Tag Archives: Opini Bareng BBI 2015

(Some) Tales Collection – Beatrix Potter

Contents:

The Tale of Squirrel Nutkin (1903, Frederick Warne & Co)
The Tale of Two Bad Mice (1904)
The Tale of Mrs. Tiggy-Winkle (1905, Frederick Warne & Co)
The Tale of the Pie and the Patty-Pan (1905, Frederick Warne & Co)
The Tale of Mr. Jeremy Fisher (1906, Frederick Warne & Co)
The Story of Miss Moppet (1906, Frederick Warne & Co)
The Tale of Jemima Puddle-Duck (1908, Frederick Warne & Co)
The Tale of Samuel Whiskers, or The Roly-Poly Pudding (1908, Project Gutenberg EBook #15575)
The Tale of Ginger and Pickles (1909, Project Gutenberg Ebook #14877)
The Tale of Johnny Town-Mouse (1918, Project Gutenberg EBook #15284)

Februari : Karakter Tokoh Utama

Februari : Karakter Tokoh Utama

Beatrix Potter adalah salah satu penulis sekaligus ilustrator kisah anak yang paling dikenal. Berbicara tentang karakter tokoh utama, hampir semua karakter yang digunakan oleh Beatrix Potter mencerminkan masalah anak-anak; kenakalan, kebingungan, adaptasi, dan lain sebagainya, dengan menggunakan hewan. Hewan yang digunakan pun bervariasi. Salah satu karakter yang menjadi tanda pengenalnya adalah Peter Rabbit si kelinci, yang muncul dalam beberapa kisahnya, termasuk The Tale of Peter Rabbit dan The Tale of Benjamin Bunny.

Namun, ternyata Potter tidak hanya menggunakan kelinci yang identik dengan lucu untuk karakter-karakter utamanya, ada kucing, tikus, bebek, bahkan katak, yang jauh dari kesan menyenangkan untuk dijadikan dongeng.

Squirrel Nutkin

Squirrel Nutkin

Dalam The Tale of Squirrel Nutkin, ada Nutkin si tupai yang tidak disukai karena tidak menghormati tokoh yang dituakan, serta tidak ikut bekerja sebagaimana penduduk lainnya. Tokoh yang dituakan tersebut adalah Old Brown si burung hantu, yang ‘menguasai’ pulau tempat tupai-tupai mengumpulkan makanan pada musim tertentu, dengan membawa ‘sesaji’. Hubungan keduanya dikisahkan secara menarik dalam kisah ini, melalui teka-teki yang dilontarkan Nutkin dan sikap diam Old Brown yang berwibawa, yang membuat saya bertanya-tanya apa yang dipikirkan Old Brown. Di akhir kisah, ada perubahan pada Nutkin, tetapi saya masih tidak yakin dengan pesan kisah ini. Mungkin kisah ini adalah salah satu yang menarik untuk dibaca berulang-ulang, demi menemukan pesan tersembunyi dalam teka-teki Nutkin.

Sebagaimana judulnya, The Tale of Two Bad Mice mengisahkan dua tikus nakal yang mengacak-acak rumah boneka karena tergiur oleh makanan enak yang disajikan di sana. Kegagalan untuk menikmati makanan tersebut, dilanjutkan kegagalan untuk menemukan kenyamanan di rumah itu menimbulkan kemarahan sesaat yang membuat mereka melakukan hal-hal buruk. Sebenarnya lucu juga dua tikus itu kecewa dengan apa yang mereka temukan di rumah boneka. Namun, kata penulis, sebenarnya mereka tidak terlalu nakal. Pada akhirnya mereka ‘membayar’ kekacauan yang mereka buat. Meski saya pribadi lebih suka kalau mereka meminta maaf secara langsung. Sayangnya, dua boneka penghuni rumah tersebut tidak diceritakan lebih banyak, padahal sepertinya ada sisi menarik yang bisa dieksplorasi.

