Tag Archives: Review 2014

Short Stories – Émile Zola

Title : The Miller’s Daughter, Captain Burle, Death of Olivier Becaille
Author : Émile Zola
Publisher : Project Gutenberg
Edition : November 10, 2012 [EBook #1069]
Format : ebook

Setelah membaca tiga novelnya, saya mendapat dua kesan kuat tentang karya Zola: kekuatan deskripsi dan kisah yang mencengangkan di antara manusia-manusia dengan sifat-sifat dasarnya yang ditampakkan ‘apa adanya’. Apakah hal ini berlaku untuk cerita pendeknya?

The Miller’s Daughter berkisah tentang kincir air serta pemiliknya, Pere Merlier. Cerita bermula saat Francoise Merlier bertunangan dengan Dominique Penquer, dan merencanakan pernikahan di Saint Louise’s Day. Pada masa itu, kabar mengenai serangan pasukan Prussia sudah semakin santer terdengar, hingga pagi hari sebelum Saint Louise’s Day, dikabarkan akan ada serangan ke Rocreuse, desa mereka. Pasukan Prancis sudah siap dan, sialnya, mereka memilih kincir air Merlier sebagai benteng. Merlier tidak bisa menolak permintaan itu meski hatinya berat. Pernikahan putrinya tidak akan berlangsung.

Dalam cerpen ini, kekuatan deskripsi Zola masih terasa. Selain gambaran mengenai lokasi kisah ini terjadi, gambaran mengenai peperangan yang terjadi juga lumayan detail untuk sebuah cerita pendek.

When Pere Merlier was advised to change it he shook his head, saying that a new wheel would be lazier and would not so well understand the work, and he mended the old one with whatever he could put his hands on: cask staves, rusty iron, zinc and lead. The wheel appeared gayer than ever for it, with its profile grown odd, all plumed with grass and moss. When the water beat upon it with its silvery flood it was covered with pearls; its strange carcass wore a sparkling attire of necklaces of mother-of-pearl.

Namun cerpen ini sangat ‘ringan’ untuk ukuran Zola. Meski alurnya menegangkan, terutama tentang bagaimana nasib pasangan tersebut di tengah-tengah peperangan, tidak ada kejutan khasnya dalam mengeksplorasi sifat dasar manusia. Kisah ini pun berakhir sebagai kisah cinta yang manis.

Captain Burle tinggal bersama ibunya, Mme Burle, dan putranya, Charles, di sebuah kota kecil bernama Vauchamp. Suatu malam, Major Laguitte, rekan Captain Burle datang ke apartemen Burle dan menemukan bahwa yang dicarinya tidak ada. Dia terpaksa menceritakan pada Mme Burle tentang kecurangan yang dilakukan putranya, yang bertugas mengurus keuangan, atas pembayaran tukang daging, yang menyebabkannya berutang 2000 francs, jumlah yang sangat besar untuk keluarga sederhana mereka. Burle menghabiskan uang itu untuk minum-minum dan berjudi, hingga malam itu juga, Laguitte menyeretnya keluar dan memaksanya berjanji untuk tak kembali lagi.

Beberapa bulan berlalu, Burle sudah tak pernah keluar malam, dan keuangan tampak berjalan baik. Hingga suatu hari, Laguitte memperhatikan bahwa selama ini, ada selisih kecil dalam laporan keuangan Burle tiap harinya. Dia pun kembali mengecek Burle di malam hari, dan ternyata kawannya itu sudah kembali ke kebiasaan lamanya. Kemarahan membuatnya menantang Burle untuk berduel, dan sang Major melakukan sesuatu yang fatal.

Paul Cézanne, Paul Alexis reading to Émile Zola, 1869–1870, São Paulo Museum of Art (source)

Cerpen kedua ini lebih kental konflik, menampakkan bagaimana jika manusia dikontrol oleh nafsunya, hingga melupakan keluarga dan dedikasi. Captain Burle adalah sosok manusia yang telah dikalahkan oleh nafsu, dan tampaknya tak ada yang bisa mengubahnya. Meski akhir dari kisah ini cukup mengharukan, tak ada hal-hal fantastis ataupun luar biasa yang mengguncangkan keseluruhan kisah ini.

Death of Olivier Becaille adalah favorit saya di antara tiga cerpen ini. Dengan kalimat pembuka yang langsung menuju sasaran:

It was on a Saturday, at six in the morning, that I died after a three days’ illness. My wife was searching a trunk for some linen, and when she rose and turned she saw me rigid, with open eyes and silent pulses.

