Tag Archives: Sherlock Holmes

A Birthday Blog Party for Sherlock Holmes

Sherlock Holmes is one of my favourite fictional character, so when I saw this post from Hamlette, I decided to bookmark it. But, alas, my busy days made me forget about this party until today, 12 hours before the party ended, what a shame. It’s officially midnight in my country, when I write this post, but no complaining, I’ll do it anyway.

1.  When and how did you first encounter Sherlock Holmes?

I just remember one day when I was around 8-10 years old, my sister borrowed a translation edition of (I guess) abridged version of some Holmes’ short stories. I was enjoying mysteries at that time, and Holmes did awe me.

2.  Please share a fact or two about yourself related to Holmes.  (You’ve read the whole canon, you’ve been to Baker Street, you’re an official BSI member, etc.)

Last year, I encouraged myself to accept an offer to translate a Holmes’ short story for a publisher. My first sort-of-professional publishing work was Sherlock Holmes, couldn’t be proud more.

3.  What are three of your favorite Holmes adventures?

The Final Problem, The Adventure of the Speckled Band, The Naval Treaty.

4.  What draws you to the Sherlock Holmes stories?

The classic nuance of detective stories. I love the settings, the solitude (in a good way), and the brilliance.

5.  If you were going to give Sherlock Holmes a birthday present, what would it be?

A telescope. I love astronomy, and I hope he can see why stars and planets are matters. Besides, stargazing is way more healthy activity than smoking, with, more or less, same effect.

6.  If you could climb into a Holmes story and replace any one character for a day, who would you like to be?

Irene Adler, maybe, it would be great to beat Sherlock Holmes 🙂 Or, surely, Dr. John Watson, I’d love to accompany Holmes along his adventures.

7.  Please share some of your favorite Holmes-related quotes!

It is a capital mistake to theorise before one has data. Insensibly one begins to twist facts to suit theories, instead of theories to suit facts. (A Scandal in Bohemia)

He must guard himself, for he may find that there is someone more cunning than himself upon his track. (The Adventure of the Speckled Band)

My mind rebels at stagnation. (The Sign of Four)

Coincidentally, today–a week after Holmes’s birthday, is my blog’s birthday. So, happy birthday to my blog too 🙂

Advertisements

The Speckled Band – Sir Arthur Conan Doyle [Play]

Title : The Speckled Band / The Stonor Case
Author : Sir Arthur Conan Doyle (1910)

Ini adalah versi drama dari cerpen The Adventure of the Speckled Band yang terdapat dalam kumpulan The Adventures of Sherlock Holmes. Dalam drama yang ditulisnya sendiri, penulis membuat beberapa perubahan yang cukup signifikan dalam alur dan penokohan, meski garis besar kasusnya tetap sama.

Drama ini terdiri dari tiga babak. Babak pertama dimulai dua tahun sebelumnya, saat Violet Stonor (Julia Stoner dalam cerpen) baru saja meninggal dunia. Di sini, Watson sendiri yang memeriksa mayat Violet karena dia telah mengenal kedua gadis Stonor dan ibunya saat di India. Kecurigaan sudah mulai muncul tanpa dugaan yang pasti, dan dia menyarankan saudari Violet, Enid Stonor (Helen Stoner dalam cerpen), untuk berhati-hati, dan menghubunginya jika ada sesuatu, juga untuk tak segan-segan berkonsultasi kepada kawannya di Baker Street, Sherlock Holmes. Pengadilan dilaksanakan dengan kesimpulan para juri mengarah kepada kematian mendadak yang normal, terkecuali seorang bernama Mr. Armitage yang mencurigai Dr. Rylott dengan segala gerak-geriknya yang sudah terkenal di desa tersebut.

Kasus ditutup, babak kedua menampilkan dua tahun kemudian—saat ini, Enid Stonor akan menikah dan Mr. Armitage kembali memperingatkannya akan sikap buruk yang diterima tunangannya beberapa waktu sebelumnya oleh ayah tirinya. Enid pun menemui Sherlock Holmes di London, dan petualangan Holmes dalam bentuk drama dimulai.

