Tag Archives: Review 2014

The Fellowship of the Ring – J. R. R. Tolkien

lotr1Title : The Lord of the Rings #1 : The Fellowship of the Ring
Author : J. R. R. Tolkien (1954)
Translator : Gita Yuliani K.
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan ketujuh, Oktober 2007
Format : Paperback, 512 pages

(Review ini mengandung spoiler ringan)

Tiga Cincin untuk raja-raja Peri di bawah langit,
Tujuh untuk raja-raja Kurcaci di balairung batu mereka,
Sembilan untuk Insan Manusia yang ditakdirkan mati,
Satu untuk Penguasa Kegelapan di takhtanya yang kelam
Di Negeri Mordor di mana Bayang-bayang merajalela.
Satu Cincin ‘tuk menguasai mereka semua, Satu Cincin ‘tuk menemukan mereka,
Satu Cincin ‘tuk membawa mereka semua dan dalam kegelapan mengikat mereka
Di Negeri Mordor di mana Bayang-bayang merajalela.

Pada 22 September yang akan datang, Bilbo Baggins akan merayakan ulang tahunnya yang kesebelas puluh satu, bertepatan dengan ulang tahun ketiga puluh tiga keponakannya, Frodo Baggins. Bilbo mengangkat Frodo sebagai ahli warisnya 12 tahun yang lalu, membawanya untuk tinggal bersamanya di Bag End. Dan kini di usianya yang sudah mencapai 111, Bilbo memutuskan untuk meninggalkan segalanya, termasuk barang berharga yang didapatkannya pada perjalanannya bersama para Kurcaci, lebih dari 50 tahun yang lalu. Sebuah cincin.

Sepeninggal Bilbo, Gandalf menjelaskan pada Frodo perihal cincin itu, cincin yang diduga merupakan Cincin Utama, yang hendak diambil kembali oleh kekuatan jahat. Cincin itu bisa membuat pemakainya tak terlihat, tetapi dengan dipergunakannya Cincin itu, kekuatan jahat akan semakin mendekat. Sebuah kisah lama tentang perjalanan Cincin dari Sauron, Isildur, dan Gollum pun diceritakan. Cincin yang menimbulkan ketamakan itu hanya bisa dimusnahkan di Celah Ajal, di kedalaman Orodruin, dan hanya Frodo yang bisa melakukan tugas itu.

Ditemani oleh tiga kawan Hobbitnya yang setia—Samwise Gamgee, Peregrin Took alias Pippin, dan Meriadoc Brandybuck alias Merry—Frodo keluar dari Shire diam-diam, menghindari kejaran para Penunggang Hitam, melewati Old Forest, bergabung dengan Strider—seorang Penjaga Hutan—di Bree, hingga tiba di Negeri pada Peri, Rivendell. Dalam Rapat Dewan di Rumah Elrond, terbentuklah persekutuan yang akan menemani Frodo membawa Cincin sampai ke Mordor, yang terdiri dari empat Hobbit (Frodo sendiri, Sam, Pippin, dan Merry), dua Manusia (Aragorn dan Boromir), seorang Peri (Legolas), seorang Kurcaci (Gimli), dan Gandalf sang Penyihir. Kesembilan anggota rombongan tersebut pun berangkat, melewati Pegunungan Berkabut, melalui Tambang Moria yang penuh kegelapan, singgah di Lothlórien yang indah, kemudian perselisihan terjadi akibat Kutukan Isildur.

Buku pertama dari trilogi ini memang terkesan menitikberatkan pada setting dan ‘pembangunan’ dunia. Separuh bagian pertama menggambarkan perjalanan para Hobbit hingga ke Rivendell, kemudian bagian kedua barulah dimulai perjalanan kesembilan Pembawa Cincin. Dalam perjalanan mereka, penulis menggambarkan dengan sangat detail, mulai dari pemandangan yang tampak dari utara, selatan, barat, timur, suara-suara yang terdengar, suasana yang timbul, sifat-sifat makhluk penghuninya, dan sesekali sejarah terbentuknya tempat tersebut, atau peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di situ. Dengan begitu, dunia yang dibangunnya terasa benar-benar solid dan nyata. Meski demikian, tak berarti penulis mengabaikan unsur-unsur lain. Karakterisasi dalam buku ini juga dibangun cukup kuat. Terutama para Hobbit, yang sejak awal sudah memperlihatkan kesetiaan dan keberaniannya.