Cerita ini mengisahkan bagaimana Olivier, yang masih bisa mendengar dan merasakan (juga sedikit melihat satu titik sebelum matanya ditutup), harus menghadapi proses pemakamannya sendiri. Tak hanya kekhawatiran dikubur hidup-hidup, Olivier juga harus mendengarkan tanda-tanda istrinya yang dihibur oleh pria lain, yang dibayangkannya mengambil kesempatan dari kesedihan dan ketidakberdayaan istrinya saat itu. Pria itu, yang juga menguruskan pemakaman Olivier, tampak seolah ingin mempercepat proses pemakamannya, hal yang membuat Olivier semakin merana.

Kemudian bagian menegangkannya adalah saat Olivier akhirnya berhasil ‘bangun’ kembali. Zola menggambarkan dengan rinci saat dia berusaha membuka peti matinya sendiri, menggali tanah yang menimbunnya, dan berusaha kembali ke atas tanah sebelum dia benar-benar meninggal lagi karena kehabisan oksigen. Berhasilkah dia? Berapa lama sudah dia dikuburkan? Apakah dia bisa kembali hidup normal setelahnya?

Was this strange state of torpor, this immobility of the flesh, really death, although the functions of the intellect were not arrested? Was my soul only lingering for a brief space before it soared away forever?

Kisah ini menarik karena temanya yang unik. Olivier tampaknya menderita kelainan aneh, yang mungkin bermula dari sakit masa kecilnya—meski belum pernah seekstrem kematian—yang belum bisa dideteksi oleh medis pada masa itu. Tapi jauh di balik itu, Zola tampaknya menggelitik pembacanya dengan kematian, dan bagaimana peran kita di dunia ini saat kita hidup dan meninggal dunia.

I am an ordinary man who has toiled and eaten like anybody else. Death no longer frightens me, but it does not seem to care for me now that I have no motive in living, and I sometimes fear that I have been forgotten upon earth.

Advertisements

King Richard III – William Shakespeare

18416265Title : King Richard III
Author : William Shakespeare (1593)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : November, 1997 [Etext #1103]
Format : ebook

When clouds are seen, wise men put on their cloaks;
When great leaves fall, then winter is at hand;
When the sun sets, who doth not look for night?
Untimely storms make men expect a dearth.
All may be well; but, if God sort it so,
‘Tis more than we deserve or I expect.
(Act II, Scene 3)

Drama Shakespeare ini termasuk dalam kategori sejarah. Nama-nama dan kejadiannya memang berdasarkan sejarah, tetapi sejarah bergantung dari mana kita memandangnya. Jadi kisah King Richard III ini dapat saya katakan merupakan sejarah yang terekam pada masa drama ini ditulis.

Di permulaan drama ini, Richard adalah Duke of Gloucester. Inggris berada di bawah kekuasaan Edward IV—yang adalah kakak Richard—dari House of York. Pada masa itu, Inggris terbagi dua, York dan Lancaster. Oleh karena tidak puas dengan keadaan, Richard berambisi untuk menjadi raja. Ambisinya itu diwujudkan dengan cara-cara yang frontal dan nekat. Dia tak ragu-ragu menjebak dan membunuh orang-orang yang dianggapnya sebagai penghalang memperoleh mahkota kerajaan. Orang-orang terdekatnya, keluarga, teman, dan orang kepercayaannya pun tak luput dari kekejamannya.

Anehnya, segala kebencian yang muncul terhadap Richard atas kekejamannya tersebut pada suatu kali dapat berubah. Seperti saat dia melamar Lady Anne, yang suaminya terbunuh oleh tangannya, meski Anne jelas-jelas menolak dan sangat membencinya, pada akhirnya mulut manis Richard berhasil menjadikan Lady Anne sebagai istrinya. Kharisma Richard juga membuat beberapa orang loyal kepadanya, meski harus mengeksekusi orang-orang yang dianggap berkhianat terhadap raja mereka.

Dalam drama ini, kekejaman dan tirani Richard sangat dominan digambarkan. Namun, apakah yang menyebabkannya menjadi seorang raja berdarah dingin dan bertangan besi? Pada awal drama ini, monolog Richard menceritakan keadaannya, yang mungkin membentuk karakternya menjadi seperti yang diceritakan. Penampilannya yang tidak menarik, kelainan bentuk tubuh, dan kelemahannya mungkin pada mulanya menimbulkan rasa minder, tetapi tampaknya lambat laun menimbulkan suatu ambisi untuk menutupi kekurangan tersebut.

