Tag Archives: play

King Richard III – William Shakespeare

18416265Title : King Richard III
Author : William Shakespeare (1593)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : November, 1997 [Etext #1103]
Format : ebook

When clouds are seen, wise men put on their cloaks;
When great leaves fall, then winter is at hand;
When the sun sets, who doth not look for night?
Untimely storms make men expect a dearth.
All may be well; but, if God sort it so,
‘Tis more than we deserve or I expect.
(Act II, Scene 3)

Drama Shakespeare ini termasuk dalam kategori sejarah. Nama-nama dan kejadiannya memang berdasarkan sejarah, tetapi sejarah bergantung dari mana kita memandangnya. Jadi kisah King Richard III ini dapat saya katakan merupakan sejarah yang terekam pada masa drama ini ditulis.

Di permulaan drama ini, Richard adalah Duke of Gloucester. Inggris berada di bawah kekuasaan Edward IV—yang adalah kakak Richard—dari House of York. Pada masa itu, Inggris terbagi dua, York dan Lancaster. Oleh karena tidak puas dengan keadaan, Richard berambisi untuk menjadi raja. Ambisinya itu diwujudkan dengan cara-cara yang frontal dan nekat. Dia tak ragu-ragu menjebak dan membunuh orang-orang yang dianggapnya sebagai penghalang memperoleh mahkota kerajaan. Orang-orang terdekatnya, keluarga, teman, dan orang kepercayaannya pun tak luput dari kekejamannya.

Anehnya, segala kebencian yang muncul terhadap Richard atas kekejamannya tersebut pada suatu kali dapat berubah. Seperti saat dia melamar Lady Anne, yang suaminya terbunuh oleh tangannya, meski Anne jelas-jelas menolak dan sangat membencinya, pada akhirnya mulut manis Richard berhasil menjadikan Lady Anne sebagai istrinya. Kharisma Richard juga membuat beberapa orang loyal kepadanya, meski harus mengeksekusi orang-orang yang dianggap berkhianat terhadap raja mereka.

Dalam drama ini, kekejaman dan tirani Richard sangat dominan digambarkan. Namun, apakah yang menyebabkannya menjadi seorang raja berdarah dingin dan bertangan besi? Pada awal drama ini, monolog Richard menceritakan keadaannya, yang mungkin membentuk karakternya menjadi seperti yang diceritakan. Penampilannya yang tidak menarik, kelainan bentuk tubuh, dan kelemahannya mungkin pada mulanya menimbulkan rasa minder, tetapi tampaknya lambat laun menimbulkan suatu ambisi untuk menutupi kekurangan tersebut.

But I-that am not shap’d for sportive tricks,
Nor made to court an amorous looking-glass-
I-that am rudely stamp’d, and want love’s majesty
To strut before a wanton ambling nymph-
I-that am curtail’d of this fair proportion,
Cheated of feature by dissembling nature,
Deform’d, unfinish’d, sent before my time
Into this breathing world scarce half made up,
And that so lamely and unfashionable
(Act I, Scene 1)

Bahkan ibunya sendiri, Duchess of York, juga mengakui bahwa sejak kecil, Richard selalu bermasalah. Apakah ada diskriminasi yang diterima Richard saat kecil? Atau mungkin dia kekurangan perhatian yang semestinya atau diharapkannya didapat? Tampaknya menarik jika ada catatan sejarah yang menganalisis masa kecil Richard III ini.

Thou cam’st on earth to make the earth my hell.
A grievous burden was thy birth to me;
Tetchy and wayward was thy infancy;
Thy school-days frightful, desp’rate, wild, and furious;
Thy prime of manhood daring, bold, and venturous;
Thy age confirm’d, proud, subtle, sly, and bloody,
More mild, but yet more harmful-kind in hatred.
(Act IV, Scene 4)

Late 16th century portrait, housed in the National Portrait Gallery, London.

Seperti sudah saya singgung di atas, ada sisi positif Richard III yang tersirat drama ini, sisi yang menyebabkannya memiliki pengikut yang setia. Namun sayangnya, menurut saya, porsinya tak sebesar sisi negatifnya sebagai seorang raja bertangan besi. Meski begitu, pada beberapa bagian dapat terlihat bagaimana kekuatan kata-kata Richard untuk mempengaruhi orang lain.

Drama ini merupakan salah satu drama Shakespeare yang memiliki konflik yang sangat intens. Fokus utamanya tetap pada Richard dan bagaimana dia mencapai dan mempertahankan kekuasaannya, kemudian bagaimana orang-orang di sekitarnya—kawan, lawan, dan rakyat—memandangnya, menilainya dan menghakiminya. Act V scene 3 adalah salah satu scene favorit saya, karena pada scene tersebut kita ditunjukkan dua kubu yang akan berperang, Richard (mewakili York), dan Richmond (mewakili Lancaster). Di scene tersebut, saya bayangkan lampu-lampu panggung yang bergantian menyorot masing-masing kubu, karena meski dalam satu scene, tempat kejadiannya jauh dan keduanya belum saling bertemu.

