to and fro within their blazing jaws, and calling to one another with hoarse cries—night, when the noise of every strange machine was aggravated by the darkness; when the people near them looked wilder and more savage; when bands of unemployed labourers paraded the roads, or clustered by torchlight round their leaders, who told them in stern language of their wrongs, and urged them on to frightful cries and threats; when maddened men, armed with sword and firebrand, spurning the tears and prayers of women who would restrain them, rushed forth on errands of terror and destruction, to work no ruin half so surely as their own—night, when carts came rumbling by, filled with rude coffins (for contagious disease and death had been busy with the living crops); when orphans cried, and distracted women shrieked and followed in their wake—night, when some called for bread, and some for drink to drown their cares; and some with tears, and some with staggering feet, and some with bloodshot eyes, went brooding home—night, which, unlike the night that Heaven sends on earth, brought with it no peace, nor quiet, nor signs of blessed sleep—who shall tell the terrors of the night to the young wandering child! (p.445-446)

Sidekick characters

Juli : Sidekick Characters

Juli : Sidekick Characters

A sidekick is a close companion who is generally regarded as subordinate to the one he accompanies. (source)

Walaupun bukan ‘companion’ dalam arti yang literal, Kit Nubbles adalah sidekick character favorit saya dalam buku ini. Kit menyayangi Nell dengan sepenuh hatinya, rasa sayang yang mewujud dalam kesetiaan, pengabdian dan pelayanan. Kit yang pada mulanya selalu menjaga Nell dari depan Old Curiosity Shop saat kakek Nell keluar rumah sepanjang malam untuk berjudi. Kit juga memiliki kualifikasi karakter yang luar biasa, dari kejujurannya, dia berhasil mendapatkan pekerjaan yang bagus dari orang-orang yang nantinya akan berguna untuk Nell. Meski secara fisik Kit terpisah dari Nell, segala yang dilakukannya tak pernah lepas dari pengabdian penuh akan kepentingan bekas majikannya itu. Tak jarang bocah itu menjadi sasaran orang-orang yang hendak memanfaatkan Nell, sehingga Kit harus terjatuh dalam jebakan yang membuat dia dan keluarganya menderita. Namun, hingga akhir, Kit masih setia.

kit

Satu lagi karakter yang sebenarnya bukan sidekick dari karakter utama, tetapi punya peran cukup penting dalam cerita, yaitu Dick Swiveller. Pada mulanya, Dick adalah kawan Frederick Trent, yang nantinya akan bekerja untuk kepentingan Quilp. Dalam perjalanan kisah, banyak hal menimpa Dick yang membuatnya memandang segala sesuatu dengan berbeda. Jika Nell dan Kit digambarkan sebagai karakter yang tanpa cacat, sedangkan karakter-karakter lain digambarkan dalam wilayah hitam, Dick adalah satu dari sedikit yang masuk dalam area abu-abu. Karakter Dick adalah karakter yang paling manusiawi dalam buku ini, tidak sepenuhnya cacat, dan tidak sepenuhnya sempurna. Hingga pada akhirnya, dia mengambil peranan penting yang menjadikannya sebagai pahlawan.

There are chords in the human heart—strange, varying strings—which are only struck by accident; which will remain mute and senseless to appeals the most passionate and earnest, and respond at last to the slightest casual touch. (p.541)

Karya ini dikatakan merupakan salah satu karya Dickens yang paling sentimental, karena buku ini ditulis untuk mengenang adik iparnya yang meninggal dalam usia muda. 4/5 bintang untuk perjalanan yang penuh makna.

Review #27 of Classics Club Project

Review #27 for Lucky No.15 Reading Challenge category Randomly Picked

Advertisements

Adultery – Paulo Coelho

adulteryTitle : Selingkuh (Adultério)
Author : Paulo Coelho (2014)
Translator : Rosi L. Simamora
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 320 pages

Banyak orang mengatakan waktu menyembuhkan semua luka, tetapi itu tidak benar.
Tampaknya, waktu hanya menyembuhkan hal-hal baik yang ingin kita genggam selamanya. Waktu memberitahu kita, “Jangan konyol, ini kenyataan.” Itulah sebabnya semua yang kubaca demi mengangkat semangatku tidak pernah bertahan lama. Ada lubang di dalam jiwaku yang mengisap semua energi positif di dalam diriku, dan hanya meninggalkan kekosongan. Aku sangat mengenal lubang itu—aku telah hidup bersamanya berbulan-bulan—tetapi aku tidak tahu bagaimana melepaskan diri dari cengkeramannya.