First play publication

Ini adalah drama karya Doyle pertama yang saya baca, dan kebetulan saya sudah membaca versi cerpennya terlebih dahulu. Meski ditulis oleh penulis yang sama, Doyle membuat alurnya sangat berbeda sehingga pembaca merasa membaca dua karya yang berbeda pula. Karakter Enid juga tak seperti Helen yang saya tangkap di cerpen. Dr. Rylott sama kejamnya dengan Dr. Roylott di cerpen, tetapi dengan berbagai wajah yang kadang ditampakkannya, kebaikan atau kehalusan yang kadang ditampakkan untuk meminta maaf pada Enid. Peran Watson di sini sedikit terlihat dominan karena dia yang lebih dulu dimunculkan dan tak berperan sebagai pencerita.

CORONER: Dear me, Doctor, you are very observant!
WATSON: I have a friend, sir, who trained me in such matters.
(Act I)

Perbedaan lain adalah, kemungkinan karena alasan durasi, ada tambahan beberapa detail, baik yang berhubungan dengan kasus Miss Stonor ataupun yang tidak berhubungan dengan kasus tersebut tetapi memberi pembaca (atau penonton) garis besar yang cukup tentang pekerjaan dan karakter Sherlock Holmes. Holmes ditunjukkan memiliki seorang pesuruh bernama Billy, dengan kasus-kasus ‘hebat’ yang ditanganinya.

WATSON: All right, I’ll wait. (Lights a cigarette and looks around him.) Just the same as ever. There are the old chemicals! Heavens! what have I not endured from those chemicals in the old days? Pistol practice on the wall. Quite so. I wonder if he still keeps tobacco in that Persian slipper? Yes, here it is. And his pipes in the coal- scuttle—black clays. Full of them—the same as ever. (Takes one out and smells it.) Faugh! Bottle of cocaine—Billy, Billy!
BILLY: I’ve done my best to break him of it, sir.
WATSON: All right, Billy, you can go.
(BILLY goes out.)
There’s the old violin—the same old violin, with one string left. (Sits on settee.)

(Act II, Scene II)

Sebenarnya setting waktu drama ini cukup lama menjelang pernikahan Watson, meski begitu dia sudah tidak tinggal di Baker Street. Sebelum didatangi oleh Enid Stonor, Holmes sempat menerima tiga klien—yang tidak diketahui Watson sebelumnya—yang menunjukkan rupa-rupa caranya menangani kasus. Kasus tersebut juga mengandung kemiripan dengan yang terdapat dalam buku Sherlock Holmes yang lain.

Secara umum, play ini dapat dibaca dengan cukup nikmat. Perubahan detail membuat ketegangannya tetap terasa. Meski begitu, bagian yang menurut saya paling seru, yaitu saat Holmes dan Watson menyelamatkan Miss Stonor digambarkan dengan sangat singkat.

4/5 bintang untuk Holmes yang lebih ‘beraksi’.

Sherlock Holmes Read Along

Bagi yang belum tahu (atau mengingatkan yang sudah tahu), Hobby Buku tahun ini meluncurkan Mystery’s Book Club (lihat detailnya di sini). Bacaan B.Zee diberi kehormatan untuk menjadi host salah satu read along, yang akan mengadakan baca bersama buku-buku Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle. Read along akan berlangsung dari 22 Mei s.d. 7 Juli 2014. Kenapa dipilih tanggal-tanggal itu? Karena tanggal-tanggal tersebut, berturut-turut, adalah tanggal kelahiran dan kematian Doyle. Untuk mengenangnya, maka saya pilih tanggal itu untuk memulai dan mengakhiri read along.

221Banner

Selagi menunggu tanggal 22, kalian bisa mulai dengan mengumpulkan buku-bukunya (beli, pinjam, atau cari ebooknya di sini), atau mungkin bagi yang sudah punya bisa tuh timbunannya digali disiapkan bukunya. Untuk read along periode ini khusus untuk Sherlock Holmes yang asli karya Sir Arthur Conan Doyle ya, bukan adaptasi atau fan fiction-nya. Kisah-kisah Sherlock Holmes yang asli terdiri dari 4 novel dan 5 kumpulan cerita pendek (dengan total 56 cerpen di dalamnya). Ini dia daftarnya (saya urutkan berdasar tahun terbitnya pertama kali):