Di antara kaum Bijak, hanya aku seorang yang mau mempelajari adat-istiadat dan pengetahuan tentang hobbit: suatu cabang pengetahuan yang tak dikenal, tapi penuh kejutan. Mereka bisa selembek mentega, tapi kadang-kadang sekokoh akar pohon tua. (Gandalf, p.67)

Kau bisa mempercayai kami untuk mendampingimu dalam semua kesulitan—sampai akhir yang pahit. Dan kau bisa mempercayai kami untuk menyimpan rahasiamu yang mana pun—lebih rapat daripada kau sendiri bisa menyimpannya. (Merry, p.137)

Aku belajar banyak tentang Sam Gamgee dalam perjalanan ini. Mula-mula dia bersekongkol, sekarang dia melawak. Nanti dia akan menjadi tukang sihir… atau pejuang! (Frodo, p.259)

Hubungan antar bangsa di Dunia Tengah juga sedikit banyak diperlihatkan di sini. Siapa yang saling bermusuhan, siapa yang tidak mau bekerja sama satu sama lain, siapa mengagumi siapa, siapa takut pada siapa, dan sebagainya. Salah satu saat yang paling manis adalah saat Sam pertama kali bertemu dan berinteraksi dengan para Peri. Sejak lama Sam mengagumi para Peri yang hanya didengarnya dari dongeng dan lagu. Beberapa kali bertemu mereka dan singgah di negeri mereka dalam perjalanannya bersama Frodo, menularkan perasaan hangat dan puas pada saya saat membacanya. Sebaliknya kaum Kurcaci yang sejak lama berselisih dengan bangsa Peri, menimbulkan kisah uniknya kala Legolas sang Peri dan Gimli sang Kurcaci terpaksa harus berada dalam satu perjalanan.

Namun demikian, anehnya mereka tetap merupakan kaum yang tangguh, walau terbiasa hidup nyaman dalam kedamaian. Mereka sulit untuk ditakut-takuti atau dibunuh; dan mereka begitu menyukai barang-barang bagus, walau jika terpaksa mereka bisa hidup tanpa semua itu; mereka juga bisa bertahan menghadapi kesedihan, musuh, atau cuaca, dengan cara yang membuat terperangah orang-orang yang tidak mengenal mereka dengan baik, yang hanya melihat perut serta wajah mereka yang sehat dan cukup makan. (p.15, Tentang Para Hobbit)

Frodo, sebagai kunci dalam perjalanan ini menunjukkan keberanian dan ketangguhan yang luar biasa. Tak terhitung bahaya maut yang dilewatinya, tekadnya untuk menempuh perjalanan demi menghancurkan Cincin itu tetap kuat, dengan atau tanpa teman dan pelindung. Bahkan beberapa kali dia bimbang karena ingin menjauhkan kawan-kawannya dari bahaya yang ditimbulkan oleh Cincin tersebut.

Luka itu akhirnya menguasaimu. Kalau lewat beberapa jam lagi, kami sudah tak bisa membantumu. Tapi dalam dirimu ada kekuatan, hobbit yang budiman! (Gandalf, p.272)

Selain karakter-karakter utama Para Pembawa Cincin, ada karakter-karakter unik yang digambarkan sebagai sosok yang ‘serba tahu dan serba bisa’ seperti Tom Bombadil, beberapa Peri, Penyihir, dan Manusia yang banyak membantu, juga Lady Arwen, putri Elrond dari Rivendell, yang meski hanya ditampilkan sekilas, tetapi sudah terlihat akan menyajikan sebuah kisah (terutama bagi yang sudah pernah mengetahui kisah selanjutnya). Di antara para Peri yang abadi dan tangguh, salah satu yang paling berkesan adalah Lady Galadriel di Lothlórien. Galadriel memiliki kemampuan yang unik untuk memasuki pikiran dan hasrat lawan bicaranya, dia juga memiliki akses ke kedalaman jiwa orang lain. Di Lothlórien, dia bahkan tampak lebih dominan ketimbang suaminya, Lord Celeborn, termasuk penampilan fisiknya.