4/5 bintang, God save the Queen.

Bad is the world; and all will come to nought,
When such ill dealing must be seen in thought.
(Act III, Scene 6)

November #2 : Angka dalam Judul Buku

 

The Speckled Band – Sir Arthur Conan Doyle [Play]

Title : The Speckled Band / The Stonor Case
Author : Sir Arthur Conan Doyle (1910)

Ini adalah versi drama dari cerpen The Adventure of the Speckled Band yang terdapat dalam kumpulan The Adventures of Sherlock Holmes. Dalam drama yang ditulisnya sendiri, penulis membuat beberapa perubahan yang cukup signifikan dalam alur dan penokohan, meski garis besar kasusnya tetap sama.

Drama ini terdiri dari tiga babak. Babak pertama dimulai dua tahun sebelumnya, saat Violet Stonor (Julia Stoner dalam cerpen) baru saja meninggal dunia. Di sini, Watson sendiri yang memeriksa mayat Violet karena dia telah mengenal kedua gadis Stonor dan ibunya saat di India. Kecurigaan sudah mulai muncul tanpa dugaan yang pasti, dan dia menyarankan saudari Violet, Enid Stonor (Helen Stoner dalam cerpen), untuk berhati-hati, dan menghubunginya jika ada sesuatu, juga untuk tak segan-segan berkonsultasi kepada kawannya di Baker Street, Sherlock Holmes. Pengadilan dilaksanakan dengan kesimpulan para juri mengarah kepada kematian mendadak yang normal, terkecuali seorang bernama Mr. Armitage yang mencurigai Dr. Rylott dengan segala gerak-geriknya yang sudah terkenal di desa tersebut.

Kasus ditutup, babak kedua menampilkan dua tahun kemudian—saat ini, Enid Stonor akan menikah dan Mr. Armitage kembali memperingatkannya akan sikap buruk yang diterima tunangannya beberapa waktu sebelumnya oleh ayah tirinya. Enid pun menemui Sherlock Holmes di London, dan petualangan Holmes dalam bentuk drama dimulai.

First play publication

Ini adalah drama karya Doyle pertama yang saya baca, dan kebetulan saya sudah membaca versi cerpennya terlebih dahulu. Meski ditulis oleh penulis yang sama, Doyle membuat alurnya sangat berbeda sehingga pembaca merasa membaca dua karya yang berbeda pula. Karakter Enid juga tak seperti Helen yang saya tangkap di cerpen. Dr. Rylott sama kejamnya dengan Dr. Roylott di cerpen, tetapi dengan berbagai wajah yang kadang ditampakkannya, kebaikan atau kehalusan yang kadang ditampakkan untuk meminta maaf pada Enid. Peran Watson di sini sedikit terlihat dominan karena dia yang lebih dulu dimunculkan dan tak berperan sebagai pencerita.

CORONER: Dear me, Doctor, you are very observant!
WATSON: I have a friend, sir, who trained me in such matters.
(Act I)

Perbedaan lain adalah, kemungkinan karena alasan durasi, ada tambahan beberapa detail, baik yang berhubungan dengan kasus Miss Stonor ataupun yang tidak berhubungan dengan kasus tersebut tetapi memberi pembaca (atau penonton) garis besar yang cukup tentang pekerjaan dan karakter Sherlock Holmes. Holmes ditunjukkan memiliki seorang pesuruh bernama Billy, dengan kasus-kasus ‘hebat’ yang ditanganinya.

WATSON: All right, I’ll wait. (Lights a cigarette and looks around him.) Just the same as ever. There are the old chemicals! Heavens! what have I not endured from those chemicals in the old days? Pistol practice on the wall. Quite so. I wonder if he still keeps tobacco in that Persian slipper? Yes, here it is. And his pipes in the coal- scuttle—black clays. Full of them—the same as ever. (Takes one out and smells it.) Faugh! Bottle of cocaine—Billy, Billy!
BILLY: I’ve done my best to break him of it, sir.
WATSON: All right, Billy, you can go.
(BILLY goes out.)
There’s the old violin—the same old violin, with one string left. (Sits on settee.)