1. A Study in Scarlet (1887)
2. The Sign of Four (1890)
3. The Adventures of Sherlock Holmes (1891-1892), kumpulan 12 cerpen:

  • A Scandal in Bohemia
  • The Adventure of the Red-Headed League
  • A Case of Identity
  • The Boscombe Valley Mystery
  • The Five Orange Pips
  • The Man with the Twisted Lip
  • The Adventure of the Blue Carbuncle
  • The Adventure of the Speckled Band
  • The Adventure of the Engineer’s Thumb
  • The Adventure of the Noble Bachelor
  • The Adventure of the Beryl Coronet
  • The Adventure of the Copper Beeches

4. The Memoirs of Sherlock Holmes (1891-1892), kumpulan 12 cerpen:

  • Silver Blaze
  • The Adventure of the Cardboard Box
  • The Adventure of the Yellow Face
  • The Adventure of the Stockbroker’s Clerk
  • The Adventure of the Gloria Scott
  • The Adventure of the Musgrave Ritual
  • The Adventure of the Reigate Squire
  • The Adventure of the Crooked Man
  • The Adventure of the Resident Patient
  • The Adventure of the Greek Interpreter
  • The Adventure of the Naval Treaty
  • The Final Problem

5. The Hound of the Baskervilles (1901-1902)
6. The Return of Sherlock Holmes (1903-1904), kumpulan 13 cerpen:

  • The Adventure of the Empty House
  • The Adventure of the Norwood Builder
  • The Adventure of the Dancing Men
  • The Adventure of the Solitary Cyclist
  • The Adventure of the Priory School
  • The Adventure of Black Peter
  • The Adventure of Charles Augustus Milverton
  • The Adventure of the Six Napoleons
  • The Adventure of the Three Students
  • The Adventure of the Golden Pince-Nez
  • The Adventure of the Missing Three-Quarter
  • The Adventure of the Abbey Grange
  • The Adventure of the Second Stain

7. The Valley of Fear (1914-1915)
8. His Last Bow (1908-1917), kumpulan 8 cerpen:

  • The Adventure of Wisteria Lodge
  • The Adventure of the Cardboard Box
  • The Adventure of the Red Circle
  • The Adventure of the Bruce-Partington Plans
  • The Adventure of the Dying Detective
  • The Disappearance of Lady Frances Carfax
  • The Adventure of the Devil’s Foot
  • His Last Bow

9. The Case-Book of Sherlock Holmes (1921-1927), kumpulan 12 cerpen:

  • The Adventure of the Mazarin Stone
  • The Problem of Thor Bridge
  • The Adventure of the Creeping Man
  • The Adventure of the Sussex Vampire
  • The Adventure of the Three Garridebs
  • The Adventure of the Illustrious Client
  • The Adventure of the Three Gables
  • The Adventure of the Blanched Soldier
  • The Adventure of the Lion’s Mane
  • The Adventure of the Retired Colourman
  • The Adventure of the Veiled Lodger
  • The Adventure of Shoscombe Old Place

Kesembilan buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh beberapa penerbit, salah satu yang menerbitkan paling lengkap sesuai dengan urutan dan susunan di atas adalah penerbit Gramedia Pustaka Utama. Tetapi boleh-boleh saja kalian membaca buku terbitan mana saja, bahasa apa saja, dengan urutan bagaimana saja. Setelah membaca, yang paling penting—agar kita tahu apa yang sudah dibaca—adalah membuat review/resensinya. Format review bebas, boleh juga jika beberapa buku direview satu kali, atau satu buku direview beberapa kali. Saya sendiri biasanya setiap cerita saya buat review tersendiri.

Bagi kalian yang sudah tamat membaca Sherlock Holmes tapi masih ingin mengikuti event ini, baca ulang sangat diperbolehkan. Apalagi jika dulu belum sempat membuat reviewnya, maka inilah saatnya untuk mengabadikan kesan kalian terhadap kisah-kisah Sherlock Holmes lewat review. Bila sudah membuat reviewnya tetapi ingin membaca ulang juga boleh, tetapi review yang terhitung untuk event ini hanyalah review yang dibuat pada periode read along, jadi buatlah review tentang kesan kalian setelah membaca ulang. Apakah lebih baik? Bosan? Semakin seru? Apa saja.