Tanda tanya yang ditinggalkan buku pertama adalah ke mana perjalanan Para Pembawa Cincin ini, selepas dari Lothlórien, harus berlanjut. Sejak awal Boromir telah mengatakan hanya ikut dalam perjalanan sampai ke Gondor. Setelah itu, dia akan bergabung dengan pasukan di Minas Tirith untuk melawan kekuatan jahat Morgul. Apalagi dengan diketemukannya Cincin Utama dan Pedang Patah, sesuai dengan petunjuk yang didapatnya. Kemudian karena hal-hal tak terduga sepanjang perjalanan, terutama kejadian mengerikan di Moria, berbagai kehilangan dan kerusakan, rombongan ini mulai gamang menentukan arah. Akankah mereka meneruskan perjalanan ke Mordor, atau memperbarui rencana dan mengumpulkan kekuatan dengan singgah ke Gondor.

Nah, biarlah kebodohan menjadi jubah kita, selubung di depan mata Musuh! Karena dia sangat pintar, dan dia menimbang semua hal hingga sekecil-kecilnya, dalam timbangan kejahatannya. Tapi satu-satunya ukuran yang dia kenal adalah hasrat, hasrat untuk kekuasaan; dan begitulah dia menilai semua orang. Dalam hatinya takkan pernah terlintas pikiran bahwa ada orang yang akan menolak, bahwa kita ingin memiliki Cincin itu untuk menghancurkannya. (Gandalf, p.333)

The Lord of the Rings memang oleh penulisnya tidak dimaksudkan untuk menjadi trilogi, tetapi penerbit awalnya memecahnya menjadi tiga buku, dengan dua bagian di tiap bukunya. Mungkin karena itulah buku pertama ini terasa agak ‘nanggung’ petualangannya. 4.5/5 bintang untuk pengenalan Dunia Tengah yang mengagumkan.

Review #24 of Classics Club Project

Review #22 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Classic)

Review #35 for Lucky No.14 Reading Challenge category Chunky Brick

Advertisements

Dua Saudara – Jhumpa Lahiri

dua saudaraTitle : Brotherly Love (Dua Saudara)
Author : Jhumpa Lahiri (2013)
Translator : Anton WP
Publisher : bukuKatta
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 68 halaman

Penampilan fisik Subhash dan Udayan memang mirip, tetapi kedua kakak beradik ini memiliki sifat yang jauh berbeda. Subhash, sang kakak lebih penurut dan ‘lurus’, sedangkan Udayan sulit ditebak dan seringkali menyusahkan. Hingga saat keduanya lulus dari universitas—hal yang langka di lingkungan mereka saat itu—keduanya memilih jalan yang berbeda. Shubhash meninggalkan Tollygunge untuk melanjutkan program doktoral di Rhode Island, sedangkan Udayan tetap tinggal untuk melanjutkan perjuangannya untuk revolusi di India.

Bersetting di tahun 1960-70an, saat India sedang bergejolak, perang Vietnam, pemisahan Bangladesh, dan berbagai peristiwa sejarah yang secara langsung maupun tidak langsung akan berhubungan dengan karakter dalam kisah ini. Kisah pendek ini pada mulanya dimuat di New Yorker, kisah yang merupakan pengantar untuk novel Lahiri, The Lowland. Hal ini menjawab tanda tanya saya saat membaca buku ini, saat menemukan bahwa untuk sebuah cerita pendek, setting dan karakterisasi buku ini terbangun cukup detail.

Cerita pendek ini menitikberatkan pada hubungan Subhash dan Udayan yang terpisahkan oleh ideologi yang berbeda. Jarak geografis dan jarak ideologis ternyata membawa hubungan mereka dalam suatu kecanggungan baru. Oleh karena dikisahkan dengan sudut pandang orang ketiga terbatas, pembaca hanya bisa melihat melalui sudut pandang Subhash. Buku ini menangkap apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh Subhash. Namun, kisah ini kemudian diakhiri dengan cantik, mengenai kenyataan tentang sikap Udayan terhadap kakaknya itu. Menyentak, sekaligus mengharukan.

