Tag Archives: Secret Santa

Pengakuan Secret Santa

Dear, my target.

Saya buat pengakuan lengkapnya di sini saja ya, soalnya bakal panjang. Jadi cerita bermula lama sebelum event SS 2014 diumumkan. Ada pembicaraan di WA Joglosemar tentang riddle, dan kemudian saya mengatakan bahwa saya akan harus menggunakan Benedict Cumberbatch (BC) sebagai salah satu petunjuk, siapa pun target saya. Dan mungkin saya akan #ketawasetan jika target saya ternyata adalah salah satu dari mereka yang sentimen jika BC disebut-sebut.

Kemudian, hari penentuan santa-target tiba.

Dan saya #ketawasetan.

Langsung saja ya, target saya memang mas Tezar yang saya beri riddle sebagai berikut. Saya memenuhi janji pribadi untuk membawa-bawa abang BC di riddle (dan saya juga berkali-kali memberi kode tentang BC, sampai ngaku-ngaku menjadi santanya Ren). Sampai di sini, apakah saya perlu menjelaskan lebih lanjut?

Yah, berhubung saya memilih setiap kata dalam riddle saya yang panjang itu dengan berhati-hati, saya juga mau menunjukkan bahwa setiap kata memang ada maksudnya.

Kutipan paling atas berasal dari salah satu buku favorit saya The Little Prince by Antoine de Saint-Exupery. Sebenarnya saya hanya mencari quote yang mengandung ‘rahasia’ untuk mengantarkan pada riddle secret santa ini, dan tak disangka, quote ini sepertinya sangat mewakili.

Kemudian pesan dari secret santa (saya) untuk mas Tezar:

Petunjuk nomor satu, Victoria dan Elizabeth di sini mengacu pada Ratu, karena saya juga menyebut ‘bukan pangeran’. Dan karena tidak berhubungan keluarga, maka seharusnya ada hubungan lain. Yang saya maksud putra Victoria adalah dia lahir pada masa Victoria. Aku juga putra Elizabeth, bukan mengacu pada masa Elizabeth sih, tapi ke masa kini, Ratu Elizabeth II. Jadi karya yang lahir di Inggris, di masa Victoria dan dilahirkan kembali di masa sekarang, bisa banyak, tapi yang saya maksud di sini adalah Sherlock Holmes.

Petunjuk nomor satu mungkin masih luas, apalagi adaptasi Holmes hampir ada di setiap masa, karenanya saya khususkan lagi di nomor dua. Seniman gila yang identik dengan bunga matahari: Vincent van Gogh. Saya sudah mengujinya di google dengan kata kunci ‘sunflower art’ atau ‘sunflower painting’, jadi ini bisa dicari.

Petunjuk nomor tiga sebenarnya adalah terjemahan bebas dari “I am fire, I am death.”, salah satu kalimat sang naga Smaug di film The Hobbit. Yang panas dan membakar itu api kan, fire. Saya sudah mengujinya pada mbak Perdani yang bisa menebaknya. Lagipula, saya pernah menyebut-nyebut itu juga di grup Joglosemar.

Jadi, apa hubungan aku dengan Sherlock, Van Gogh, dan Smaug? Mudah kan, ketiganya bukan aku, tapi aku pernah memerankan ketiganya. Yah, aku memang bukan santamu, dan mas Tezar termasuk salah satu yang sentimen dengan BC (maaf ya) #ketawasetan. Saya suka menggunakan BC sebagai pengalih.

Sekarang tentang saya, petunjuk nomor satu sudah bisa dipecahkan (walaupun ternyata saya salah setting hingga saljunya terlambat turun). Posisi kelima sebenarnya mengacu ke tanggal lahir, saya agak khawatir petunjuk ini terlalu jelas, soalnya mas Tezar tahu pasti tanggal lahirku (berkat arisan Joglosemar). Petunjuk kedua sudah berhasil dipecahkan di sini. (Selamat, mas, Anda berhasil mengukuhkan eksistensi sebagai kembaran). Petunjuk nomor tiga, ehm, ga usah dijelaskan ya 😉

Kemudian, soal quote penutup, selain dari salah satu penulis favoritku (Oscar Wilde), BC juga pernah menyebutkan kalimat itu di film The Fifth Estate, saat dia berperan sebagai Julian Assange.

Mungkin petunjuknya tidak bisa dipecahkan sesuai urutan, tetapi seharusnya bisa, bukan?