Semua yang kita cari dengan penuh antusiasme sebelum kita mencapai masa dewasa—cinta, pekerjaan, iman—berubah menjadi beban yang terlalu berat untuk ditanggung.
Hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dari hal ini: cinta. Mencintai berarti mengubah perbudakan menjadi kebebasan.
Tetapi sekarang ini, aku tidak bisa mencintai. Aku hanya merasakan benci.
Dan meskipun kedengarannya tidak masuk akal, itu memberi makna pada hari-hariku.
(p.155-156)

Linda memiliki segala yang diimpikan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun; suami yang hebat, anak-anak yang luar biasa, pekerjaan yang mapan, rumah tangga yang bahagia, tetapi ada yang salah di dalam dirinya. Ada sebuah kekosongan yang tak terjelaskan dalam jiwanya. Dia bahagia tetapi tidak merasa bahagia. Dia sudah mencoba mencari bantuan profesional, tetapi tak ada yang bisa menghilangkan kegusarannya. Sampai saat pekerjaan mempertemukannya kembali dengan mantan kekasihnya, dia terlibat dalam hubungan terlarang yang membangkitkan kembali apa yang terkubur dalam jiwanya.

Saya rasa, ada Linda dalam setiap diri kita, pada suatu episode hidup kita. Ada kalanya kita merasa tak pantas untuk mengeluh, menilik apa yang sudah kita miliki dan kita capai, tetapi jauh di kedalaman jiwa kita, ada lubang yang tak bisa kita abaikan begitu saja. Lubang yang kalaupun kita abaikan, pada akhirnya akan memakan jiwa kita perlahan. Ada sesuatu hal yang tidak bisa kita bagikan kepada orang lain, karena rasanya tak ada yang mengerti. Seperti Linda, dia berselingkuh bukan karena rumah tangganya bermasalah, bukan karena suaminya memiliki kekurangan, bukan karena pria lain lebih menarik, bukan karena prasangka apa pun yang bisa dipikirkan oleh orang lain.

Kau tidak memilih hidupmu, hiduplah yang memilih dirimu. Tidak ada gunanya bertanya mengapa kehidupan menahan suatu kebahagiaan atau kesedihan, kau hanya bisa menerimanya dan melanjutkan hidupmu.
Kita tidak dapat memilih hidup kita, tetapi kita dapat memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan kebahagiaan atau kesedihan yang kita dapatkan.
(p.103)

Bisa dikatakan, kita menghabiskan sebagian besar hidup kita untuk menyenangkan orang lain, hidup dengan standar yang ditentukan oleh masyarakat, menjaga citra diri kita agar sesuai dengan apa yang secara umum dianggap baik. Seringkali kita lupa untuk menanyakan pada diri kita, apa yang sebenarnya kita inginkan, apa yang kita butuhkan untuk ‘hidup’.

Mungkin mereka tidak memiliki kebutuhan untuk membuat orang lain terkesan. Aku memiliki kebutuhan itu, dan aku tidak dapat menolaknya, karena itu merupakan pengaruh baik dalam hidupku, terus mendorongku. Selama aku tidak mengambil risiko yang tidak perlu, tentu saja. Selama aku dapat menjaga duniaku tepat seperti sekarang ini. (p.83)

“Kita bukan orang yang semula kita inginkan. Kita adalah yang dituntut masyarakat. Kita adalah apa yang dipilih orangtua kita. Kita tidak ingin mengecewakan siapa pun; kita memiliki kebutuhan yang besar untuk dicintai. Jadi kita menutupi sisi terbaik diri kita. Perlahan-lahan, cahaya impian kita berubah menjadi monster dalam mimpi-mimpi buruk. Mereka menjadi hal-hal yang tidak dilakukan, kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita jalankan.” (p.165)