But I-that am not shap’d for sportive tricks,
Nor made to court an amorous looking-glass-
I-that am rudely stamp’d, and want love’s majesty
To strut before a wanton ambling nymph-
I-that am curtail’d of this fair proportion,
Cheated of feature by dissembling nature,
Deform’d, unfinish’d, sent before my time
Into this breathing world scarce half made up,
And that so lamely and unfashionable
(Act I, Scene 1)

Bahkan ibunya sendiri, Duchess of York, juga mengakui bahwa sejak kecil, Richard selalu bermasalah. Apakah ada diskriminasi yang diterima Richard saat kecil? Atau mungkin dia kekurangan perhatian yang semestinya atau diharapkannya didapat? Tampaknya menarik jika ada catatan sejarah yang menganalisis masa kecil Richard III ini.

Thou cam’st on earth to make the earth my hell.
A grievous burden was thy birth to me;
Tetchy and wayward was thy infancy;
Thy school-days frightful, desp’rate, wild, and furious;
Thy prime of manhood daring, bold, and venturous;
Thy age confirm’d, proud, subtle, sly, and bloody,
More mild, but yet more harmful-kind in hatred.
(Act IV, Scene 4)

Late 16th century portrait, housed in the National Portrait Gallery, London.

Seperti sudah saya singgung di atas, ada sisi positif Richard III yang tersirat drama ini, sisi yang menyebabkannya memiliki pengikut yang setia. Namun sayangnya, menurut saya, porsinya tak sebesar sisi negatifnya sebagai seorang raja bertangan besi. Meski begitu, pada beberapa bagian dapat terlihat bagaimana kekuatan kata-kata Richard untuk mempengaruhi orang lain.

Drama ini merupakan salah satu drama Shakespeare yang memiliki konflik yang sangat intens. Fokus utamanya tetap pada Richard dan bagaimana dia mencapai dan mempertahankan kekuasaannya, kemudian bagaimana orang-orang di sekitarnya—kawan, lawan, dan rakyat—memandangnya, menilainya dan menghakiminya. Act V scene 3 adalah salah satu scene favorit saya, karena pada scene tersebut kita ditunjukkan dua kubu yang akan berperang, Richard (mewakili York), dan Richmond (mewakili Lancaster). Di scene tersebut, saya bayangkan lampu-lampu panggung yang bergantian menyorot masing-masing kubu, karena meski dalam satu scene, tempat kejadiannya jauh dan keduanya belum saling bertemu.

4/5 bintang, God save the Queen.

Bad is the world; and all will come to nought,
When such ill dealing must be seen in thought.
(Act III, Scene 6)

November #2 : Angka dalam Judul Buku

 

Out of the Dust – Karen Hesse

out of the dustTitle : Out of the Dust
Author : Karen Hesse (1997)
Publisher : Scholastic Inc.
Edition : 7th printing, Apple Signature Edition
Format : Paperback, 228 pages

I don’t want to die,
I just want to go,
away,
out of the dust.
(p.149)

Billie Jo Kelby lahir pada Agustus 1920. Ayahnya sangat menginginkan anak laki-laki hingga memperlakukan anak perempuannya itu sebagaimana anak laki-laki. Tetapi Billie Jo masih memiliki persamaan dengan ibunya, dia suka memainkan piano, meski ibunya tak suka jika dia mengorbankan sekolahnya demi musik. Billie Jo mengisahkan hidupnya di usianya yang keempat belas, bagaimana ayahnya setia menanti hujan demi ladang gandumnya, bulan demi bulan yang kering dan berdebu. Saat itu ibunya sedang hamil lagi, berusaha sepenuhnya mengatasi kondisi keluarganya, di Oklahoma yang terancam kelaparan.

Hujan yang dirindukan tak juga hadir, hanya debu dan badai debu, membuat ladang-ladang semakin memburuk, tanaman-tanaman enggan hidup, dan rumah-rumah menjadi suram. Di masa-masa genting ini, sebuah kecelakaan fatal terjadi di rumah Kelby. Ayahnya meletakkan minyak tanah di dekat kompor, ibunya yang mengira itu air tak sengaja membakarnya, kemudian Billie yang berusaha membereskan kekacauan justru membuatnya lebih kacau, tanpa disengaja.

“Billie Jo threw the pail,”
they said. “An accident,”
they said.
Under their words a finger pointed.

They didn’t talk
about my father leaving kerosene by the stove.