Dan, kebenaran memang selalu hanya ada satu. Terima kasih mas Tezar karena sudah bisa menemukanku melalui salah satu riddle. Maaf karena saya tidak bisa mengaku sejak awal, terus bikin penasaran dan mengacaukan tebakan, maaf juga karena kadonya datang terlambat, karena satu dan lain hal. Oiya, terima kasih sudah memberi gambar Sinichi, jadi double fangirling deh *eh :p

Salam,
#AdaSantaDiAntaraKita

Enchanted Glass – Diana Wynne Jones

enchanted glassTitle : Enchanted Glass
Author : Diana Wynne Jones (2010)
Publisher : GreenWillow Books (Imprint of HarperCollins Publishers)
Edition : First paperback edition, 2011
Format : Paperback, 292 pages

Andrew Brandon Hope mendapatkan kabar kematian kakeknya dari pihak ibu, Jocelyn Brandon, sesaat setelah ditemui oleh hantu kakeknya yang menunjukkan sebuah berkas dengan segel hitam. Andrew mewarisi harta dan tanah Melstone House, serta tanggung jawab kakeknya, yang adalah seorang penyihir, untuk menjaga seluas wilayah tertentu (field-of-care), tempat Jocelyn ‘membimbing’ orang-orang di dalam lingkaran tersebut. Sayangnya, berkas bersegel hitam itu belum bisa ditemukan di Melstone, sementara Andrew masih buta dengan masalah persihiran.

Aidan Cain, anak laki-laki berumur dua belas tahun, baru saja ditinggalkan oleh neneknya. Kini dia sebatang kara, tetapi neneknya yang seorang penyihir berpesan agar dia pergi kepada Jocelyn Brandon jika mengalami kesulitan. Maka Aidan, yang semasa dirawat di rumah yatim piatu dikejar-kejar oleh makhluk jahat, memutuskan untuk pergi ke Melstone, dan mendapati bahwa yang dicarinya juga telah meninggal dunia. Andrew memutuskan untuk tetap menampung Aidan, karena di field-of-care Brandon dia aman.

Andrew dan Aidan pun mengalami petualangan menegangkan dalam usaha mereka menetapkan field-of-care Brandon dengan cara menelusurinya. Keduanya—terutama Aidan yang lebih peka—bisa merasakan perbedaan ‘rasa’ yang ditimbulkan di daerah yang terlindungi oleh sihir Brandon, dengan daerah luar yang rasanya ‘tidak aman’. Dalam penelusuran tersebut, mereka menemukan bahwa ada yang telah melanggar batas tersebut. Andrew pun berusaha mempertahankan wilayah kakeknya dari pihak-pihak jahat yang ingin mengambil alih, sekaligus melindungi Aidan dari pengejar yang ingin membunuhnya.

Ini adalah kali kedua saya membaca karya penulis ini, dan keduanya sama-sama menggunakan karakter utama dewasa (dalam buku ini Andrew Hope) meski kisahnya ditujukan untuk anak-anak. Andrew yang sejak awal dikatakan hanya peduli pada dunianya sendiri, perlahan dituntut untuk bertanggung jawab pada Aidan, pada field-of-care kakeknya, pada keajaiban-keajaiban di rumahnya sendiri. Melalui Aidan, Andrew bisa mengenal kemampuannya mempengaruhi orang dan eksistensi melalui kacamatanya, kemampuan yang juga dimiliki oleh Aidan. Melalui Aidan pula, Andrew mengetahui rahasia panel kaca warna-warni yang pernah dikatakan oleh kakeknya memiliki kekuatan sihir, tetapi tak pernah dijelaskan lebih lanjut. Hubungan timbal-balik keduanya inilah yang berperan penting dalam perkembangan keduanya.

Fakta menarik mengenai Andrew Hope adalah, bahwa sebenarnya kakeknya telah jauh-jauh hari menanamkan pengetahuan sihir padanya di masa kecilnya. Namun, ibu Andrew yang tak mempercayai sihir, serta lingkungan ‘normal’ Andrew—di luar Melstone yang hanya didatanginya saat liburan—menekan pengetahuan itu hingga terlupakan olehnya semasa dewasa. Kini, saat Andrew memegang Melstone, perlahan ingatan itu timbul kembali, ingatan yang akan menentukan apakah dia bisa menyelamatkan Aidan dan Melstone dari kekuatan jahat yang perlahan masuk dan menguasai. Saya menikmati saat-saat ingatan Andrew muncul perlahan, dipicu oleh hal-hal kecil yang berkaitan dengan masa kecilnya. Tak sepenuhnya sihir, tapi tetap terasa magis.