Saya pribadi sebenarnya tidak merasakan keterikatan dengan karakter Linda dan konfliknya. Saya tidak suka dengan pandangan hidup Linda serta bagaimana dia mengambil pilihan. Banyak ide-ide penulis yang tidak saya sepakati. Meski begitu, penulis berhasil menyampaikan ide-ide universal mengenai hidup melalui kehidupan Linda. Melalui Linda, saya sadar bahwa terkadang kita merasa mengerti sesuatu yang belum pernah kita alami, padahal sesungguhnya tidak. Melalui kegagalannya dalam menemukan bantuan profesional menunjukkan bahwa mengecilkan masalah orang lain tidak akan memberikan penghiburan bagi mereka. Melalui pencarian dan penemuannya, saya belajar bahwa untuk merayakan hidup, sekali-sekali kita perlu juga untuk terpuruk.

Ketika kita memberikan segalanya, kita tidak dapat kehilangan apa-apa lagi. (p.311)

Setting dalam Buku

Juni : Setting dalam Buku

Juni : Setting dalam Buku

Linda adalah orang Swiss asli, dan buku ini mengambil setting di Jenewa. Penulis tak hanya menggunakan setting tempat ini sebagai sematan, tetapi dia juga menggambarkannya dengan cukup detail. Selain tempat, penulis menyinggung kebiasaan, gaya hidup, sampai kebudayaan orang Swiss yang kemungkinan hanya bisa dipahami oleh orang yang tinggal di Swiss. Bahkan karakter Linda ditunjukkan dengan kebanggaan yang alami sebagai warga Swiss.

Biarkan mereka percaya bahwa kami hanya memproduksi keju, cokelat, sapi, dan jam kukuk. Biarkan mereka percaya ada bank di setiap sudut jalan di Jenewa. Kami tidak berniat mengubah citra itu. Kami bahagia tanpa gerombolan orang-orang Barbar itu. Kami semua dipersenjatai dengan sangat lengkap (mengingat dinas militer merupakan kewajiban, setiap laki-laki Swiss menyimpan senjata di rumahnya), tetapi kau jarang mendengar seseorang menembak orang lain. (p.20)

Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga narator yang sekaligus karakter utama—Linda, sangat mengetahui apa yang dideskripsikannya. Jalanan kota, pergantian musim, cerita rakyat, sikap para warga negaranya, dan lain sebagainya, menjelma sebagai bagian yang utuh dari setting cerita ini. Saya pribadi tidak tahu pasti mengenai tingkat akurasinya, tetapi dari segi sinambungnya di dalam buku ini, saya rasa penulis telah melakukan riset dengan cukup baik.

4/5 bintang untuk jiwa yang (tak) tenang.

Review #23 for Lucky No.15 Reading Challenge category One Word Only!

Halaman Terakhir – Yudhi Herwibowo

halaman terakhirJudul : Halaman Terakhir : Sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng
Penulis : Yudhi Herwibowo (2015)
Penyunting : Miranda Harlan
Penerbit : Noura Books
Edisi : Cetakan I, Februari 2015
Format : Paperback, viii + 440 halaman

Yogyakarta di dekade ketiga pasca kemerdekaan menjadi saksi bisu atas kasus pemerkosaan yang dialami oleh Sumaryah, si penjual telur yang baru berusia 16 tahun. Jalanan di Jakarta tahun 1970an ikut menjadi saksi bisu atas mobil-mobil mewah yang tiba-tiba memenuhinya. Dan Mabak Polri (Markas Besar Kepolisian) saat itu, punya kisahnya sendiri.