(p.71)

Kecelakaan itu membuat luka menganga di keluarga itu, luka yang tak kunjung membaik, lahir dan batin. Kedua tangan Billie terluka sehingga dia sama sekali tak bisa bermain piano. Hatinya juga terluka karena sikap ayahnya yang berubah murung dan dingin. Billie Jo yang sebelumnya adalah gadis remaja dengan kehidupan remajanya—sekolah, mendapatkan uang ekstra dari bermain piano, jatuh cinta pada anak laki-laki, bermimpi, dan lain sebagainya—kini harus lari dari segala kenangan yang menyakitkan saat keluarganya masih baik-baik saja, meski serba kekurangan. Cita-citanya yang paling utama adalah keluar dari lingkungan rumahnya yang berdebu, kapan pun dia bisa, bagaimana pun caranya.

“We weren’t always happy,” I tell Louise.
“But we were happy enough
until the accident.
When I rode the train west,
I went looking for something,
but I didn’t see anything wonderful.
I didn’t see anything better than what I already had.
Home.”
(p.217)

Jika melihat beberapa kutipan buku ini yang saya cantumkan di atas, terlihat bahwa buku ini bukan terdiri dari paragraf-paragraf sebagaimana novel pada umumnya. Buku ini berisi bait-bait kisah Billie Jo yang diceritakan melalui suaranya sendiri. Dengan cara begini, buku ini terkesan agak puitis, sekaligus mudah dan cepat dicerna.

Dengan sedikit kata-kata, penulis berhasil menghasilkan efek emosional yang dahsyat. Setiap beberapa halaman, ada saja yang membuat saya harus berhenti membaca, karena aura depresi yang sangat pekat. Setting waktu kisah ini memang pada masa-masa depresi (Depression Era) yang mengikuti Perang Dunia II. Badai debu yang terjadi pada buku ini (tahun 1934) juga merupakan satu rangkaian Dust Bowl dari badai yang terjadi berturut-turut di Amerika Serikat saat itu.

Aura depresi semakin memekat pasca kecelakaan di keluarga Kelby. Di sini, selain depresi karena kondisi alam dan negara, konflik batin para anggota keluarga, terutama Billie Jo, semakin ditampakkan. Anak dan ayah yang berjuang keras untuk berdamai dengan keadaan, dengan diri mereka sendiri, dan untuk saling memaafkan.

He stares at me,
maybe he is looking for Ma.
He won’t find her.
I look like him,
I stand like him,
I walk across the kitchen floor
with that long-legged walk
of his.
I can’t make myself over the way Ma did.

And yet, if I could look in the mirror and see her in
my face,
If I could somehow know that Ma
and baby Franklin
lived on in me . . .

But it can’t be
I’m my father’s daughter.

(p.113-114)

Jika ditilik secara ukuran buku, Out of the Dust ini bisa saja dibaca dalam sekali duduk. Namun melihat isinya, rasanya mustahil ada orang yang bisa tega menyantap kisah suram ini sekaligus tanpa istirahat. Pengalaman saya membandingkan reaksi bacaan terhadap teman sesama blogger, saya memiliki ambang penerimaan yang sangat tinggi terhadap kisah-kisah gelap. Untuk yang satu ini, saya akui, saya tidak kuat. Tingkat kegelapan dan depresinya sungguh sangat tinggi sekali, meski—kabar gembiranya—kisah ini tetap berakhir bahagia.


I am because of the dust.
And what I am is good enough.
Even for me.
(p.222)

4/5 bintang untuk kisah yang meremukkan hati.

Review #12 of Children’s Literature Reading Project

Review #31 for Lucky No.14 Reading Challenge category Cover Lust (I admit it’s a strange taste, but yes, the dark nuance of the cover made me curious)

Review #20 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Historical Fiction)

November #1 : Newbery Book List

 

Click-Clack the Rattlebag – Neil Gaiman [Audiobook]

16109478Title : Click-Clack the Rattlebag
Author : Neil Gaiman (2012)
Narrator : Neil Gaiman
Publisher : Audible, Inc
Format : Audiobook, 11 min 45 sec

Cerita pendek tentang seorang anak dengan pacar kakaknya. Mereka sedang berdua saja di rumah saat si anak minta diantarkan tidur dan didongengi. Anak itu menyebut kisah seram tentang Click-Clack yang tidak diketahui si pemuda. Mereka naik ke kamar dalam suasana gelap nan mencekam, sambil membahas Click-Clack.

