Tag Archives: Review 2017

Fantastic Beasts [The Original Screenplay] – J.K. Rowling

Title : Fantastic Beasts and Where to Find Them: The Original Screenplay
Author : J.K. Rowling (2016)
Illustrator : MinaLima
Publisher : Little, Brown
Format : Hardcover, 294 pages

Pengalaman membaca screenplay saya yang pertama kurang sukses, bukunya masih terbengkalai belum selesai. Saya rasa membaca screenplay lebih menantang daripada play biasa karena settingnya lebih realistis, bisa berada di mana saja dan bisa seperti apa saja, tidak dibatasi lokasi, waktu, properti panggung, serta perpindahannya bisa sangat cepat. Percobaan kedua saya adalah buku ini, yang tentu saja saya tahu akan lebih mudah karena; 1. Saya sudah menonton filmnya, 2. Ini J.K. Rowling, dan 3. Saya jatuh hati dengan Newt filmnya dan tidak keberatan mengulang-ulang pengalamannya. Jadi bisa dibilang, ini pengalaman cukup baru membaca screenplay hingga tuntas.

Memang awal membaca buku ini terasa cukup melelahkan karena cukup sering berpindah-pindah scene, tapi lama-lama, setelah masuk ke konflik dan klimaksnya, perpindahan scene jadi tak begitu terasa. Di samping menikmati naskah film sebagaimana menonton kembali filmnya, saya mendapat pengetahuan mengenai beberapa istilah dalam naskah film, seperti high wide, ext., int., off-screen, sotto voce, voice-over, yang menunjukkan bagaimana penonton akan melihat adegan-adegan tersebut, apakah dari kejauhan, dari dekat, apakah yang berbicara ditampakkan wajahnya di layar atau tidak. Sebelumnya saya kira hal-hal ini adalah tugas dari penyunting gambar, improvisasi aktor, atau arahan sutradara. Entah memang ternyata hal itu bagian dari tugas penulis naskah, atau karena ini J.K. Rowling yang memang ratu detail. Bahkan gambaran settingnya meski cukup singkat, terasa sangat hidup dan mengagumkan. Sehingga rasanya, mungkin, pembuat film jadi lebih mudah mewujudkan dalam visual yang tak jauh beda dari maksud penulis.

Saya memang belum tahu benar tentang hal-hal di balik layar film, jadi mari kita bicarakan isi naskahnya. Mengenai kejutan-kejutan serta misterinya rasanya tidak perlu dipertanyakan ya, saya sudah membahasnya sedikit di sini. Film dibuka dengan scene yang menampakkan Grindelwald dan pencariannya. Kisah dimulai saat Newt Scamander tiba di New York untuk suatu misi yang menyangkut hewan fantastisnya. Dia membawa sebuah koper yang berisi hewan-hewan itu, yang lengkap dengan pengaman untuk menyembunyikannya dari Muggle, sehingga ketika diset, yang tampak di dalamnya hanya koper biasa. Masalah muncul saat salah satu hewan itu kabur dan membuat masalah, ditambah seorang No-Maj (Muggle di Amerika)—Jacob Kowalski, dan petugas kementrian (MACUSA)—Tina Goldstein, menyaksikannya. Insiden demi insiden tak terduga yang terjadi dengan cepat menyebabkan Jacob tidak bisa di-Obliviate saat itu, dan harus mengikuti petualangan penyihir itu di kota New York.

Sementara itu, sebagaimana Muggle tak mengetahui adanya komunitas penyihir di Inggris, No-Maj juga tak mempercayai adanya sihir. Posisi para penyihir di sana semakin berat karena adanya kelompok New Salem yang menuntut adanya pengusutan komunitas penyihir di Amerika—hal yang sesungguhnya tak dipercayai oleh pejabat setempat. Namun, beberapa insiden terjadi, melibatkan adanya unsur sihir yang belakangan diketahui sebagai Obscurus atau Obscurial, yaitu kekuatan sihir yang tak terkendali akibat tekanan di sekitarnya. Malangnya, aktivitas Obscurus ini justru muncul di tengah-tengah kelompok New Salem, yang mungkin masuk akal, mengingat betapa bersalahnya seseorang jika menjadi penyihir.