Satu hal yang agak menjadi tanda tanya bagi saya adalah hubungan asmara yang dialami oleh Andrew. Buku ini dilabeli untuk anak mulai usia 10 tahun, tetapi di dalamnya terkandung kekaguman Andrew kepada wanita secara fisik. Bagian itu tidak disampaikan dengan detail, jadi mungkin saja memang masih bisa diterima, apalagi standar ‘dewasa’ anak-anak di luar negeri berbeda dengan di Indonesia, karena faktor budaya yang berbeda. Juga ada sedikit kejutan di akhir mengenai asal-usul Aidan yang merupakan materi dewasa (atau minimal remaja) tapi bisa disampaikan dengan sangat halus.

Unsur-unsur fantasi dalam buku ini menurut saya ringan, tidak terlalu pekat, tetapi sekaligus kompleks dan kuat. Dunia yang dibangun penulis tidak sepenuhnya fantasi, wilayah sihir dan nonsihir tidak dibatasi dengan jelas, dan memang buku ini tidak berfokus pada setting. Selain wilayah sihir, benda-benda ajaib, sihir tak terlihat yang mekanismenya tak terlalu detail, ada juga makhluk-makhluk ajaib seperti weredogs (iya, bukan werewolves), counterparts—makhluk yang merupakan perwujudan dari manusia lain di wilayah tersebut, juga—salah satu favorit saya untuk alasan personal—bagaimana konflik para karakter kita berhubungan dengan legenda Raja Peri Oberon dan para istrinya, termasuk Ratu Titania, dan tak ketinggalan pelayannya, Puck. Penulis menyatukannya dengan apik, apalagi secara pribadi, saya suka modifikasi legenda dan mitos dalam kisah fantasi yang lebih modern. Hal itu membuat saya merasa lebih familiar dengan kisah tersebut, lebih mudah untuk masuk, dan menjadi bagian dari sebuah semesta fantasi raksasa.

4.5/5 bintang untuk kisah sihir perkotaan.

… he knew that magic was one of the great forces of the universe that had come into being right at the beginning, along with gravity and the force that held atoms together, as strong as or stronger than any force there. (p.255)

Review #12 of Children’s Literature Reading Project

Review #3 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

Januari : Buku SS

Januari : Buku SS

Terima kasih untuk santaku yang baik, saya suka buku ini, dan kini waktunya untuk menebak identitasmu. Petunjuk darimu sudah saya posting di sini. Saya langsung mengartikan ‘yang berjarak tidak kurang 48,4 mil darimu’ itu sebagai ‘orang dekat’, entah kenapa. Padahal justru itu menjauhkan dugaan, karena tidak kurang berarti pas, atau lebih. Petunjuk kedua adalah ‘yang dapat mendengar cicitan yang sering kau ungkapkan dengan jelas. namun sebaliknya tidak’, artinya santaku yang baik sudah follow twitterku, tetapi saya belum follow santaku yang baik. Malam itu juga saya langsung menelusuri daftar follower twitter dan membuat catatan dalam hati. Petunjuk yang tidak bisa saya pecahkan hingga saat ini adalah ‘mungkin saya adalah bunga es di lereng semeru’, saya punya beberapa dugaan, tetapi tidak ada yang pas.

Santaku yang baik, beberapa hari setelah mencoba mengutak-atik riddlemu, aku memutuskan untuk menggunakan cara di luar ‘prosedur yang semestinya’, yang harus kulakukan segera sebelum datanya dihapus. Saya melacak no.resi paket cantik darimu. Memang sih saya tidak mendapatkan resinya, tetapi (untungnya), tulisan di paket dengan spidol masih jelas dan terbaca (tidak seperti paket tahun lalu yang sudah tidak terlacak), dan menemukan bahwa santaku yang baik berada di suatu tempat di Semarang. Menilik paketnya yang cantik dan megah, saya tidak yakin bahwa santaku yang baik menitipkannya, jadi kemungkinan besar paket itu dikirim sendiri. Sebenarnya, ada satu kecurigaan dari teman yang sudah memfollow santaku yang baik itu tentang pembelian paket di salah satu online book store, dan memang, meski saya memberi link ke online book store yang berbeda, saya tahu buku ini tidak dibeli dari sana karena biasanya online store itu membungkus ulang bukunya dengan plastik.