Review #21 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge

Review #34 for Lucky No.14 Reading Challenge category (Not So) Fresh From the Oven

Desember

Looking for Alaska – John Green

934301Title : Looking for Alaska
Author : John Green (2005)

There was a question worth answering.

Miles meninggalkan Florida untuk bersekolah di asrama Culver Creek di Alabama karena dia ingin meninggalkan kehidupannya yang lama, sekolah tempat dia tidak berteman, dan lingkungan yang begitu-begitu saja. Miles merasa kepergiannya dari rumah mungkin akan membuatnya menemukan Great Perhaps, sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya.

Di sekolahnya yang baru, dia sekamar dengan Chip Martin, yang biasa dipanggil Colonel, dan dia sendiri mendapat panggilan baru, Pudge. Dia juga berteman dengan Alaska, gadis cerdas tapi pemberontak, yang disukainya. Kemudian ada Takumi dan Lara. Meski tak bisa dikatakan tertinggal dalam pelajaran, Miles terpengaruh gaya hidup kawan-kawannya—terutama Alaska yang mendominasi; merokok, minum alkohol, seks bebas, dan kenakalan-kenakalan lain di sekolah. Dia menemukan suatu kehidupan baru, terutama segala hal tentang Alaska. Hingga ‘setelah’ tidak ada Alaska, kehidupan mereka berubah. Miles mencari-cari kembali makna hidupnya, makna kehidupannya bersama Alaska, makna dari pertemuan dan perpisahan.

How will we ever get out of this labyrinth of suffering?

Kedua kalinya saya membaca karya penulis ini, dan satu persamaan yang saya temukan: karakternya memiliki ‘sesuatu’ untuk dipikirkan. Karakter-karakter dalam buku ini memang remaja-remaja pelanggar peraturan sekolah, tetapi mereka—terutama Miles dan Alaska—memiliki sebuah pertanyaan filosofis yang berusaha mereka cari jawabannya. Miles terobsesi dengan kalimat terakhir orang-orang terkenal, dia menghapalnya, sedangkan Alaska suka membaca dan memiliki koleksi buku yang cukup untuk seumur hidupnya. Meski begitu, rasanya tetap sulit berempati pada karakter-karakter tersebut, karakter yang membuang masa muda mereka untuk kesenangan sementara.

Kemudian, ada karakter lain yang menarik dalam buku ini, Dr. Hyde, guru pengetahuan agama yang keras dan disiplin. Dia menetapkan peraturan yang berbeda sejak awal dia berdiri di kelas.

“Your parents pay a great deal of money so that you can attend school here, and I expect that you will offer them some return on their investment by reading what I tell you to read when I tell you to read it and consistently attending this class. And when you are here, you will listen to what I say.”

… he told us that religion is important whether or not we believed in one, in the same way that historical events are important whether or not you personally lived through them.

Dr. Hyde mengajar dengan cara yang tradisional, berdiri di depan kelas, berbicara, sementara para siswanya mendengarkan. Tidak ada diskusi, tidak ada presentasi, tidak ada siswa yang dipaksa berbicara dan mengutarakan pendapatnya di depan kelas. Cara mengajar yang disukai Miles karena dia menganggap bahwa di kelas, apa pun yang dikatakan siswa tidaklah murni pendapatnya, melainkan hanya sebuah cara untuk mendapatkan nilai.

… I hated how it was all just a game of trying to figure out what the teacher wanted to hear and then saying it.

Salah satu hal yang mengganjal dalam buku ini adalah saat Miles memikirkan tentang kalori ekstra dalam makanannya. Apakah seorang anak laki-laki belasan tahun, yang tak memiliki masalah dengan berat badannya, memang memikirkan masalah kalori? Saya tidak yakin, tapi mungkin memang Miles kasus yang istimewa, dengan segala kebiasaan dan tingkah lakunya.