(Act II, Scene II)

Sebenarnya setting waktu drama ini cukup lama menjelang pernikahan Watson, meski begitu dia sudah tidak tinggal di Baker Street. Sebelum didatangi oleh Enid Stonor, Holmes sempat menerima tiga klien—yang tidak diketahui Watson sebelumnya—yang menunjukkan rupa-rupa caranya menangani kasus. Kasus tersebut juga mengandung kemiripan dengan yang terdapat dalam buku Sherlock Holmes yang lain.

Secara umum, play ini dapat dibaca dengan cukup nikmat. Perubahan detail membuat ketegangannya tetap terasa. Meski begitu, bagian yang menurut saya paling seru, yaitu saat Holmes dan Watson menyelamatkan Miss Stonor digambarkan dengan sangat singkat.

4/5 bintang untuk Holmes yang lebih ‘beraksi’.

Romeo and Juliet – William Shakespeare

Romeo & JulietTitle : Romeo and Juliet
Author : William Shakespeare (1597)
Publisher : FeedBooks
Format : ebook

Love is a smoke raised with the fume of sighs;
Being purged, a fire sparkling in lovers’ eyes;
Being vex’d a sea nourish’d with lovers’ tears:
(Romeo, Act I Scene I)

Permusuhan keluarga Montague dan Capulet sudah mendarah daging. Maka ketika Romeo Montague yang baru saja patah hati disarankan untuk datang ke pesta keluarga Capulet, bisa dipastikan akan ada masalah. Sepupunya yang beranggapan bahwa Romeo bisa menemukan wanita baru di sana tidak menyangka bahwa yang mencuri hati Romeo adalah wanita yang terlarang untuknya, Juliet Capulet.

Romeo dan Juliet pun segera memutuskan untuk menikah secara diam-diam, demi kesucian cinta mereka. Namun belum sehari-semalam berlalu, Romeo terlibat masalah pembunuhan dan dendam nyawa Montague-Capulet. Dia akan diadili, dan terancam mendapatkan hukuman pengasingan. Seolah tak cukup masalah, perjodohan Juliet dipercepat, padahal dia sudah menikah dengan musuh keluarganya.

Saya rasa hampir semua sudah mengetahui plot kisah ini, juga bagaimana akhirnya. Namun mungkin tidak semuanya membaca dari versi asli yang ditulis oleh Shakespeare. Saya tidak memperhatikan variasi kisah pada berbagai adaptasi, yang jelas dalam versi Shakespeare, saya menangkap keindahan dalam tutur Romeo yang sangat kentara. Hal yang tak bisa kita lihat sepenuhnya dalam versi adaptasi.

Tak bisa dipungkiri, dalam drama Shakespeare pasti ada lubang di sana-sini, mungkin karena formatnya yang mengharuskan kisah kehidupan yang panjang agar selesai ditampilkan dalam beberapa jam. Semacam cinta instan antara Romeo dan Juliet, pun pernikahan mereka. Namun saya tidak merasa terlalu terganggu dengan itu.

ROMEO O, teach me how I should forget to think.
BENVOLIO By giving liberty unto thine eyes; Examine other beauties.
(Act I Scene I)

So soon forsaken? young men’s love then lies
Not truly in their hearts, but in their eyes.
(Friar Laurence, Act II Scene III)

Di balik itu semua, drama ini memang menekankan pada cinta yang terbentur oleh latar belakang keluarga. Bahwa permusuhan yang dibawa secara turun-temurun atas nama kehormatan keluarga, hingga bahkan sudah tak jelas asal-mulanya, hanya membawa penderitaan bagi anak-keturunannya. Kekuatan cinta yang akan melakukan apa saja, bijak atau bodoh, yang rela mengorbankan segala hal, termasuk nama dan masa lalu. Sebagaimana kata-kata Juliet yang termasyhur:

What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;
So Romeo would, were he not Romeo call’d,
Retain that dear perfection which he owes
Without that title. Romeo, doff thy name,
And for that name which is no part of thee
Take all myself.
(Juliet, Act II Scene II)

Selain itu, hal terpenting adalah jangan bertindak gegabah. Mungkin benar bahwa cinta itu buta, membutakan mata dan pikiran, karena terkadang tragedi itu terjadi karena kesalahpahaman, karena informasi yang terlambat diperoleh, karena tindakan terburu-buru yang dilakukan atas nama cinta.

4/5 bintang untuk tragedi cinta (yang tidak perlu).