Di akhir periode nanti, saya akan memilih satu review yang menurut saya paling baik untuk mendapatkan sebuah bingkisan buku. Mari ikut saya berkunjung (lagi) ke 221B Baker Street.

  1. Follow blog Bacaan B.Zee dan blog Hobby Buku’s Mystery Stories.
  2. Mendaftar dalam Mystery’s Book Club di kolom komentar blog Hobby Buku’s Mystery Stories dengan format: Nama | URL blog/FB/Goodreads | e-mail | twitter (kalau punya).
  3. Mendaftar Sherlock Holmes Read Along di link tool di bawah post ini.
  4. Pasang button Mystery’s Book Club di atas di side bar blogmu.
  5. Pasang button Sherlock Holmes Read Along ini di postingan review kalian.
  6. Selama periode read along (22 Mei – 7 Juli 2014), membaca 1 atau lebih buku-buku Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle, boleh terjemahan atau versi aslinya.
  7. Buat reviewnya, boleh di blog (tidak harus blog buku), atau media lain seperti Goodreads/Facebook/Tumblr, dan masukkan link review setiap postinganmu di link tool yang akan disediakan (akan dibuka mulai 22 Mei 2014).

Mari duduk di depan perapian, menikmati alunan biola, dan membaca petualangan Sherlock Holmes dan Dr. John Watson bersama-sama 😉

Daftarkan diri dan blog/Goodreads/Facebook/Tumblr kalian di sini:

Format: Nama @ nama blog/nama tumblr/Goodreads/Facebook/
Contoh:
Bzee @ Bacaan B.Zee, atau
Bzee @ Goodreads, atau
Bzee @ Facebook

Wishful Wednesday (14)

Wuah, (rasanya) sudah lama sekali tidak ikut berandai-andai di hari Rabu.

Seperti biasanya, di Wishful Wednesday saya lebih sering memasukkan wishlist lama. Seperti kali ini, saya mau bercerita terlebih dahulu.

Mulanya sekitar 2-3 tahun yang lalu, ketika jalan-jalan di sebuah toko buku di sebuah mal, saya melihat ada kumpulan novel dan cerpen Sherlock Holmes, menjadi satu jilid. Buku itu paperback, terjemahan, kertasnya buram dan tipis, font-nya kecil-kecil sekali, mungkin supaya lebih praktis. Waktu itu saya sudah bersiap-siap menabung untuk membelinya. (Sayangnya saya lupa penerbit apa dan tidak berhasil menemukan gambar covernya di internet).

Kemudian, selang beberapa waktu, kakak tingkatku memamerkan kumpulan Sherlock Holmes-nya yang berbahasa Inggris, yang didapatnya dari seorang ‘teman’nya. (Ini juga saya tidak bisa menemukan gambarnya). Yang jelas buku itu jauh lebih keren daripada versi terjemahannya. Kertasnya bagus, font-nya cukup, konsekuensinya memang bukunya berukuran kuarto sehingga tidak mudah dibawa-bawa. Tapi sejak melihat buku itu, sirna sudah keinginan saya untuk membeli versi terjemahan yang cetakannya ‘seadanya’ itu.

Sebenarnya sudah lama saya koleksi ebook Sherlock Holmes yang saya dapatkan gratis dari Gutenberg, tapi tetap saja ya maunya koleksi paperback/hardback-nya juga. Karena seluruh kejadian itu, maka meski berulang kali ada diskon untuk buku-buku Sherlock Holmes, baik yang novel maupun kumpulan cerpen, saya selalu urung membeli. Karena saya mengincar yang seperti ini:

Atau boleh juga yang begini:

Atau yang sejenisnya. Sekedar koleksi, mungkin juga dengan adanya buku itu membaca lagi bisa lebih nikmat 🙂

Saya mau lihat Wishful Wednesday-mu juga =)

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

The Sign of Four – Sir Arthur Conan Doyle

Judul buku : The Sign of The Four
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle (1890)
Penerbit : Project Gutenberg (Ebook), Maret 2000 (Etext #2097)

(Review in both Bahasa Indonesia and English)

The Sign of The Four merupakan novel kedua Sherlock Holmes. Di sini, masih dalam sudut penceritaan oleh Watson, diawali dengan pendalaman mengenai metode deduksi Holmes, maupun kepribadian detektif itu sendiri.