Buku ini memang tentang evolusi, bagaimana seorang remaja menemukan dirinya melalui sebuah penderitaan dan kehilangan. Bagaimana mereka memerangi rasa bersalah, memaafkan diri sendiri, dan menerima bahwa ada hal-hal yang terjadi atau tidak terjadi, di luar kuasa mereka. Sebaliknya, ada hal-hal yang patut diperjuangkan, ada hal-hal yang bisa diubah dan segalanya bisa lebih baik, jika mereka mau.

… we had to forgive to survive in the labyrinth. There were so many of us who would have to live with things done and things left undone that day. Things that did not go right, things that seemed okay at the time because we could not see the future.

3/5 bintang untuk penemuan Great Perhaps.

Review #33 for Lucky No.14 Reading Challenge category Not My Cup of Tea (don’t read many young adults, I like the theme, anyway)

Sharp Objects – Gillian Flynn

17924737Title : Sharp Objects
Author : Gillian Flynn (2006)

Sometimes it is all too loud.

Camille Preaker, jurnalis Daily Post Chicago, dikirim oleh editornya untuk meliput kasus pembunuhan di sebuah kota kecil, Wind Gap, di Missouri. Camille dipilih karena dia dibesarkan di lingkungan itu, dan kasus itu bukan kasus biasa. Seorang anak perempuan sembilan tahun dicekik hingga tewas, dan dibuang dalam keadaan gigi sudah tercabut semua. Kini seorang anak perempuan lagi dilaporkan hilang, dan terancam mengalami nasib yang sama. Berita eksklusif yang menghebohkan di sebuah kota kecil adalah lahan yang bagus untuk media.

Kedatangan Camille di Wind Gap adalah sebuah tantangan baginya. Wind Gap menyimpan trauma masa lalunya, kenangan yang ingin dilupakannya, rasa sakit kehilangan adik, ibu yang tak pernah akur, ayah tiri yang acuh, serta saudari tiri yang bermasalah. Pencarian berita yang dilakukannya mau tak mau membawanya kembali pada kehidupan masa lalunya. Dia harus menemui keluarganya—terutama ibunya, dia harus bicara dengan seisi kota—orang-orang yang mengenal masa kecilnya, dan dia harus berhadapan dengan rasa sakit dan masalah orang-orang lain, yang sedikit banyak menguak rasa sakitnya sendiri. Perlahan, rasa sakit dari sayatan yang dilakukannya di masa mudanya, yang meninggalkan bekas luka di sekujur tubuhnya, yang telah dikuburkan bersama sesi-sesi terapi, muncul kembali.

Sometimes I think illness sits inside every woman, waiting for the right moment to bloom.

Awalnya saya mengira akan menghadapi sebuah misteri pembunuhan dalam buku ini, tetapi ternyata buku ini lebih menampilkan konflik sebuah keluarga. Sebuah keluarga yang menyimpan luka selama beberapa dekade, dan diturunkan dari generasi ke generasi. Adora, ibu Camille, memiliki masalah dengan ibunya sendiri, hingga saat dia memiliki Camille, dia tak bisa memberikan kasih sayang selayaknya yang dibutuhkan seorang anak. Camille yang menjaga jarak dengan ibunya, sejatinya juga merindukan kasih sayang orang tuanya. Dia tak pernah bertemu ayahnya, sedangkan Adora lebih menyayangi adiknya. Sebuah hubungan yang rumit pun timbul, adakah hubungan yang telah tegang selama bertahun-tahun bisa diperbaiki? Apakah luka baru yang kini timbul dapat menghapuskan bekas luka-luka lama?

Buku ini benar-benar menggambarkan kerapuhan dan gangguan psikologis para karakternya melalui kejadian demi kejadian, serta pilihan-pilihan yang dilakukan oleh para karakternya. Kita dibuat berjengit saat menengok nostalgia Camille dengan benda-benda tajam di kulitnya, ngeri dengan kesadisan sang pembunuh dengan korbannya, tersentak dengan kenakalan para remaja Wind Gap, muak dengan manuver-manuver yang dilakukan orang-orang demi mencapai tujuannya, dan saya marah pada penulis karena merasa ditipu. Di pertengahan buku, penulis mengarahkan dengan jelas mengenai pembunuhnya, tanpa dikonfirmasi oleh kecurigaan Camille maupun polisi. Saya dibiarkan merasa yakin tentang pembunuhnya, bahkan diberi bukti-bukti yang menguatkan, sementara karakternya sibuk mencarikan alibi. Kemudian, pada satu bab terakhir, semua asumsi dan analisis saya dibelokkan dan dibalikkan.