Konflik yang muncul memang cukup gelap, tetapi sebagaimana Harry Potter yang pertama, penulis tidak membiarkan aura gelap mendominasi kisah yang pertama. Porsi yang lebih besar didapatkan oleh Newt dan kawan-kawannya; Jacob yang terpesona dengan sihir untuk yang pertama kalinya, Tina yang awalnya salah paham terhadap Newt—bahkan membawa mereka dalam bahaya di level MACUSA—tetapi akhirnya saling mendukung, dan Queenie Goldstein, saudari Tina yang jelita, seorang Legilimens, dan menjadi pelengkap yang manis sekaligus perkasa dalam kisah ini. Salah satu bagian favorit saya adalah saat Jacob menyaksikan betapa fantastisnya hewan yang dibawa Newt.

JACOB Newt . . . I don’t think I’m dreaming.
NEWT (vaguely amused) What gave it away?
JACOB I ain’t got the brains to make this up.
(p.109)

Narasi Rowling jelas memiliki pesonanya sendiri, tetapi di sini, dengan narasi yang sangat minimal, dia menuangkan kepiawaiannya menggunakan dialog yang bisa dinikmati dengan berbagai cara. Yang jelas, saya sudah menaruh hati kepada keempat sahabat baru ini, dan tidak sabar menunggu kelanjutan kisahnya. Selain nantinya ada hubungan antara Grindelwald dengan Dumbledore seperti pernah disinggung di Harry Potter, akan ada beberapa karakter yang kemungkinan tidak asing, yang berhubungan dengan orang-orang yang (pernah) ada di Hogwarts. 5/5 bintang untuk (semacam) nostalgia.

Advertisements

Pingkan Melipat Jarak – Sapardi Djoko Damono

34501430Judul : Pingkan Melipat Jarak (Trilogi Hujan Bulan Juni #2)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi+121 halaman

Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya. (hal. 13)

Setelah kisah cinta yang ragu-ragu di novel Hujan Bulan Juni antara Sarwono dan Pingkan terpisahkan jarak akibat studi dan pekerjaan, kini keduanya diuji kembali dengan sakit yang diderita Sarwono. Penyakit itu menyebabkannya harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit dan tidak boleh dijenguk oleh siapapun, termasuk Pingkan, terutama Pingkan. Dengan Katsuo, kawan Jepang yang juga menaruh rasa padanya, menemaninya di Solo, keraguan dan kekhawatiran yang dirasakannya semakin tak terjawab.

Di buku kedua ini, kisah terutama berpusat pada Pingkan. Mengenai perasaan Pingkan pada Sarwono yang dianggap tak pernah berubah dan semakin mantap, tetapi kembali samar saat ada badai yang datang. Kilas balik kisah keduanya, kenangan-kenangan dan jejak Sarwono memberi kesempatan bagi Pingkan untuk melihat kembali ke dalam dirinya, dan apa yang sungguh diinginkannya.

Katsuo, Bu Pelenkahu, dan cicak. Dan Pingkan memilih cicak. Dan karena sejak di kamar Sarwono cicak menyindirnya akan meninggalkan Sarwono, Pingkan teguh pada niatnya untuk tidak meninggalkan kekasihnya itu di Solo. Katsuo pasti tidak pernah mendengarkan cicak, Sarwono pasti pernah, pasti sering sebab selalu ada di balik jam dinding di kamarnya. Cicak tahu benar perangai pemuda itu, dan karenanya mencintainya. (hal. 49)

Jika dalam buku pertama trilogi ini saya menyebutnya sebagai ‘pertunjukan sastra’ karena menyajikan sederet ragam narasi, maka di novel kedua ini kita diajak masuk ke dalam labirin imajinasi, alam bawah sadar, mimpi, dan khayalan para karakternya. Batasan realitas begitu tipis, kita bisa memastikan mana yang nyata mana yang bukan, disandingkan dengan suasana sendu yang kental dengan aroma kematian, membuat buku ini terbuka untuk berbagai kemungkinan penafsiran.