Tiggy-Winkle

Tiggy-Winkle

The Tale of Tiggy-Winkle masih memiliki karakter hewan, tetapi yang sedikit berbeda di sini adalah bahwa karakter utamanya adalah manusia. Mengisahkan petualangan seorang gadis bernama Lucie, mencari sapu tangannya yang (selalu) hilang. Saya suka gambar dan deskripsi saat Lucie menaiki bukit untuk mencari sapu tangannya, pemandangannya digambarkan dengan indah. Kemudian saat Lucie bertemu Mrs. Tiggy-Winkle, buku ini memperkenalkan beberapa macam jenis pakaian. Cara yang asyik untuk belajar bagi anak-anak yang sudah mulai bosan dengan buku bergambar biasa yang tanpa cerita. Kalimat-kalimat Lucie, dialognya dengan hewan-hewan dan Mrs. Tiggy-Winkle sangat manis. Di sini juga sekali disebut nama Peter Rabbit dan Benjamin Bunny. Akhirnya juga menjadi favorit saya, mengajak pembaca untuk berimajinasi tentang apa yang terjadi pada Lucie dan Mrs. Tiggy-Winkle yang sesungguhnya. Apakah petualangan Lucie—yang manusia,bersama Mrs. Tiggy-Winkle—yang tidak tampak seperti manusia, itu nyata?

Dalam The Tale of the Pie and the Patty-Pan, Potter menyoroti hubungan kucing dengan anjing. Bagaimana jika seekor kucing mengundang anjing ke pestanya. Dengan bangga, kucing mempersembahkan pie tikus terbaiknya untuk sang tamu, sedangkan si anjing mati-matian berusaha agar tak memakan tikus tanpa memberi tahu si tuan rumah. Yang terjadi adalah kesalahpahaman konyol yang seharusnya dapat diselesaikan dengan satu kalimat baik-baik. Kisah ini bagai perjalanan panjang dengan ketegangan-ketegangan kecil yang mungkin ditunggu-tunggu. Hingga pada akhirnya, kucing dan anjing sepertinya memang tidak akan rukun.

Jeremy Fisher

Jeremy Fisher

Karakter katak muncul dalam The Tale of Mr. Jeremy Fisher. Jeremy, sang katak, mengajak kita ke suasana persiapan piknik, yang meski tak berjalan dengan lancar, toh akhirnya tetap piknik juga. Pada setiap piknik pasti melibatkan makanan, dan makanan Jeremy, mungkin bisa ditebak sejenis apa saja. Jadi bagi yang bukan ‘pemakan segala’, bersiap-siap saja, menu Jeremy mungkin sedikit tidak mengundang selera.

Selain petualangan Lucie, di antara kisah yang saya sebutkan di sini, terfavorit saya adalah The Story of Miss Moppet. Kisah ini pendek saja, sangat pendek, lucu dan sederhana. Kisah ini melibatkan Miss Moppet si kucing, dengan tikus kecil. Pesan moral yang digambarkan dalam cerita sederhana ini tidak terlalu muluk tetapi sangat menggambarkan kehidupan. Dari sini saya merasa bahwa Potter menunjukkan betapa dalam hidup ini ada dua sisi yang tidak selalu benar atau salah, ada sesuatu yang hanya bisa dimaklumi saja, sesuatu yang sudah merupakan hukum alam dan bawaan dari karakter masing-masing.

Miss Moppet

Miss Moppet

Jemima Puddle-Duck

Jemima Puddle-Duck

The Tale of Jemima Puddle-Duck menyuguhkan kisah yang relatif agak panjang, dengan kosa kata yang lumayan banyak. Jemima si bebek sebenarnya punya niat yang baik untuk merawat telur-telurnya, dan berusaha mewujudkan dengan usahanya sendiri. Namun, dia jadi kurang waspada dan justru berakhir dengan kurang baik. Karakter Jemima di sini memang digambarkan sebagai bebek yang ceroboh dan kurang cerdik. Niat yang baik sepertinya harus didukung dengan kemampuan yang baik juga.

The Tale of Samuel Whiskers, or The Roly-Poly Pudding ini agak sedikit absurd, setidaknya paling absurd di antara yang sudah saya sebutkan. Tentang seekor anak kucing yang hendak dimangsa tikus besar (rat), sebuah rantai makanan yang tidak wajar. Si anak kucing yang nakal dan tidak menuruti orang tuanya, tiba-tiba menghilang entah ke mana, dan ternyata masuk ke sarang tikus. Roly-poly pudding sudah hampir siap ketika ada aksi heroik dari seekor anjing. Kisah ini agak panjang, tapi tetap dengan bahasa sesederhana cerita-cerita yang lebih pendek. Penyelesaiannya juga cukup mengena.

Roly-Poly Pudding

Roly-Poly Pudding

Dalam The Tale of Ginger and Pickles, ada kucing dan anjing yang mengelola sebuah toko bersama-sama, juga disebutkan karakter jenis lain yang merupakan pesaing mereka. Masalah timbul karena pelanggan mereka yang terkadang terlihat ‘lezat’, karena berasal dari berbagai spesies penghuni daerah itu, juga karena keduanya terlalu baik memberikan kredit.