Saya tidak bisa mengatakan saya menikmati alurnya. Di satu sisi, saya yakin permasalahan yang sesungguhnya tak sesederhana yang terus ditonjolkan oleh sang penulis. Selama membaca, saya mencari-cari celah, mencari-cari tanda-tanda untuk mematahkan (atau menguatkan) dugaan saya, tetapi tidak ada, saya dipaksa maju dengan keyakinan yang saya tahu bakal dipatahkan entah kapan dan di mana. Di luar itu, penulis telah berhasil membuat ketegangan, kegelapan, dan kengerian yang pekat di setiap halaman bukunya. Penulis tak tanggung-tanggung saat mendeskripsikan sesuatu yang sadis ataupun mengerikan.

Dalam buku ini, aroma kematian ditampakkan dalam wujudnya yang paling gelap. Anak perempuan dibunuh dengan sadis. Kematian seorang anak bertahun-tahun sebelumnya masih menimbulkan trauma yang menghancurkan kehidupan keluarganya. Kematian membayangi kehidupan seisi kota. Kematian juga menyamarkan sesuatu yang buruk yang pernah terjadi sebelumnya.

When you die, you become perfect.

Bersiaplah untuk melihat kehidupan penuh drama gelap di Wind Gap, tempat sifat manusia ditunjukkan dengan vulgar dan ‘telanjang’.

3/5 bintang untuk setiap kata dalam sayatan.

…being conflicted means you can live a shallow life without copping to being a shallow person.

Review #32 for Lucky No.14 Reading Challenge category Blame it on Bloggers (kak Mia & Alvina)

Short Stories – Oscar Wilde

Author : Oscar Wilde
Publisher : Signet Classic, New American Library
Edition : 16th printing, ©1983
Fomat : Paperback, p. 235-302

Contents:
1. The Happy Prince, from The Happy Prince, and Other Tales (1888)
2. The Birthday of the Infanta, from The House of Pomegranates (1891)
3. Lord Arthur Savile’s Crime, from Lord Arthur Saville’s Crime and Other Stories (1909)

Edisi The Picture of Dorian Gray yang saya baca memuat tiga cerpen Wilde yang diambil dari tiga kumpulan yang berbeda. Saya pasti berencana membaca kumpulan-kumpulan tersebut, jadi katakanlah ini sekadar pengantar untuk memperoleh sedikit gambaran mengenai beberapa cerpen Wilde, sebelum saya membaca keseluruhannya.

Illustration for the first edition by Walter Crane

The Happy Prince mungkin merupakan salah satu cerpen anak-anak Wilde yang paling terkenal. Mengisahkan tentang sebuah patung ‘Pangeran Bahagia’, yang melihat kenyataan bahwa dunianya tak seindah yang dulu dilihatnya saat dia masih hidup dan bahagia. Di suatu saat menjelang musim dingin, seekor burung walet yang sedang beristirahat di bawah sang patung menemukan bahwa Pangeran Bahagia sedang bersedih, kini saat dia bisa melihat orang-orang kelaparan, kesakitan, menderita dan kekurangan. Pangeran Bahagia meminta sang walet menunda migrasinya dan membantunya membagikan emas dan permata yang melekat di tubuhnya kepada mereka yang membutuhkan.

Then the swallow flew back to the Happy Prince and told him what he had done. “It is curious,” he remarked, “but I feel quite warm now, although it is so cold.”
“That is because you have done a good action,” said the Prince. And the little swallow began to think, and then he fell asleep. Thinking always made him sleepy.
(p.239)

Kisah ini sederhana, tapi dalam. Kisah ini menggelitik nurani kita tentang apa makna bahagia yang sejati, apa yang menjadi tolok ukurnya, serta sudut pandang yang berbeda mengenai kebahagiaan. Salah satu pernyataan filosofis dalam kisah ini adalah perbedaan reaksi orang-orang saat melihat perubahan sang Pangeran, dari patung yang cantik dan (terlihat) bahagia menjadi sesosok patung kusam karena tak utuh lagi. Dari komentar beberapa orang tersebut, terlihat bagaimana terkadang kita hanya melihat seseorang hanya dari penampilan luarnya, berdasar materi belaka. Namun jauh di dalam, ada sesuatu yang tak bisa dikalahkan, sebuah ketulusan yang disimbolkan dengan jantung sang Pangeran yang tak bisa dileburkan.