Penulis masih menyajikan sederetan legenda kisah cinta yang dihubungkan dengan pasangan beda latar belakang ini. Tak hanya itu, budaya lain seperti mitos, kepercayaan, musik dan film juga melebur ke dalam labirin-labirin yang membawa pembaca ke tujuan yang sulit diprediksi.

Selalu ada yang terjadi tidak untuk bisa dipahami, tampaknya. (hal. 106)

Selain Pingkan, perasaan dan latar belakang Katsuo juga mulai terbuka. Bagaimana hubungannya sendiri dengan Pingkan sebenarnya tak hanya terhalang oleh pria Jawa yang dicintai Pingkan, tetapi juga keluarga dan masa lalu di Jepang yang masih menantinya.

Dalam beberapa bagian, tersirat kenyataan hubungan Katsuo dengan Pingkan yang mungkin lebih jauh dari yang ditampakkan sebelumnya. Kebersamaan mereka di Jepang sepertinya tidak disia-siakan begitu saja oleh Katsuo. Meski Pingkan tak pernah memberi tanda positif, ada kalanya keraguan mengubah cinta segitiga menjadi hubungan cinta yang lebih rumit.

Tanpa rasa sakit, jiwa kita kosong belaka. (hal. 74)

Alih-alih menjawab pertanyaan, buku ini justru memunculkan lebih banyak pertanyaan untuk dijawab di buku selanjutnya. Seperti Hujan Bulan Juni, yang membiarkan yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. Termasuk jalan apa yang dipilih Pingkan untuk dilipat jaraknya.

“Kenangan itu fosil, bukan abu, Toar. Tidak bisa diubah menjadi abu.” (hal. 115)

The Last Siege – Jonathan Stroud

Title : The Last Siege / Pengepungan Terakhir
Author : Jonathan Stroud (2006)
Translator : Ribkah Sukito
Editor : Primadonna Angela
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2011
Format : Paperback, 288 pages

Tiga remaja dengan masalahnya masing-masing dipertemukan oleh sebuah insiden di depan bekas kastil yang lama tak berpenghuni. Emily dan Simon tak pernah berteman sebelumnya, tetapi saat terjepit oleh musuh yang sama, bersama dengan Marcus yang berasal dari bagian kota yang lain, tiba-tiba mereka masuk ke dalam petualangan yang digagas oleh anak asing itu.

“Kastil itu hidup karena kau dapat menafsirkannya sesukamu. Kastil itu bisa menjadi apa pun yang kaupikirkan. Kau bisa membayangkan bagaimana kastil itu dulunya, ketika belum hancur, ketika orang-orang tinggal di dalamnya. Dan setiap orang bebas untuk membayangkan hal yang berbeda.” (p.80)

Petualangan mereka semakin liar dan semakin bebas, masing-masing mereka kini punya peran dalam mewujudkan imajinasi mereka. Mulai dari permainan menaklukkan kastil,  penjelajahan dan menapak tilas sejarah, hingga pertahanan yang mulai tak tampak sebagai permainan lagi. Masalah menjadi serius ketika Marcus menceritakan masalah keluarganya kepada kedua kawannya. Masalah yang membutuhkan campur tangan pihak berwajib, tetapi, akankah orang dewasa mengerti ketakutan mereka?

Kisah persahabatan, keluarga, kehilangan, dinamika remaja, dan pengkhianatan. Sama seperti kisah Baron Hugh—penghuni kastil pada masa Raja John—yang diceritakan Marcus, mereka menghadapi ujian kesetiaan yang serupa.

Pada akhirnya, meski dibalut kisah petualangan yang menyenangkan, buku ini menyimpan kenyataan yang pahit tentang jurang antara anak-anak dan orang dewasa, serta secercah mengenai kesehatan mental. Mungkin karena ditujukan untuk pembaca muda, pesannya cukup samar untuk menyembunyikan kebrutalannya.