“Click-Clacks drink you.” (07:38-07:39)

Cerita ini dibaca oleh sang penulis sendiri, dengan gaya khasnya, bisa membuat pendengar membayangkan suasana horor dalam kisah itu. Ditambah efek suara yang pas, tidak berlebihan sehingga sedikit suara saja bisa menimbulkan kengerian. Selain suasananya yang mencekam, imajinasi liar khas Gaiman, serta sedikit selipan humor, ada satu hal yang jauh lebih dalam di sini. Hubungan pemuda dengan anak itu, meski singkat, menunjukkan kehangatan yang indah.

“His hand found mine and he held on to my fingers comfortably, trustingly, as if he’d known me all his life. I felt responsible and adult.” (04:40-04:50)

Saya rasa, penekanan kisah ini memang pada sang pemuda. Bagaimana dirinya, dalam posisi sebagai kakak, diharapkan memberi aman pada seorang anak kecil, adik pacarnya sendiri. Dalam posisi demikian, dia merasa harus melawan ketakutannya sendiri.

Sebenarnya buku audio ini dibagikan gratis, tetapi hanya sehari, dalam rangka All Hallow’s Read. Saya hanya mengunduhnya saat itu untuk didengarkan di kemudian hari, hingga baru sempat mendengarkan hari ini. Bagi yang berminat, mungkin bisa menunggu Halloween tahun depan, sambil membaca karya Neil Gaiman lainnya.

4.5/5 bintang untuk bunyi-bunyian di lorong gelap dan pembacaan yang menawan.

Collecting Feathers – Daniela I. Norris

22955634Title : Collecting Feathers: Tales from The Other Side
Author : Daniela I. Norris (2014)
Publisher : Soul Rocks Books
Edition : First edition, 2014
Format : Paperback, 95 pages

“The only thing we can all be sure of, is that we will die some day. We might as well take advantage of what life has to offer us,” (p.18)

Buku ini adalah kumpulan cerita tentang ‘dunia lain’, dunia supranatural, dunia mistis, atau apa pun istilahnya. Tak bisa dipungkiri, tema ini mau tidak mau dekat dengan kematian. Kesebelas kisah dalam buku ini memiliki pola yang sama, meski nantinya tak selalu berhubungan dengan ‘dunia lain’. Misteri yang ditawarkan hampir selalu bisa ditebak, tetapi pada beberapa kisah, ada yang membuat kita berpikir dua kali, atau bahkan di luar dugaan sama sekali.

Kisah pertama, yang juga merupakan kisah yang paling panjang, membuka kumpulan ini dengan indah. A Reason to Go On berkisah tentang seorang lelaki paruh baya yang baru keluar dari rumah sakit jiwa, dalam keadaan tanpa tujuan hidup, dan (kemungkinan) masih mengalami halusinasi. Namun ternyata apa yang dikiranya sebagai halusinasi adalah sesuatu yang nantinya akan membimbingnya menuju suatu tujuan hidup yang baru.

I discovered that temporary insanity was indeed a good shield against life’s difficulties and responsibilities, (p.3)

Kisah pertama ini panjangnya 2-3 kali dari rata-rata kisah lainnya. Oleh karenanya, di situ penulis terlihat lebih mengeksplorasi karakter dan konflik pria itu. Kisah pertama ini juga dibuka dengan prosa yang indah, yang membawa saya dalam suasana mistis tanpa menjadi terlalu gelap, saat membacanya. Kalimat-kalimat indah ini juga memperkaya kisah-kisah selanjutnya, hingga saya merasa perlu menikmatinya perlahan, meresapi kata demi katanya.

Kisah-kisah lainnya hampir selalu berhubungan dengan orang-orang yang sudah meninggal dunia. Entah kemunculannya secara misterius, atau pertemuan itu sendiri yang menjadi misteri. Namun ada satu kisah yang juga menjadi favorit saya, yang pada akhirnya berubah menjadi semacam fiksi ilmiah. Kisah yang akan sangat menarik jika dikembangkan lebih lanjut.

Secara umum, kisah mistis semacam yang dikisahkan dalam kumpulan ini memang lebih baik menjadi sebuah cerita pendek saja. Dengan demikian, tak ada paksaan bagi penulis untuk menjelaskannya lebih lanjut, karena jika dijelaskan maka tidak akan menjadi misteri lagi. Hal ini mengingatkan saya pada Joglosemar Family yang selalu protes saat saya melanjutkan kismis saya dengan penjelasan logisnya hingga berubah menjadi antiklimaks. Mungkin kisah mistis memang harus selalu seperti ini, menggantung, tak perlu penjelasan logis meski kita tak memercayainya.

4/5 bintang untuk misteri-misteri yang dituliskan dengan indah.

Review #29 for Lucky No.14 Reading Challenge category Freebies Time