The Birthday of the Infanta menceritakan kemeriahan perayaan ulang tahun ke-12 sang Putri Raja Spanyol tersebut. Sang Raja sendiri tak ikut dalam pesta tersebut. Sejak kematian istrinya, dia tak mengenal kebahagiaan, selalu murung dan meratapi sang Ratu yang masih diawetkan, saking besarnya cinta sang Raja. Di antara hiburan di ulang tahun sang Infanta, dia paling terhibur dengan seorang cebol yang dengan sikap konyol dan kekurangan tubuhnya menjadi bahan tertawaan semua orang. Namun sesungguhnya, si cebol tersebut tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Dia merasa sang Infanta menyukainya, hingga tanpa sengaja dia menemukan cermin dan menyadari apa sesungguhnya yang membuat orang-orang tampak senang jika melihatnya.

But somehow the birds liked him. They had seen him often in the forest, dancing about like an elf after the eddying leaves, or crouched up in the hollow of some old oak-tree, sharing his nuts with the squirrels. They did not mind his being ugly, a bit. (p.255)

Sayangnya, kebanyakan hanya melihat penampilan luar saja. Mereka tak merasa penting untuk mengetahui bagaimana perasaan dan sikap si cebol, di balik segala kekurangan fisiknya. Dalam cerita ini, penulis sempat menceritakan panjang lebar mengenai latar belakang sang Raja, saya rasa mungkin itu berhubungan dengan sikap sang Infanta. Kurangnya kasih sayang orang tua, terutama kelemahlembutan seorang ibu, membuat sang Infanta kurang peka dan kurang empati terhadap sekitarnya. Penutup dari kisah ini cukup mengena, terutama kalimat terakhir Infanta : “For the future let those who come to play with me have no hearts,” (p.263). Kalimat yang merangkum kesimpulan dengan menggetarkan.

Lord Arthur Savile’s Crime adalah sebuah kekonyolan menurut saya. Saat Lady Windermere mengundang orang-orang ke rumahnya, dia mendemonstrasikan kemampuan Mr. Podgers, seorang pembaca garis tangan, meramal para tamunya. Lord Arthur Savile, seorang pemuda yang penuh semangat tak ketinggalan ingin diramal olehnya. Namun saat melihat garis tangan Lord Arthur, wajah Mr. Podgers berubah tegang. Dia membaca kejahatan, tetapi menyimpannya dan hanya menyampaikannya saat berdua saja dengan Lord Arthur. Lord Arthur pun menghabiskan bulan demi bulan untuk merealisasikan kejahatan yang diramalkan tersebut, agar dia bisa menjalani kehidupan dengan normal setelahnya, tanpa dibayang-bayangi hal yang belum dilakukannya.

Sooner or later we are all called upon to decide on the same issue—of us all, the same question is asked. To Lord Arthur it came early in life—before his nature had been spoiled by the calculating cynicism of middle age, or his heart corroded by the shallow fashionable egotism of our day, and he felt no hesitation about doing his duty. (p.280)

Saya tidak bisa melihat karakter Lord Arthur selain konyol dan sulit dimengerti jalan pikirannya. Mungkin karena saya tak pernah percaya pada ramalan, sementara Lord Arthur sangat menganggap serius ramalan tersebut, hingga nekat melakukan apa saja. Meski kisahnya lumayan panjang, cerpen ini memiliki akhir yang terbuka. Pembaca dapat mengambil kesimpulan apa saja, karena segala yang terjadi telah terjadi. Pembaca bisa saja menganggap bahwa akhir kisah itu adalah akibat dari perbuatan Lord Arthur yang mengejar ramalan tersebut, atau bisa juga menganggap bahwa yang telah dilakukannya sia-sia belaka.