“Aku sedang berpikir—tentang apa yang dikatakan ibumu.”
“Iya.”
“Hanya… Apakah semuanya sudah baik-baik saja?”
“Tidak, tentu saja belum. ….”
(p.143)

Mini Reviews: Non-English

Ada tiga buku terjemahan yang aslinya bukan berbahasa Inggris, dua di antaranya diterjemahkan dari bahasa aslinya, sedangkan yang satu melalui bahasa Inggris sebelum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

The Ninth / A Kilendecik / Anak Kesembilan by Ferenc Barnás (2006)

Translated from English to Indonesian by Saphira Zoelfikar, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Februari 2010, paperback, 296 pages

Set in a sleepy village north of Budapest in 1968, this touching, unsettling novel paints a richly wrought portrait of mid-twentieth-century Hungary. The narrator is the ninth child of a family distinguished by its size, poverty, faith, and abundance of physical and psychological disabilities. His confusion is exacerbated by the strict, secretive Catholic household his parents keep in the face of a Communist system. These dual oppressions propel him toward an inevitable realization of his guilt and desire that speaks to his struggle with a fateful, seamless beauty. (source)

Sebagai anak kesembilan dari sebelas bersaudara, posisi sang narator (yang namanya tidak disebutkan, hanya diketahui berinisial B [p.114]) cukup tidak signifikan di dalam keluarga. Dalam posisi itu, dia menjadi pengamat yang tak memiliki peran penting sebagaimana anak terbesar dalam keluarga yang ikut mencari nafkah, maupun anak yang lebih kecil yang lebih tergantung pada orang tua. Selain posisinya, B juga memiliki kepekaan yang berbeda dari saudara-saudarinya, baik caranya memandang masyarakat, juga kepekaan dalam arti yang sebenarnya mengenai kesulitannya untuk tidur dan mengabaikan bunyi-bunyian.

Aku tahu istilah akal sehat darinya; artinya ialah orang itu tidak manja. (p.187)

Menarik melihat dunia yang kejam melalui mata seorang anak. Dengan kepolosan yang terhapus sedikit demi sedikit, yang menjadikannya melakukan sesuatu di luar nilai yang ditanamkan keluarganya demi keluar dari ketidaknyamanan kehidupan. Di sini juga ada gambaran tentang politik yang tampak melalui mata seorang anak, jadi mungkin memiliki sedikit pengetahuan sejarah akan bermanfaat.

 

La casa de papel / Rumah Kertas by Carlos María Domínguez (2002)

Translated to Indonesian by Ronny Agustinus, Marjin Kiri, cetakan kedua, Oktober 2016, paperback, vi +76 pages

Buku mengubah takdir hidup orang-orang. (p.1)

Bluma Lennon, distinguished professor of Latin American literature at Cambridge, is hit by a car while crossing the street, immersed in a volume of Emily Dickinson’s poems. Several months after her untimely demise, a package arrives for her from Argentina-a copy of a Conrad novel, encrusted in cement and inscribed with a mysterious dedication. Bluma’s successor in the department (and a former lover) travels to Buenos Aires to track down the sender, one Carlos Brauer, who turns out to have disappeared. (source)

Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. (p.9)

Kegilaan dimulai saat kita diajak menapak tilas jejak dan pemikiran Brauer. Mulai dari kebiasaannya yang aneh dengan buku-buku, sampai kegilaan yang membuatnya melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, yang membuat ‘rumah kertas’ menjadi sesuatu yang mengerikan.

Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. (p.27)

“…. Brauer bersikeras bahwa buku-buku harus dikelompokkan berdasarkan kriteria yang berbeda dengan kriteria tematik yang vulgar itu.”
“…. Maksudku begini, Pedro Páramo dan Rayuela sama-sama karya sastrawan Amerika Latin, tapi yang pertama menuntun kita ke William Faulkner, dan yang satunya membawa kita ke Moebius. Atau dengan kata lain: Dostoievsky pada akhirnya lebih dekat dengan Roberto Arlt ketimbang dengan Tolstoy. Sebagai penegasan, Hegel, Victor Hugo, dan Samiento  layak dipasang berderetan ketimbang Paco Espínola, Benedetti, dan Felisberto Hernández.”
(p.38-39)

Buku ini memang bagaikan cermin bagi para pecinta buku. Segala hal yang dilakukan Brauer mungkin dekat dengan sebagian dari kebiasaan sebagian dari kita. Mulai dari yang biasa saja sampai yang ekstrem. Hingga di satu titik ada yang salah cara memaknai buku-buku, lalu apa yang bisa dilakukan?

“Orang-orang ini ada dua golongan, izinkan saya menjelaskan: pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka, …, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek yang indah, barang langka. Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, ….” (p.17)

Sastra Amerika Latin ini, entah cerpen atau novella tepatnya, membawa kita ke dunia yang sangat dekat, tetapi begitu jauh. Bagaimana seseorang yang menggilai buku bisa melakukan hal yang gila dengan buku-bukunya.

Orang rupanya juga bisa mengubah takdir buku-buku. (p.57)

 

Kaas / Keju by Willem Elsschot (1969)

Translated to Indonesian by Jugiarie Soegiarto, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Mei 2010, paperback, 176 pages

Dari karyawan hendak menjadi pengusaha, mengambil risiko terlalu besar karena iming-iming keuntungan berlipat, menjalankan bisnis tanpa pengetahuan yang memadai. Walau ditulis hampir setengah abad yang lalu, buku ini masih sangat dekat dengan keseharian kita, di mana orang berlomba-lomba menjadi pengusaha, lalu mengambil jalan yang sangat tidak aman. Bagi saya, mengambil risiko itu baik, tapi bukan tanpa perhitungan, karena orang bisa maju tidak hanya dengan modal nekat, tetapi juga harus mau belajar.

Hal inilah yang menjadi akar permasalahan Frans Laarmans. Gengsi menjadikannya nekat, mengambil risiko terlalu banyak untuk menjual keju yang sudah terlanjur dibelinya. Mulai dari mengambil barang terlalu banyak, menggunakan pekerja tanpa perhitungan, dan dikendalikan oleh gengsi menjadi seorang ‘pengusaha besar’. Meski singkat, buku ini menangkap karakter Laarmans dengan jelas, dengan segala kekurangan dan dinamikanya. Sehingga saya bisa merasakan jengkel akan keputusannya sampai empati dengan pilihannya.

Dalam seni tak ada percobaan. Janganlah coba memaki bila kau tak marah, jangan coba menangis bila jiwamu kering, jangan bersorak selama kau tak dipenuhi keriangan. (p.172)

Mini Reviews: Children’s Book

Oleh karena buku yang belum direview semakin menumpuk, sepertinya saya perlu menurunkan gengsi sedikit dengan membuat review yang cepat, singkat, dan padat. Dalam mini reviews, sebisa mungkin akan saya kumpulkan buku dengan tema atau genre yang seragam.

Stone Fox by John Reynolds Gardiner (1980)

Harpercollins, hardcover, 96 pages

Based on a Rocky Mountain legend, Stone Fox tells the story of Little Willy, who lives with his grandfather in Wyoming. When Grandfather falls ill, he is no longer able to work the farm, which is in danger of foreclosure. Little Willy is determined to win the National Dogsled Race—the prize money would save the farm and his grandfather. But he isn’t the only one who desperately wants to win. Willy and his brave dog Searchlight must face off against experienced racers, including a Native American man named Stone Fox, who has never lost a race. (source)

Kisah tentang seorang bocah sepuluh tahun yang harus berjuang sendiri saat kakeknya terbaring tak berdaya karena putus asa. Little Willy yang tak memiliki siapapun kecuali kakek dan Searchlight, anjingnya, berusaha menembus apa yang orang lain bilang tidak mungkin.