Kasus Sumaryah terjadi pada suatu senja yang sepi. Saat sedang berjalan sendirian, gadis lugu itu dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil, dibius, dan digilir oleh tiga laki-laki di dalam mobil tersebut. Tidak ada saksi mata, hanya kelebatan ingatan Sumaryah saat sekali waktu dia tersadar, atau mungkin saat sedikit kesadarannya masih ada. Mulanya, kasus ini semacam kejahatan biasa, tetapi sejak Djaba Kresna, jurnalis harian Pelopor, mengangkat kasus ini dalam tulisan-tulisannya, serta menerbitkan dugaan-dugaan berikut investigasi amatirnya, kasus ini semakin ramai, hingga terdengar di Jakarta. Kesimpulan Kresna mengarah pada sebuah keluarga yang cukup berada, mengingat jenis mobil yang cukup mewah, serta deskripsi yang cocok dengan yang dikatakan oleh Sumaryah. Namun, kepolisian daerah dan pengadilan semacam mencari-cari celah tidak logis, serta menempatkan Sumaryah—yang notabene adalah korban—seperti penjahat itu sendiri. Hal ini semakin menguatkan adanya ‘permainan’ yang dilakukan untuk melindungi pihak-pihak tertentu. Oleh karena rumitnya kasus ini, Hoegeng sampai-sampai mengirim tim investigasi khusus dari Jakarta untuk membantu.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, Polri sedang meyelidiki kasus penyelundupan mobil-mobil mewah. Rangkaian penyelidikan panjang, penyamaran, hingga pengejaran sudah dilakukan dengan hasil yang cukup memuaskan. Akan tetapi, ternyata kejahatan beromset puluhan juta rupiah ini teramat kuat untuk ditangani sendirian. Banyak pihak yang sudah terlanjur terlibat, dari dalam maupun luar negeri, dari petugas rendahan hingga pejabat. Pihak-pihak inilah; pihak-pihak yang ingin melindungi dirinya, pihak-pihak yang tak ingin kehilangan pendapatan tambahan yang sangat besar, yang sulit untuk dihentikan karena proses hukum yang berjalan belum bisa menghentikan mereka. Tantangan ini tak bisa dihadapi dengan cara-cara yang biasa.

Dua kasus tersebut dipilih oleh penulis sebagai sarana untuk menceritakan kisah hidup Jenderal Polisi Hoegeng yang pada saat itu menjabat sebagai Kapolri. Hoegeng yang dikenal dengan kejujuran dan ketegasannya cukup tercermin dari caranya menangani kasus-kasus ini. Tak sebatas itu saja, penulis juga dengan lihai menyusun sekilas potret-potret penting dari perjalanan hidup Hoegeng, mulai dari masa kanak-kanaknya, perjalanan pendidikan dan karirnya, kehidupan pribadi, serta—yang utama—peranannya dalam kepolisian yang mengantarkannya menuju kursi Kapolri.

Cara penulisan buku ini cukup mudah diikuti, dengan bab-bab pendek, bahasa yang mengalir, ritme yang teratur, hingga tak memerlukan waktu lama bagi saya untuk menyelesaikannya. Walaupun bukan jenis buku yang kisahnya akan mengejutkan kita, sesekali terselip juga adegan-adegan seru seperti pengejaran yang digambarkan dengan detail, termasuk bagaimana cara penulis mengakhiri kisah ini cukup membuat saya ingin segera menyelesaikan membacanya, apalagi bagian sejarah ini cukup asing untuk saya. Ini bukan kali pertama saya membaca fiksi sejarah karya penulis, tetapi perasaan bahwa fakta-fakta sejarah ditampilkan dengan terlalu kaku masih ada, meskipun tak sebanyak yang sebelumnya.

Realita Sosial di Indonesia

Mei : Realita Sosial

Mei : Realita Sosial

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Orde Baru menyimpan kisah-kisah kebobrokan moral dan sosial di kalangan para pejabat. Buku ini menegaskan beberapa di antaranya; budaya suap-menyuap, KKN, sampai pada pembungkaman pers. Hoegeng sebagai karakter yang jujur termasuk sosok yang langka. Prinsipnya untuk menolak pemberian yang berpotensi sebagai suap, juga kehati-hatiannya dalam mengambil keputusan pribadi yang berpotensi sebagai penyalahgunaan jabatan, memaksa keluarganya untuk hidup sederhana.