Come, gentle night, come, loving, black-brow’d night,
Give me my Romeo; and, when he shall die,
Take him and cut him out in little stars,
And he will make the face of heaven so fine
That all the world will be in love with night
And pay no worship to the garish sun.
(Juliet, Act III Scene II)

Review #19 of Classics Club Project

Let’s Read Plays Wrap Up

LRPbutton

I remember when I started this reading challenge, I was so full of energy. I had targets, I expected myself to fulfill AT LEAST twelve plays a year, it should not be difficult. Although, some situations didn’t allow me to do that; ‘real-life problems’, as people usually said. So, with scattered schedule, I only finished nine plays, which contained all categories (not mentioning the number) except Shakespeare’s history and Greek. Here are the plays I’ve read from November 2012 until October 2013:

1. Julius Caesar by William Shakespeare
2. As You Like It by William Shakespeare
3. Six Characters in Search of an Author by Luigi Pirandello
4. The Comedy of Errors by William Shakespeare
5. The Importance of Being Earnest by Oscar Wilde
6. A Doll’s House by Henrik Ibsen
7. An Ideal Husband by Oscar Wilde
8. Vera, or, the Nihilists by Oscar Wilde
9. Hamlet by William Shakespeare

Here are the list of Character Meme that I’ve made (I should have made more than this if I could read more, ‘reading character’ is another fun) :

1. Caesar from Julius Caesar
2. Orlando from As You Like It
3. Rosalind from As You Like It
4. Lord Goring from An Ideal Husband

Meme hosted by Listra, I couldn’t follow this because my reading schedule was messy, too bad.

1. November : Character
2. December : Costume
3. January : Stage/Film Adaptation
4. June : Wilde

However, I’ve made a great reading for this event. I’ve found some new favourite authors because of this event. I could have done better, but I still could feel the fun and satisfaction. This is not the end, it’s just a beginning for other fun play-reading.

I remember the book-hangover–no, sorry–author-hangover (hehe), that happened right after I read Oscar Wilde’s. After I read two of his play, then I struggled to move on by choosing his most unpopular play, instead I ended up liking it.

Pirandello, Ibsen, and–of course–Shakespeare also give other kind of impression. Although, I think nothing could compare with Vera. Yes, Vera by Oscar Wilde. I can’t say that it’s my most favourite play–to say that I rate An Ideal Husband and Six Character in Search of an Author higher. I’m not certain, but the most possibility is that I had lower expectation of this play, then I got more. Whatever people said and saw about Vera, I appreciate her decisions and choices. I might not agree one hundred percent with her, but I salute her sacrifice for the sake of her country. I respect her way of treating her head and her heart.

Last but not least, I thank kak Fanda and Dessy for hosting this event, for the discussions (dan curhatan) along the reading, for the beautiful button decorated my sidebar a year long, and for forcing me reading great plays more than I would do if there wasn’t because of LRP.

So, let’s read more plays.

Scene on Three (17)

SceneOnThree

Peter (warming his hands at a stove). Has Vera not come back yet, Michael?
Mich. No, Father Peter, not yet; ’tis a good three miles to the post office, and she has to milk the cows besides, and that dun one is a rare plaguey creature for a wench to handle.
Peter. Why didn’t you go with her, you young fool? she’ll never love you unless you are always at her heels; women like to be bothered.
Mich. She says I bother her too much already, Father Peter, and I fear she’ll never love me after all.
Peter. Tut, tut, boy, why shouldn’t she? you’re young and wouldn’t be ill-favoured either, had God or thy mother given thee another face. Aren’t you one of Prince Maraloffski’s gamekeepers; and haven’t you got a good grass farm, and the best cow in the village? What more does a girl want?
Mich. But Vera, Father Peter—
Peter. Vera, my lad, has got too many ideas; I don’t think much of ideas myself; I’ve got on well enough in life without ’em; why shouldn’t my children? […]
(Prologue)

Adegan ini merupakan bagian dari prolog drama Vera, or, The Nihilists by Oscar Wilde yang tidak saya singgung dalam review. Percakapan antara Michael dengan Peter, ayah Vera. Tersirat bahwa Michael telah lama menyimpan cintanya pada Vera–yang tampaknya telah ditolak oleh Vera, sedangkan ayahnya menginginkan Michael untuk lebih agresif meluluhkan hati putrinya.

Ayah Vera masih memiliki pandangan kolot yang menginginkan anak-anaknya hidup mapan dan tenang sebagaimana dirinya. Tak ada ruang untuk pendidikan, apalagi politik dan sebagainya. Peter telah salah menilai, atau salah mengharapkan, putrinya. Menariknya, apa yang kemudian diperjuangkan oleh Vera akan membawa akhir yang tragis untuknya. Apakah dia menyesali keputusannya?

Sebenarnya, dalam drama ini memang tidak disebutkan. Akan tetapi, pertanyaan tersebut telanjur menggelitik saya. Bolehlah pertanyaan itu kita jawab sendiri : Apakah kita akan menyesal jika meninggalkan kehidupan yang damai demi idealisme, meski akhirnya tak seindah yang kita harapkan?

Bagi scene menarik di bacaanmu, caranya :

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).