Awalnya saya kurang suka dengan buku ini karena karakter-karakter sampingannya kurang simpatik terhadap Willy, bahkan bisa saya katakan tak punya hati nurani, seluruhnya. Sepanjang cerita pun saya merasa bisa menebak akhirnya, mudah. Namun, saya salah. Buku ini berakhir dengan kejutan yang membuat saya tak tahu harus merasa bagaimana dengan keseluruhan isi buku ini. Yang jelas, akhirnya cukup menyentak, yang tak hanya mengubah suasana kisah menjadi sangat tragis, tetapi mungkin akan mengubah sikap semua orang yang tadinya tak simpatik itu.

In the Dinosaur’s Paw (The Kids of the Polk Street School #5) by Patricia Reilly Giff (1985) (Illustrated by Blanche Sims)

Yearling, January 1985, paperback, 72 pages

Richard Best membutuhkan penggaris di hari pertama sekolah usai libur Natal, untuk pelajaran tentang dinosaurus, tapi dia lupa di mana menyimpannya. Untungnya di sekolah dia menemukan penggaris di mejanya, yang menurut Matthew—kawannya—adalah penggaris milik dinosaurus karena inisial di atasnya. Setelah menemukan penggaris itu, Richard merasa segala keinginannya terkabul. Lambat laun perasaan gembira itu tergantikan oleh gelisah dan rasa bersalah karena dia merasa bertanggung jawab atas masalah yang dialami orang lain. Sayangnya saat dia berusaha memperbaikinya, penggaris itu hilang.

Karakter anak-anak dalam buku ini benar-benar amat sangat polos sekali, sesuai dengan usia mereka. Kenaifan dan keluguan bocah ini membuat beberapa hal dalam kisah terasa manis. Bahkan terhadap ‘musuh’ mereka bisa menjadi sangat pemaaf jika dihadapkan pada suatu masalah yang lebih besar, ketulusan hati yang pada dasarnya kita semua miliki jauh di dalam hati. Mungkin masalah-masalah anak terlihat sepele bagi kita orang dewasa, tapi seberapa jauh anak memikirkan masalah itu bisa jadi membuat kita malu karena mempermasalahkan hal yang seharusnya tidak perlu jadi masalah.

Sebenarnya buku ini lebih kepada kisah sehari-hari yang dibumbui dengan kisah ‘penggaris dinosaurus’ itu. Mungkin ada perkembangan karakter yang hendak digambarkan untuk keseluruhan serial besarnya. Jadi sepertinya membaca sesuai urutannya akan memberi pengalaman yang berbeda.

Sable by Karen Hesse (1994) (Illustrated by Marcia Sewall)

First Scholastic printing, September 2005, paperback, 85 pages

Ibu Tate tidak suka anjing, tetapi suatu hari seekor anjing muncul dalam kondisi menyedihkan, dan Tate langsung jatuh hati pada hewan malang itu. Kecintaan Tate bukan sekadar keinginan sesaat, dia benar-benar menyayangi anjing itu, yang dinamakannya Sable. Dia membuatkan tempat tinggal, memastikannya makan cukup, dan melatihnya untuk mandiri. Sayangnya, Sable punya kebiasaan buruk yang sulit diubah.

Beberapa kali Tate melatihnya, tetapi kebiasaan buruk itu memicu semakin banyak masalah hingga Sable terpaksa harus dikeluarkan dari rumah. Di sinilah menurut saya bagian terbaik dari buku ini, Tate sungguh-sungguh melakukan sesuatu agar Sable dapat kembali ke rumahnya, dan yang dilakukannya sungguh menyentuh, terlebih untuk anak seusianya.

Seringkali persahabatan dengan hewan menjadi sesuatu yang lebih mengena untuk diceritakan. Apalagi anjing yang terkenal sebagai hewan yang setia, dan saya selalu melihat persahabatan semacam ini justru melebihi ketulusan persahabatan antar manusia. Jika saya sedang usil sedikit dan mengandaikan Sable adalah manusia, kisah dalam buku ini rasanya akan punya banyak perumpamaan yang cukup mendekati sifat manusia (dewasa) juga. Namun biarlah keusilan itu saya simpan sendiri.