“Menerima pemberian pertama itu seperti menaruh kuman di lengan. Akan terasa sedikit gatal, lantas kita akan menggaruknya pelan-pelan dengan rasa nikmat luar biasa. Makin sering dan makin banyak diterima, gatal itu akan semakin intens, menggaruknya pun harus semakin keras, hingga bernanah. Karena itu, jauhi kuman dan upayakan untuk jangan sampai menempel pada bagian tubuh kita. Uang akan membuat tubuh kita selalu gatal bagai luka korengan.” (hal.131)

Namun, keberadaan sosok semacam Hoegeng adalah duri dalam daging bagi pihak lain yang terlibat dalam ‘permainan kotor’ bisnis dan politik. Pencopotan Hoegeng sebagai Kapolri pada akhirnya tak lepas dari unsur tersebut. Realitas yang sampai saat ini tidak langka di negara kita, kejujuran seringkali dikalahkan oleh kewenangan dan kebiasaan, meskipun itu salah. Hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah, mentalitas menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, dan budaya yang mengagungkan hedonisme di atas harga diri.

Buku ini bisa jadi salah satu dari sekian buku yang merekam Indonesia di masa Orde Baru. Buku yang menunjukkan sekelumit alasan mengapa kekuasaan yang berlangsung selama 32 tahun menghasilkan masalah yang masih dialami sampai sekarang. Meski tidak secara terang-terangan mengkritik pemerintahan Presiden Soeharto pada masa itu, buku ini memberi petunjuk-petunjuk kecil tentang apa yang mungkin luput dari pengetahuan masyarakat kala itu. Apalagi sebagian besar masalah itu sudah berakar sejak zaman penjajahan, dan dipupuk sampai sekarang.

4/5 bintang untuk Jenderal Polisi yang layak dijadikan panutan dan sepaket kritik sosial yang halus.

Review #19 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

logo reading challenge-jpg

The Dream – Émile Zola

Title : The Dream (Le Rêve)
Author : Émile Zola (1888)
Translator: Eliza E. Chase
Publisher : Project Gutenberg
Edition : April 27, 2006 [EBook #9499], Last Updated: November 10, 2012
Format : ebook

Everything is only a dream.

Angelique ditemukan oleh pasangan Hubert dan Hubertine pada usia 9 tahun, dalam keadaan kedinginan dan kelaparan. Hubert berasal dari keluarga penyulam untuk keperluan gereja dari generasi ke generasi. Kasihan melihat gadis yatim piatu itu, pasangan Hubert memutuskan untuk menjadikannya pekerja magang dan memberinya tempat di rumah yang berbatasan langsung dengan katedral itu. Angelique terbukti menjadi sangat berguna bagi pasangan yang belum dikaruniai keturunan tersebut, terlepas dari beberapa kelakuannya yang sulit dijelaskan. Dia tumbuh menjadi remaja yang terampil, pekerja keras, juga seorang pemimpi.

Angelique was a firm believer in miracles. In her ignorance she lived surrounded by wonders. The rising of the stars, or the opening of a violet; each fact was a surprise to her. It would have appeared to her simply ridiculous to have imagined the world so mechanical as to be governed by fixed laws.

Salah satu mimpinya yang mengganggu Hubertine adalah bahwa suatu saat dia akan menikah dengan seorang pangeran, yang akan membawanya ke istananya, meningkatkan derajatnya, dan memberinya harta yang berkelimpahan. Mimpi-mimpi Angelique ini dibangun dari buku yang menjadi favoritnya sejak kecil, The Golden Legend, yang ditemukannya di perpustakaan Hubert. Buku itu bercerita tentang para martir, orang-orang suci, dan sejarah serta legenda tentang mereka. Angelique sangat terinspirasi oleh mereka, dan menjadikan orang-orang suci itu panutan dalam menjalani hidup. Dia bahkan semacam bisa merasakan kehadiran mereka sebagai penuntun jalannya.

Namun, Hubertine tidak menyukai mimpi dan imajinasi yang disimpan oleh gadis yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri itu. Dia menganggapnya sebagai sebuah bentuk pemberontakan terhadap apa yang sudah diberikan oleh Tuhan, dan menjauhkannya dari kerasnya realitas kehidupan. Meski begitu, mimpi sudah menjadi bagian dari kehidupan Angelique, sesuatu yang tak akan bisa dihapuskannya, karena jauh di dalam lubuk hatinya, dia yakin orang-orang suci yang menuntunnya itu mengatakan hal yang sama.