Jadi, santaku yang baik, maaf ya kalau konspirasi alam semesta membuatku menebak dirimu adalah Hanum Puspa, bukan sepenuhnya berdasarkan riddle. Saya menunggu konfirmasi darimu. Sekali lagi, terima kasih banyak.

SecretSanta2014

Riddle Secret Santa 2014

SecretSanta2014

Hallo, santaku yang baik hati, apa kabar di sana? Masih dingin atau tetap panas? ;p Hari ini saatnya menampilkan riddle-mu di blog ini, tapi sebelumnya, saya mau cerita tentang proses menerima kado darimu.

Berhubung wishlist-ku mengandung sebuah buku impor, maka saya sabar menunggu. Sampai satu per satu teman-teman menerima kado, dan saya belum, rasanya gelisah–masih sabar tentu saja–hanya gelisah mengetahui siapa dirimu dan seperti apa riddlemu. Hingga suatu malam, bel rumah berbunyi. Para penghuninya yang sudah bersiap tidur terkejut dengan adanya pengunjung di jam yang tak wajar. Sebuah paket jumbo datang, padahal saya tak sedang menunggu apa pun, dan paket itu tidak dalam ukuran yang wajar untuk 1-2 buku. Tanpa nama, tak ada resi, saya buka pembungkus luar paket dengan berdebar-debar.

IMG-20141210-WA0025

Kemudian saya menemukan pembungkus dalam yang sangat cantik. Ada sebuah stamp tentang traveller juga, saya masih menganggapnya sebagai petunjuk (meski tak yakin juga). Lalu setelah menemukan dua buku di dalamnya, tahulah saya bahwa paket ini dari santaku yang baik hati *terharu*.

IMG-20141210-WA0028

Dan jawaban atas paket jumbo adalah sebuah kenang-kenangan yang membutuhkan pengamanan ekstra ini:

2014-12-10 21.13.43

Mug-nya cantik <3, begitu saya lihat judulnya, saya jadi ingat buku yang baru beberapa waktu sebelumnya saya selesaikan dan saya koleksi, Fortunately, The Milk karya Gaiman, apakah ini sebuah petunjuk juga? Atau murni sebuah hadiah? Kutunggu jawabanmu sebulan lagi ya, santa baik hati. Setelah mengagumi isinya, saya tak sabar untuk mengetahui siapa dirimu, dan saya temukan juga kartu cantik ini:

2014-12-10 21.14.04
MUNGKIN SAYA ADALAH BUNGA ES DI LERENG SEMERU, YANG BERJARAK TIDAK KURANG 48,4 MIL DARIMU, DAN DAPAT MENDENGAR CICITAN YANG SERING KAU UNGKAPKAN DENGAN JELAS, NAMUN SEBALIKNYA TIDAK.

Jadi, santaku yang baik hati, siapakah sebenarnya dirimu?

Oiya, Enchanted Glass nya sudah kubaca ya, sudah ngedraft review juga. Aku suka, makasih :* Semoga bulan depan bisa baca Max Havelaar, dan bisa direview sekalian 😉

PS. Maaf ya fotonya ga jelas, itu hasil pencahayaan lampu malam yang ga jelas :p

Wishful Wednesday (49) : Wishlist SS 2014

wishful wednesday

Sudah lama sekali ga ikut meme ini, meski sebenarnya beberapa kali diniatkan. Kali ini kebetulan bertepatan dengan event Secret Santa 2014, jadi sekalian saya gabungkan dengan post WW. Buat yang mau ikut WW, lihat detailnya di blog kak Astrid ya.

SecretSanta2014

Ketiga kalinya ikut event Secret Santa, dan semakin lama semakin bersemangat. Semoga bukan hanya saya saja yang semangat ya, soalnya event ini bisa untuk mendekatkan para member, yang tadinya tidak kenal jadi kenal, yang tadinya jauh bisa jadi saudara kembar *eh, lol.

Baiklah, post ini sebenarnya khusus saya tujukan bagi (calon) santa saya yang baik hati. Langsung saja ya, ada satu buku yang sangat saya inginkan.