Kisah yang indah dalam kesederhanaan buku anak. Sesuatu yang besar bisa jadi muncul dari hal kecil yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Indigo (Water Tales #2) by Alice Hoffman (2002)

First Scholastic printing, January 2003, paperback, 86 pages

A real friend believes in you when you don’t believe in yourself, (p.11)

Tiga sahabat; Martha Glimmer, Trevor dan Eli McGill merasa Oak Grove bukan tempat mereka seharusnya berada. Martha punya mimpi untuk berada di kota-kota besar dan mengembangkan karir sebagai penari, sedangkan McGill bersaudara merindukan laut yang tak pernah mereka jumpai sejak hidup di Oak Grove yang tinggi dan kering.

You could easily tell who was who by whether or not they listened to you. (p.14)

Sometimes words spoken are the ones you’ve been afraid to think, but once they’re said aloud there’s no way to make them disappear. (p.27)

Oak Grove sendiri punya sejarah yang suram berhubungan dengan air. Banjir besar membuat mereka membuat dinding yang melindungi kota itu dari air. Namun saat ketiga sahabat itu memutuskan untuk pergi menggapai mimpi, mereka menemukan bahwa mimpi itu bisa diwujudkan dengan cara yang lebih baik. Penemuan yang dibayar dengan sebuah peristiwa traumatis bagi penduduk kota kering itu.

They were both thinking of people who’d disappeared and were never found again, and of how it was to leave behind the people you loved, even if the life you wanted wasn’t the one they could give you. (p.33)

Kisah persahabatan dan keluarga dalam sebuah buku tipis, dalam balutan magical realism dengan, mungkin, sedikit fantasi. Beberapa halaman buku ini dihiasi oleh semacam foto, alih-alih ilustrasi seperti umumnya buku anak. Saya menikmati kalimat-kalimat di buku ini, walaupun beberapa hal mudah ditebak. Hal tentang takdir dan mimpi itu lumayan terlalu instan menurut saya, tetapi, ya, kadang hidup memang seperti itu.

Lulu Walks the Dog (Lulu #2) by Judith Viorst (2012) (Illustrated by Lane Smith)

Atheneum Books for Young Readers (imprint of Simon & Schuster Children’s Publishing Division), First paperback edition, March 2014, 170 pages

Lulu is back with a brand-new refrain, and it’s time to earn some cash. How else can she buy the very special thing that she is ALWAYS and FOREVER going to want?
After some (maybe) failed attempts, Lulu decides on the perfect profitable job: dog walking. But Brutus, Pookie, and Cordelia are not interested in behaving, and the maddeningly helpful neighborhood goody-goody, Fleischman, has Lulu wanting to stomp his sneakers—and worse.
How will Lulu deal with three infuriating dogs and the even more infuriating Fleischman? And what is this SUPERSPECIAL thing that Lulu is so fiercely determined to buy? I really don’t feel like discussing that right now.
Once again, picture book legends Judith Viorst and Lane Smith bring us the loudest, rudest girl to ever shove her way into our hearts.
(synopsis from back cover)

Saya tidak bisa merasa simpatik ataupun suka pada karakter-karakter di dalamnya, entah Lulu yang keras kepala dan arogan—terlepas dari usianya yang sangat muda, maupun Fleischman yang suka menolong, pun orang dewasa di sekitarnya tak mengambil porsi lebih baik pada kisah anak ini. Saya juga kurang menikmati narasinya, terlebih saat penulis mengambil alih beberapa bagian dan memasukkan suaranya sendiri di sini.

91xjroxyyel

Hal terbaik dari buku ini adalah ilustrasinya. Saya suka sekali sapuan tinta sang ilustrator yang cantik, tak terlalu banyak detail tapi sangat ekspresif. Pun bentuk-bentuk geometrisnya tak menghilangkan keluwesan yang tercermin dalam gambar-gambarnya. Porsi gambarnya cukup banyak memenuhi keseluruhan isi buku, yang cukup menghibur di antara kisahnya yang berbalut humor ala penulis.