The “Golden Legend” had taught her this: Was not it true that the miracle is really the common law, and follows the natural course of events? It exists, is active, works with an extreme facility on every occasion, multiplies itself, spreads itself out, overflows even uselessly, as if for the pleasure of contradicting the self-evident rules of Nature.

Mimpi Angelique seolah menjadi nyata saat pada usia 16 tahun, dia bertemu dengan seorang pelukis kaca yang sedang menggarap renovasi untuk katedral. Hatinya merasakan sebuah getaran yang berbeda saat melihat Felicien, pemuda berusia 20 tahun itu. Keduanya saling jatuh cinta, tetapi ternyata cinta saja tidak cukup. Status sosial dan latar belakang keluarga menghalangi mereka untuk bersatu.

“But alas! my dear child, happiness is only found in obedience and in humility. For one little hour of passion, or of pride, we sometimes are obliged to suffer all our lives. If you wish to be contented on this earth, be submissive, be ready to renounce and give up everything.”

Berbeda dari karya Zola yang pernah saya baca sebelumnya, buku ini diwarnai oleh hal-hal supranatural—yang merupakan perwujudan dari keyakinan, kisah romansa yang meski sulit tetap manis, dongeng, dan mimpi. Karakter Angelique yang pada mulanya samar-samar, berkembang menjadi nyaris sempurna. Kehidupan dan lingkungan yang ditinggalinya nyaris ideal karena didasari pada tradisi agama. Konflik yang dibangun juga tak menunjukkan kegelapan jiwa manusia, tetapi lebih kepada pengabdian dan penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan, apa pun konsekuensinya, termasuk penderitaan dan kematian.

Konflik yang diangkat hanya seputar Angelique dengan mimpinya. Segala sesuatunya seperti berjalan sesuai dengan yang diharapkannya, bahkan tentang Felicien. Saya tidak begitu menikmati konflik batin para karakternya, segala hal tentang kegalauan cinta dan dinamika klisenya tidak menarik saya. Namun demikian, Zola masih menyuguhkan kekuatan deskripsinya dalam buku ini. Penggambarannya mengenai arsitektur kota, pemandangan musim semi, bahkan sampai pada teknik penyulaman pada masa itu sangat apik dan membuatnya mudah dibayangkan.

Akhir ceritanya sebenarnya mudah saja ditebak. Penulis tidak menutup-nutupi fakta apa yang akan terjadi sejak pembukaan bab terakhir. Namun, ternyata yang digambarkannya jauh lebih dahsyat dari tebakan saya. Penulis tidak membuat scene yang meletup-letup atau kejadian yang membuat emosi meledak-ledak. Mungkin bagi sebagian orang yang romantis akan menganggap scene terakhir itu indah, tetapi bagi saya, yang jauh lebih indah adalah kesederhanaan pengungkapan dan pemilihan kata-katanya yang memberikan efek tersendiri untuk sebuah scene setragis itu (walaupun akhirnya bahagia juga).

Was she herself only an illusion, and would she suddenly disappear some day and vanish into nothingness?

Hubungan saya dengan mimpi

April : Hubungan dengan Pembaca

April : Hubungan dengan Pembaca

Saya pribadi percaya dengan kekuatan mimpi, baik itu karena kekuatan yang akan ditimbulkan alam bawah sadar kita untuk mencapainya, pun termasuk Kekuatan Agung yang menentukan kejadiannya. Saya merasa terhubung dengan karakter Angelique dari sisi ini. Namun, di sisi lain, saya merasa jauh dari mengerti mengenai pengorbanan perasaan yang dilakukannya. Di luar masalah keimanan, saya tak bisa membuat diri saya menderita karena cinta seperti yang dilakukan oleh Angelique. Mungkin, karena memang belum ada sosok Felicien yang layak untuk diperjuangkan sebesar itu. Bagi saya pribadi, mimpi perlu diperjuangkan, dan bukan semata didapatkan dari sikap submisif dan penyerahan diri semata. Penyerahan diri baru dilakukan setelah segala usaha maksimal dilakukan dan juga melalui pengharapan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Pada bagian klimaks, ada sebuah pertentangan batin yang saya rasa sangat terhubung dengan pemimpi; godaan untuk mencapai mimpi dengan cara yang salah, atau melakukan sesuatu yang benar meski harus kehilangan satu kesempatan. Di titik ini, ada momen yang digambarkan Zola sebagai sebuah kontak metafisik, tetapi dapat juga saya artikan sebagai suara hati nurani—untuk lebih universalnya. Terkadang, kita mungkin sering mencari pembenaran atas tindakan kita dengan mencari kesalahan orang lain. Bagaimanapun, mungkin ada cara lain yang lebih baik, setidaknya itulah yang dialami oleh Angelique.