Enchanted Glass

Ini link belinya di Periplus Online, karena di sana pembayarannya bisa dengan ATM, dan harganya di bawah seratus ribu. Kalau santa mau membelikan di tempat lain juga ga masalah, bahkan kalau misalnya santa punya dan sudah tidak ingin mengoleksinya saya juga menerima. Intinya saya tidak mempermasalahkan baru atau bekasnya, asal masih mulus. Covernya berbeda juga ga masalah, yang penting berbahasa Inggris, soalnya buku ini belum diterjemahkan dan saya tidak bisa bahasa lainnya :p

Tapi, kalau santaku yang baik hati berkeberatan membelikan buku itu, dengan alasan apa pun, saya punya cadangan wishlist. Ada dua buku klasik Indonesia dan dua buku fantasi terjemahan:

1. Habis Gelap Terbitlah Terang – Armijn Pane (link Bukabuku)

2. Max Havelaar – Multatuli (link Mizanstore)

3. Peter Nimble and His Fantastic Eyes – Jonathan Auxier (link Bukabuku)

4. The Clockwork Three – Matthew Kirby (link Bukabuku)

Kalau di antara empat itu, saya tidak punya prioritas, saya serahkan sepenuhnya pada santa yang baik hati untuk memilihkan. Sama seperti sebelumnya, santa bisa beli di mana saja, tampaknya sebagian masih bisa ditemukan di toko offline juga.

Lima saja, semoga santa yang baik hati tidak kesulitan ya. Terima kasih sebelumnya. Terima kasih juga untuk divisi event yang sudah bersusah payah menghidupkan terus event ini. Tidak sabar untuk menikmati keseruan-keseruan Secret Santa dua bulan ke depan 🙂

The Man Who Loved Books Too Much – Allison Hoover Bartlett

8064452Title : The Man Who Loved Books Too Much : The True Story of a Thief, a Detective, and a World of Literary Obsession
Author : Allison Hoover Bartlett (2009)
Translator : Lulu Fitri Rahman
Editor : Indradya Susanto Putra
Publisher : Pustaka Alvabet
Edition : Cetakan I, April 2010
Format : Paperback, xvi + 284 pages

Mungkin dia hanya sedikit lebih gila daripada mereka semua. (p.209)

Apa yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian terhadap pencurian buku adalah pengalamannya sendiri yang terpaksa menyimpan satu buku langka, sebelum dirinya harus mengembalikan buku itu ke tempatnya. Penulis sendiri bukan seorang kolektor buku, meski dia membaca dan memiliki keterikatan pada buku-buku tertentu dari masa kecilnya. Dari penjelajahannya di internet, dia menemukan dua orang yang akan menjadi sumber utamanya dalam buku ini. Yang pertama adalah sang pencuri buku, John Gilkey, dan yang kedua adalah Ken Sanders, seorang agen buku langka yang pernah menjadi kepala asosiasi untuk melacak para pencuri buku langka.

Sepak terjang Gilkey sudah sangat termasyhur. Dengan kecerdikan dan kelicikannya, dia bisa mendapatkan puluhan nomor kartu kredit dan menggunakannya dengan hati-hati sehingga pembelian yang dilakukannya terlihat sah sampai saat pemilik kartu kredit menerima tagihannya. Dia juga kerap menggunakan cek kosong, melakukan transaksi melalui telpon umum, melakukan serah-terima di tempat umum, menggunakan identitas palsu, dan lain sebagainya. Keahlian yang lambat laun bisa terbaca oleh Sanders, beberapa kali memasukkannya ke dalam penjara, namun tak lebih dari beberapa bulan dan Gilkey tetap saja bisa lolos dan melakukan kejahatan yang sama.

Sebagaimana yang sering diucapkan kolektor, mengoleksi itu seperti dahaga, dan memiliki satu buku lagi tidak memuaskan dahaga untuk memiliki buku lainnya. (p.99)

Penulis pun menelusuri latar belakang keluarga dan masa lalu Gilkey, menemukan bahwa dia dibesarkan di lingkungan di mana mencuri adalah hal biasa, bahkan di rumahnya pun terjadi pencurian antar penghuninya. Gilkey memandang bahwa koleksi bukunya dapat menjadi alat untuk meningkatkan status sosialnya, dimulai dari satu pencurian, berlanjut ke pencurian berikutnya. Gilkey merasa bahwa jika dia berhasil mencuri satu buku dari satu penjual, maka itu adalah haknya. Dia memandang satu buku tak akan berarti banyak bagi penjual yang memiliki tumpukan buku berharga lainnya, toh dia sudah berusaha mendapatkannya, bagaimanapun caranya.