Now the meaning of “credit” is this—when a costumer buys a bar of soap, instead of the customer pulling out a purse and paying for it—she says she will pay another time.

Kisah ini agak nanggung jika dilihat dari sisi masalah ekonomi di daerah itu. Penyelesaiannya juga kurang mantap. Intinya, memang ketiadaan tanggung jawab bisa merugikan orang lain. Namun, mengapa orang-orang (atau boneka-boneka dan hewan-hewan lain) yang tidak bertanggung jawab itu rasanya tetap tenang-tenang saja?

Judul The Tale of Johnny Town-Mouse agak kurang cocok menurut saya, karena Johnny lebih sebagai pelengkap dalam kisah ini. Karakter utama dalam cerita ini adalah Timmy Willie, seekor tikus desa yang terbawa ke kota. Dia bertemu para tikus kota, salah satunya Johnny, yang menjamunya dengan baik. Sayangnya, tak ada tempat seindah rumah, Timmy tidak betah dan memutuskan pulang ke desa. Lama berselang, Johnny melakukan kunjungan balik, dan sekali lagi, tak ada tempat seindah rumah.

Johnny Town-Mouse

Johnny Town-Mouse

Desa dan kota adalah dua tempat yang sangat berbeda, dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun bagi penghuni asli, rumah adalah tempat paling nyaman. Dalam kasus ini, Beatrix Potter menyatakan bahwa rumahnya adalah di pedesaan.

“One place suits one person, another place suits another person. For my part I prefer to live in the country, like Timmy Willie.”

Ceritanya dibawakan dengan cantik, secantik ilustrasi yang menghiasinya.

Sepuluh kisah dari Beatrix Potter ini sedikit banyak menunjukkan bahwa dia tidak membuat sebuah citra yang khas bagi karakter-karakter hewannya. Meski ada tikus yang nakal, bukan berarti semua tikus nakal, ada Timmy Willie dan Johnny Town-Mouse yang baik, ada juga Samuel Whiskers yang kejam. Ada kucing dan anjing yang tidak rukun, tetapi ada juga yang bisa bekerja sama.

Yang pasti, kekayaan karakter Potter sangat terlihat. Mulai dari jenis spesies karakter tersebut, hingga sifat-sifat dan masalah mereka. Sederhana, tetapi sangat rapi dan mengesankan.

Review #15 of Children’s Literature Reading Project

Lola Rose – Jacqueline Wilson

re_buku_picture_80523Title : Lola Rose
Author : Jacqueline Wilson (2003)
Illustrator : Nick Sharratt
Translator : Poppy Damayanti Chusfani
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, April 2007
Format : Paperback, 304 pages

Ayah Jayni suka memukul. Mulanya dia tampak sangat menyayangi keluarganya; Mum, dirinya, dan Kenny, adiknya. Namun begitu cepat suasana hatinya berubah, dia bisa menjadi monster dalam keluarga, mabuk, bertengkar, dan memukuli Mum. Kenny yang baru berusia lima tahun tidak memahami hal ini, dia memandang ayahnya sebagai jagoannya dan mendengarkan apa katanya. Sedangkan Jayni yang sudah berusia praremaja gusar dengan kondisi keluarganya yang rapuh, hingga suatu saat dia melawan, kemudian untuk pertama kalinya, Dad memukulnya juga.

Mum baru memperoleh uang yang banyak dari lotre, mereka bertiga kabur dari rumah, menjauh sejauh-jauhnya dari Dad. Tujuan mereka adalah London, mereka memulai kehidupan baru dengan nama baru. Kenny menjadi Kendall. Jayni mengganti namanya dengan Lola Rose, berharap menjadi dewasa dan sekeren model yang ada di buku klipingnya. Tetapi masalah tidak pergi dari kehidupan mereka. Mulanya Jake, pacar Mum yang tidak disukainya. Kemudian penyakit Mum, dan bayangan Dad yang tidak pernah pergi dari hidup mereka.

Tema yang cukup berat untuk sebuah buku anak ini berhasil diramu penulis dengan apik. Meski berat dan suram, buku ini tak kehilangan sisi terangnya sebagai buku anak. Ada masa-masa indah, ada harapan, ada cinta tulus, mungkin itulah yang diperlukan, keyakinan bahwa pada akhirnya, segalanya akan baik-baik saja.