“The faults of others will not excuse our own.”

Jadi sebenarnya buku ini agak menimbulkan perasaan terbelah. Di satu sisi, saya sangat menyukai tema besarnya, yaitu mimpi. Di sisi lain, saya tidak merasa terhubung dengan hal-hal pembangun kisah ini. 3/5 bintang untuk dongeng a la Zola.

zoladdiction-2015-button

Serba-Serbi Plot

Februari : Karakter Tokoh Utama

Maret : Plot

Topik opini bareng BBI bulan Maret ini cukup menantang, tentang alur cerita atau plot. Sebenarnya, alur cerita tidak sama dengan plot, tetapi saya memutuskan untuk membahas tentang plot saja. Dua bulan berturut-turut, saya membuat post opini yang terintegrasi dalam review. Untuk bulan ini, karena pengetahuan saya tentang alur maupun plot masih sangat minim, maka saya mencari-cari berbagai referensi dan merangkumnya dalam post ini. Contoh-contoh buku yang saya gunakan hampir semua sudah direview di blog ini, silakan mencari reviewnya dengan mengetikkan judul buku di kolom search.

Menurut Christopher Booker (sumber), ada 7 plot dasar yang biasanya digunakan dalam cerita. Jadi, mau dibuat seperti apa pun, pada dasarnya akan kembali pada plot dasar berikut:

  1. Overcoming the monster; protagonis melawan antagonis yang menjadi ancaman. Tujuan utamanya adalah mengalahkan antagonis, ceritanya berpusat pada perjuangan sang protagonis.
    Contoh: Dracula, Harry Potter and the Chamber of Secrets.
  2. Rags to riches; protagonis berusaha meraih sesuatu, baik itu harta, kejayaan, atau ambisi yang lain. Kemungkinan sang protagonis akan mengalami krisis saat telah mencapai keinginannya, yang menjadikannya karakter yang lebih baik.
    Contoh: Cinderella, Oliver Twist.
  3. Quest; protagonis mengalami perjalanan untuk mendapatkan sesuatu. Tujuannya ada di akhir perjalanan.
    Contoh: The Lord of the Rings, Harry Potter and the Deadly Hallows.
  4. Voyage and return; protagonis masuk ke dunia yang baru/asing, tetapi mengalami ancaman/kesulitan sehingga memutuskan untuk kembali ke tempatnya berasal. Di akhir cerita, protagonis mendapatkan pengalaman.
    Contoh: Alice’s Adventures in Wonderland, Coraline.
  5. Comedy; mengacu pada akhir yang bahagia, atau mencapai keberhasilan.
    Contoh: As You Like It, The Importance of Being Earnest
  6. Tragedy; akhir yang tidak menyenangkan atau tidak sesuai harapan. Atau bisa juga protagonis berperan sebagai karakter jahat, sehingga kematiannya merupakan akhir yang terbaik.
    Contoh: Romeo and Juliet, The Picture of Dorian Gray.
  7. Rebirth; protagonis yang jahat kemudian berubah menjadi baik, atau protagonis yang terjebak dalam bahaya atau di ambang kehancuran, kemudian diselamatkan.
    Contoh: The Secret Garden, Sleeping Beauty.

Glen C. Strathy menambahkan dua kategori lagi (sumber), yang tidak dimasukkan Booker:

8. Mystery; adanya orang luar yang berusaha memecahkan misteri/masalah.
Contoh: karya-karya Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie.
9. Rebellion against ‘the one’; perjuangan protagonis untuk memberontak dari penguasa. Perjuangannya bisa berhasil atau tidak.
Contoh: 1984, The Hunger Games.