Bagaimanapun, Gilkey mencuri bukan karena uang, karena dia tidak menjual kembali buku curiannya, sebagaimana beberapa pencuri lain. Gilkey mencuri untuk dikoleksi, untuk dipajang di rak bukunya, untuk meningkatkan harga dirinya. Penulis menyimpulkan bahwa Gilkey mencuri karena kecintaannya kepada buku, salah satu pernyataan penulis yang tidak saya setujui. Apakah memiliki sesuatu demi kebanggaan dan gengsi belaka bisa disebut cinta? Gilkey bahkan tidak berniat membaca buku-bukunya, apakah dia bisa disebut pecinta buku? Menurut saya, kalau diberi kesempatan dan kemampuan untuk mencuri dan mengoleksi benda lain selain buku sejak awal, mungkin dia tetap akan bertindak sama, dan saat itu mungkin dia tidak akan berpikir mengoleksi buku.

Aku mulai merasa bahwa desakan untuk mengoleksi tidak datang tiba-tiba, tetapi mendapatkan momentum setelah, katakanlah, satu atau dua kali pembelian. (p.125)

Saya sangat memahami kebencian dan obsesi Sanders untuk mengejar Gilkey. Bagi saya, Sanders lah pecinta buku yang sejati. Dia mengoleksi buku, merawatnya, dan memperlakukannya sebagaimana seharusnya. Dia menghargai kepemilikan buku, memahami bahwa sebuah buku tidak hanya dinilai berdasarkan edisi dan harganya saja, dia tahu bahwa setiap buku memiliki kisah untuk diceritakan.

“… Aku menghabiskan semua uangku untuk membeli buku-buku pada hari itu. Sampai sekarang aku masih melakukannya. Aku semakin tua, semakin botak, semakin gendut, tetapi rupanya tidak semakin bijaksana.” (Ken Sanders, p.87)

Jika Wall Street memegang buku dan mengubahnya menjadi komoditas investasi berharga tinggi, maka waspadalah. Tak akan ada lagi yang sanggup membeli buku dan kegembiraan yang ada dalam mengoleksi buku akan lenyap. Mayoritas koleksi berada dalam kisaran antara beberapa ratus hingga beberapa ribu dolar. Jika kau mengoleksi apa yang kaucintai dan nikmati, dan selalu membeli yang terbaik sesuai kesanggupan, dan membeli buku dalam kondisi terbaiknya, buku-bukumu akan selalu terbukti menjadi investasi yang baik. (Ken Sanders, p. 115)

Hal lain yang menyebalkan dari Gilkey adalah bahwa dia menganggap penjara sebagai hukuman yang setimpal untuk pencuriannya, dan kemudian dia akan mengambil ‘bayaran’ dari waktunya di penjara dengan mencuri lebih banyak buku lagi. Sejujurnya, saya agak sulit memahami logika si pencuri ini, dia menganggap buku yang sudah berhasil dicurinya adalah haknya, sepenuhnya. Jika dia gagal mencuri, maka dia menyalahkan para penjual buku itu. Dia tidak memikirkan nasib pemilik kartu kredit yang dibajaknya, ataupun pemilik buku yang dicurinya.

Kemahirannya untuk membenarkan pencurian ini sama dengan keahliannya melakukan pencurian. (p.98)

“Aku harus berhati-hati dengan ucapanku karena beberapa agen buku berulang kali membuat pengaduan, berusaha membuatku dalam masalah.” (John Gilkey, p.170)

Banyak hal tak menyenangkan yang dituliskan dalam buku ini jika berhubungan dengan Gilkey, baik karena kelakuannya, maupun karena pendapat penulis yang terkadang tidak sesuai dengan pendapat saya pribadi. Akan tetapi, tak sedikit pula hal menarik yang terdapat dalam buku ini. Informasi mengenai sistem jual-beli buku langka, tipe-tipe kolektor dan penjual, bagaimana kisah buku-buku edisi pertama ditemukan—yang seringkali tidak disengaja ditemukan di gudang dengan harga murah, juga kisah penulis sendiri dengan buku-buku masa kecilnya—yang kini diwariskannya kepada anak-anaknya, memberi perasaan keterikatan yang sama dan tak asing.