Karakter Tokoh Utama

Lola Rose mungkin bersikap lebih dewasa dari usianya karena tuntutan keadaan. Ayahnya yang bertemperamen kasar, beberapa kali masuk penjara, dan selalu menyiksa ibunya, menyalakan alarmnya ketika dia ada di rumah. Sementara ibunya sendiri terlalu lemah di hadapan ayahnya, entah cinta, entah kebodohan—tampaknya keduanya tak jauh berbeda, mengingat usia ibunya masih sangat belia ketika mengandungnya (16 tahun). Dalam kondisi keluarga yang sulit ini, Lola Rose yang harus berperan sebagai ibu bagi Kendall dan ibunya sekaligus. Lola Rose yang mengingatkan ibunya saat lupa diri, menghabiskan uang lotre untuk berfoya-foya, tidak memikirkan bagaimana besok. Lola Rose juga yang menenangkan ibunya saat gelisah dan ketakutan, serta melindungi keluarganya sebisa mungkin, dengan cara yang bisa dipikirkan seorang anak kelas enam. Bisa jadi, karakter Lola Rose tak akan sekuat dan sedewasa ini jika ibunya jauh lebih bijaksana.

Di balik sikap dewasanya, Lola Rose tetaplah seorang anak. Di masa-masa menjelang remaja, dia mulai mengkhawatirkan bentuk tubuhnya, memiliki teman dekat, berurusan dengan anak laki-laki, menginginkan perhatian, menginginkan rasa aman, merindukan sebuah keluarga yang utuh dan normal.

Aku menemani Kendall tidur. Aku menemani Mum tidur. Aku ingin seseorang datang dan menemaniku tidur. (p.223)

Menurut saya, Lola Rose bukan karakter yang utopis. Mungkin saja ada banyak Lola Rose lain di luar sana, yang terpaksa menjadi lebih dewasa dari umurnya demi mempertahankan sebuah keluarga. Bahkan pada wanita dewasa, sekuat dan semandiri apa pun, pada suatu saat akan selalu ada perasaan ingin dilindungi.

Februari : Karakter Tokoh Utama

Februari : Karakter Tokoh Utama

Buku ini memiliki konflik yang padat, susul-menyusul dan tak berhenti sampai buku ini berakhir. Tidak melulu dipenuhi masalah, ada kalanya mereka bersenang-senang, berusaha melupakan masalah, dan tampak dapat hidup wajar dan normal sebelum masalah berikutnya datang. Pada mulanya, konflik keluarganya cukup bisa dimengerti, tetapi lama-kelamaan, sesuatu tentang penyakit Mum tampak agak dipaksakan. Akhirnya pun terkesan terburu-buru. Meski begitu, lebih dari setengah buku ini sangat bisa dinikmati.

4/5 bintang untuk putri sang Dewi Fortuna.

Review #13 of Children’s Literature Reading Project

Review #5 for Lucky No.15 Reading Challenge category Bargain All The Way

How I Live Now – Meg Rosoff

how i live nowTitle : How I Live Now
Author : Meg Rosoff (2004)

Which one would you choose, the rock or the hard place?

Ibu Daisy meninggal setelah melahirkannya, kenyataan yang membuat hidupnya selama lima belas tahun dibayang-bayangi oleh ketidaknyamanan antara dirinya dengan ayah maupun ibu tirinya, salah satunya. Saat memutuskan untuk mengunjungi saudari ibunya, bibi Penn, di London, takdir membawanya pada empat saudara sepupu yang akan mengubah caranya memandang kehidupan. Ada Osbert, yang tertua, Isaac dan Edmond yang kembar, serta perempuan satu-satunya, Piper.

Keempat kakak-beradik ini terbiasa hidup mandiri karena ibu mereka harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga. Daisy yang selama lima belas tahun di Amerika tak pernah berkutat dengan kebun maupun ternak, kini belajar bersama para sepupunya. Tanpa diduga, perang berkecamuk, membuat bibi Penn yang sedang bertugas di luar negeri tertahan di bandara setempat. Kini, kelima anak itu harus bertahan hidup, tanpa orang tua, tanpa petugas pengantar makanan, tanpa bahan jadi yang bisa dibeli.

You don’t always get a chance to choose the kind of news you get.

Setting waktu kisah ini kurang begitu spesifik, yang jelas ini terjadi di masa modern, saat orang-orang biasa berkomunikasi dengan telepon kabel, ponsel dan email. Perang yang dimaksudkan juga tidak jelas antara siapa dengan siapa, pun seberapa luas area yang dipengaruhinya. Buku ini menyoroti Daisy beserta keempat saudara sepupunya dalam lingkup lokal. Sudut pandang penceritaan menggunakan sudut pandang orang pertama, melalui sudut pandang Daisy.