Pembagian 7 plot dasar (atau 9), ternyata masih terlalu umum dan luas. Ada yang mengkategorikannya secara berbeda, bahkan sampai 36 macam (di sini). Bahkan tidak sedikit yang menentang pembagian ini, yang dinilai membatasi apresiasi sastra.

Menurut saya, pembagian yang sudah disusun ini pengaplikasiannya ke dalam suatu karya sastra mungkin tidak sesederhana itu. Bisa jadi sebuah cerita merupakan perpaduan antara 2 atau 3 plot dasar di atas, dengan kadarnya masing-masing. Atau mungkin bisa juga kita menganggap bahwa ‘monster’ tidak harus berupa makhluk jahat yang jelas nyata, perjalanan bisa jadi berbeda bentuknya pada era yang lebih modern.

Plot-plot dasar yang sudah saya cuplik di atas pada prinsipnya memiliki pola yang sama, yang secara lebih terperinci dibagi menjadi: (sumber)

  1. Foreshadowing; pengenalan cerita.
  2. Suspense; ketegangan akan sesuatu yang belum diketahui.
  3. Conflict; pertentangan/masalah dari pihak yang berlawanan.
  4. Exposition; latar belakang kisah, tentang setting, karakter, plot.
  5. Rising Action; pembangunan masalah/konflik utama.
  6. Crisis; titik balik kisah yang penting dan menentukan akhir cerita.
  7. Resolution/Denouement; penyelesaian kisah.
"Freytag's pyramid" (sumber)

“Freytag’s pyramid” (sumber)

Piramida Freytag ini pada pengaplikasiannya bisa saja tidak simetris seperti itu. Kebanyakan kisah (terutama mystery) memiliki penyelesaian yang relatif cepat, sehingga struktur piramidanya akan condong ke kanan. Misalnya saja Sharp Objects yang penyelesaiannya dirangkum dalam satu bab terakhir saja.

Setelah memahami plotnya, selanjutnya akan lebih mudah untuk membawa alur cerita sesuai dengan keinginan penulis. Beberapa teknik menciptakan alur cerita yang berhubungan dengan plot, di antaranya: (sumber)

  • Backstory, menceritakan kejadian sebelum kisah yang sedang diceritakan
  • Flashback, kembali ke permulaan kisah.
  • Flashforward, melompat ke masa mendatang/selanjutnya.
  • Foreshadowing, memberi petunjuk tentang kejadian yang akan terjadi pada bagian selanjutnya.
  • Frame story/story within a story, ada kisah utama dan ada kisah lain yang berhubungan dengannya.
  • Narrative hook, pembuka yang membuat pembaca penasaran.
  • Plot twist, perubahan plot yang tidak terduga.
  • Red herring, mengalihkan perhatian dari sesuatu yang penting.
  • dll (see more)

Teknik-teknik di atas biasanya dikombinasi untuk menciptakan sebuah kisah utuh yang bisa dinikmati, membuat penasaran, sekaligus menyampaikan dengan baik apa yang hendak diutarakan oleh penulisnya. Salah satu kisah dengan alur unik adalah If on a winter’s night a traveller, yang di dalamnya–paling mencolok–terdapat story within a story, yang terkadang berfungsi sebagai red herring, juga terdapat beberapa plot twist. Dalam plot dasar, saya cenderung mengkategorikannya sebagai voyage and return–walaupun tidak sesuai dengan definisi konvensionalnya.

Berbeda halnya dengan The Old Man and the Sea yang sama-sama memiliki plot dasar voyage and return, hampir tidak ada plot twist di sini. Alur kisahnya berjalan sesuai dengan piramida Freytag, mungkin dengan sedikit foreshadowing dan backstory untuk memperkaya narasinya.

Sekian hasil riset kecil-kecilan saya. Semoga bermanfaat, dan jika ada kekeliruan, jangan ragu untuk memberikan koreksi. Kalau kalian, adakah buku yang kalian baca memiliki plot yang unik?