Ada perbedaan antara orang yang sekadar mencintai buku dan orang yang mengoleksinya, dan agen berpengalaman bisa tahu mana yang kolektor secepat ketika dia ditanya tentang tempat menyimpan edisi pertama The Hobbit (tidak mungkin ditaruh begitu saja di rak terbuka). (p.86)

Terakhir, penulis kembali menekankan apa yang didapatkannya pada penyelidikannya tidak lain merupakan salah satu bentuk kekuatan yang dimiliki oleh sebuah buku. Sebuah buku membuat orang rela dipenjara. Buku juga membuat orang rela menghabiskan uang dan waktunya. Buku membuat orang-orang seperti Sanders menjadi detektif amatir yang tak dibayar demi menyelamatkan buku-buku dari tangan-tangan seperti Gilkey.

Dorongan menakutkan untuk menghancurkan atau menekan buku merupakan pengakuan terhadap kekuatannya, dan hal ini tidak hanya terjadi kepada naskah ilmu pengetahuan, politik, dan filsafat, tetapi juga buku puisi dan fiksi yang tenang, yang bagaimanapun memiliki kapasitas besar untuk mengubah kita. (p.256)

Kisah ini ditulis semacam esai, dengan alur yang tidak runtut sehingga terkadang saya kesulitan menentukan kapan terjadinya pencurian atau pencarian tersebut. Seringkali terjadi pula perpindahan waktu yang mencolok pada bab yang sama. Pembahasannya pun hanya berupa kumpulan informasi dan pendapat penulis serta beberapa ahli yang diwawancarainya. Meski demikian, pada akhirnya penulis memberi kesimpulan yang masuk akal tentang perilaku Gilkey, bukan secara kejiwaan atau psikologis, tetapi lebih kepada pengamatannya sebagai seorang reporter. Intinya, saya menikmati informasi yang diberikan oleh penulis, tetapi agak kurang puas dengan kedalamannya.

3/5 bintang untuk reportase kisah si pencuri.

Sebelum pameran, aku baru tahu bahwa definisi “langka” bisa sebanyak agen buku itu sendiri. Sebagian besar definisi cenderung main-main. Burt Auerback, seorang juru taksir Manhattan, dikutip telah mengatakan, “Buku langka adalah buku yang harganya jauh lebih mahal sekarang daripada ketika diterbitkan.” Kolektor Amerika yang sudah almarhum, Robert H. Taylor, berkata bahwa buku langka adalah “buku yang sangat kuinginkan dan tak bisa kutemukan.” Ketika orang-orang menjawab dengan serius, mereka semua sependapat bahwa “rare”—langka—adalah istilah yang sangat subjektif. (p.11)

Review #3 for Lucky No.14 Reading Challenge  category Freebies Time

Januari #2 : Buku Santa

Saatnya menguak siapa tersangka Secret Santa saya. Sebagaimana sudah saya tuliskan di postingan ini, Santa saya ini mengaku sebagai kawan seperjuangan Kartini. Pikiran saya saat itu terpecah menjadi dua, yaitu kawan Kartini yang sesungguhnya, yang mana saya sama sekali tidak punya ide siapa namanya, atau, kawan dalam arti sama-sama pejuang wanita. Meski begitu, hanya satu nama sebenarnya yang terbersit dalam pikiran saya sejak awal, yaitu Dewi Sartika, dan itu karena postingan ini (hey, ada komen saya di situ) dan ini (sayangnya karena suatu hal saya tidak jadi berpartisipasi). Jadi, semoga tebakan saya tidak salah, Santa saya adalah wanita cantik dari Sulawesi yang saat ini tinggal di Bandung, yang bernama lengkap Atria Dewi Sartika dan memiliki blog buku My Little Library.

Terima kasih ya, Santa, saya suka sekali bukunya. Walaupun ‘hanya’ tiga bintang, saya puas sudah membaca buku ini. Seandainya bukan dari kamu, mungkin saya tidak akan menyelesaikannya secepat ini. Terima kasih *ketjup*. Oiya, saya tidak tahu apakah kamu sudah tahu atau belum, tapi Hujan Bulan Juni sudah pernah saya review sebelumnya di sini, jadi buku bercover cantik darimu masuk ke dalam koleksi berhargaku yang akan kubaca ulang sewaktu-waktu *ketjuplagi*.

Jadi, benar kan, Santa, kalau namamu Atria?