Konflik utama buku ini, seperti telah saya singgung di atas, adalah bagaimana cara mereka bertahan hidup. Daisy bersama keempat sepupunya di rumah sendirian, Daisy bersama Piper yang harus pergi tanpa tahu kondisi saudaranya yang lain, Daisy yang harus menjadi tumpuan Piper yang baru berusia sembilan tahun, kehilangan, kelaparan, kesakitan, kematian.

If you haven’t been in a war and are wondering how long it takes to get used to losing everything you think you need or love, I can tell you the answer is No time at all.

Konflik lain yang mungkin agak kontroversial adalah hubungan Daisy dengan Edmond. Keduanya saling menemukan rasa nyaman melalui hubungan yang bisa dikatakan sebagai romansa, untuk standar remaja belasan tahun. Meski tidak mendominasi cerita, tetapi rasa yang ditimbulkan sangat kuat. Edmond menjadi sumber kekuatan Daisy, sumber pelariannya saat membutuhkan rasa aman dan nyaman, dan pembaca dapat merasakannya dalam banyak bagian dalam buku ini.

I didn’t know if the food was poisoned. I didn’t know whether we’d get an infection and die. I didn’t know if a bomb would fall on us. I didn’t know whether Osbert would expose us to spores from some deadly disease picked up during his secret meetings. I didn’t know if we would be taken prisoner, tortured, murdered, raped, forced to confess or inform on our friends.
The only thing I knew for certain was that all around me was more life than I’d ever experienced in all the years I’d been on earth and as long as no one shut me in the barn away from Edmond at night I was safe.

Ekspektasi saya terhadap buku ini

Banner_OpiniBareng2015-300x187

Januari : Ekspektasi

Awalnya, saya tidak mengantisipasi kisah semacam ini. Ini adalah buku Meg Rosoff yang pertama saya baca, karena beberapa kali saya mendengar namanya diasosiasikan dengan karya yang bagus. Saya tidak memeriksa ulang genre dari buku ini saat membacanya, sehingga saya butuh beberapa waktu untuk menyadari bahwa ini adalah suatu perang yang belum terjadi, atau tidak pernah terjadi, atau, sebuah simbol. Kedua kalinya ekspektasi saya salah adalah karena saya mengira bahwa ini adalah kisah remaja ‘biasa’, sebuah kisah kehidupan atau kisah keluarga. Karena itulah saya merasa agak bosan saat di tengah-tengah kisah plot terasa sangat lambat.

Namun, penilaian saya akan jauh berbeda jika saya mengubah ekspektasi saya. Jika saya menyadari sejak awal bahwa buku ini menitikberatkan pada konflik interpersonal alih-alih konflik antarpersonal, mungkin saya akan lebih menikmatinya.

Every war has turning points, and every person too.

Ini adalah kisah tentang Daisy; hidupnya, pemikirannya, cara pandangnya, dan perubahannya. Dapat dikatakan bahwa perasaan sayang antar anggota keluarga secara utuh baru dirasakan Daisy di London. Rasa sayang yang membawa kehangatan, sekaligus penderitaan. Ini adalah kisah tentang Daisy yang dalam periode relatif singkat harus merasakan sekian banyak emosi, yang harus menghadapinya—pada akhirnya—seorang diri.

I was dying, of course, but then we all are. Every day, in perfect increments, I was dying of loss.

Saat melihat melalui sudut pandang yang berbeda, saya merasakan bahwa penceritaan Rosoff sangat menyentuh. Dialog dan narasinya sederhana, indah, sekaligus bermakna. Melalui kisah yang relatif singkat, penulis memotretkan banyak momen yang berkesan dan sangat kuat. Adegan-adegan kecil yang berefek besar, perasaan sederhana yang bermakna mendalam, itulah kekuatan dari buku ini.

Now we walk, and he talks to me sometimes, tells me the names of the plants we come across in the field. They’re hard to remember and there are too many of them, and the only ones I manage to keep in my head are the ones that saved my life.
Corylus avellana. Hazelnuts. Rubus fruticosus. Blackberries. Agaricus campestris. Field mushrooms. Rorippa nasturtium-aquaticum. Watercress. Allium ursinum. Wild garlic. Malus domestica. Apples.

Setelah ini, saya berniat membaca buku Meg Rosoff yang lain, dengan ekspektasi yang berbeda, atau tanpa ekspektasi apa-apa. Mungkin saya akan menemukan lebih banyak hal. 3.5/5 bintang untuk dua sisi perang.

Every war has its silver lining.

Review #1 for Lucky No.15 Reading Challenge category Who Are You Again?