Sebut saja bagaimana sebuah kasus begitu penting untuk Sherlock Holmes, yang tampak dari kata-katanya.

“My mind rebels at stagnation.”

“I cannot live without brain-work. What else is there to live for? Stand at the window here. Was ever such a dreary, dismal, unprofitable world? See how the yellow fog swirls down the street and drifts across the duncolored houses. What could be more hopelessly prosaic and material? What is the use of having powers, doctor, when one has no field upon which to exert them? Crime is commonplace, existence is commonplace, and no qualities save those which are commonplace have any function upon earth.”

“I never remember feeling tired by work, though idleness exhausts me completely.”

Di saat seperti itulah, Watson melihat bahwa Holmes menggunakan kokain untuk menenangkan diri. Meskipun pada masa itu penggunaan kokain masih legal, tapi sebagai dokter, Watson tahu bahwa ketergantungannya kurang baik. Sebagai pengalih perhatian, Watson pun menguji kawannya itu dengan pertanyaan mengenai arloji yang dipakainya. Secara mengejutkan, Holmes berhasil mengetahui asal arloji tersebut beserta kepribadian pemilik sebelumnya.

Kemudian datanglah yang ditunggu-tunggu, kasus baru. Seorang wanita, Miss Morstan datang untuk meminta bantuan. Sepuluh tahun lalu, ayahnya kembali dari tugas di India, akan tetapi di hari yang dijanjikannya untuk bertemu puterinya itu, dia tiba-tiba menghilang. Empat tahun berselang, Miss Morstan mendapatkan iklan di koran yang meminta alamatnya, diikuti dengan pengiriman paket berisi perhiasan yang diterimanya setiap tahun. Dan kini, dia mendapatkan surat yang memintanya untuk datang ke suatu tempat sendirian, atau membawa dua orang teman yang bukan polisi. Karena mendengar reputasi Holmes, maka Miss Morstan pun mempercayakan kasusnya pada detektif ini dan juga kawannya.

Pada waktu yang dijanjikan, mereka bertiga; Miss Morstan, Holmes dan Watson dibawa ke rumah Thaddeus Sholto, mendapatkan kisah aneh tentang harta karun. Ayah Thaddeus, Major Sholto adalah kawan dari ayah Miss Morstan, Captain Morstan. Untuk mendapatkan kejelasan mengenai harta itu, mereka pun menuju ke rumah saudara Sholto yang lain, Bartholomew, yang juga menyimpan harta tersebut. Hal mengejutkan hadir ketika di rumah, mereka menemukan Bartholomew sudah terbunuh.

Yang menarik dari Sherlock Holmes adalah kecerdasannya. Dia mengobservasi sesuatu, menyingkirkan yang tidak mungkin, dan menarik kesimpulan yang paling masuk akal, dan nyaris tanpa kesalahan.

“when you have eliminated the impossible whatever remains, HOWEVER IMPROBABLE, must be the truth”

Di samping itu, seperti yang diakuinya, meski memiliki banyak cara untuk mengikuti petunjuk, dia memilih cara yang termudah, yang telah tersedia, untuk lebih menyederhanakan kasus itu sendiri.

“Do not imagine, that I depend for my success in this case upon the mere chance of one of these fellows having put his foot in the chemical. I have knowledge now which would enable me to trace them in many different ways. This, however, is the readiest and, since fortune has put it into our hands, I should be culpable if I neglected it. It has, however, prevented the case from becoming the pretty little intellectual problem which it at one time promised to be. There might have been some credit to be gained out of it, but for this too palpable clue.”

Yang saya suka di sini, penulis menggambarkan ‘sisi manusia’ Holmes yang belum diceritakannya di buku pertamanya, A Study in Scarlet. Bagaimana saat dia dengan kepercayaan dirinya menemukan jalur yang benar dalam penyelidikan, kemudian tiba-tiba mengalami jalan buntu, hal yang sangat menyinggung bagi seorang Sherlock Holmes. Dalam berbagai usaha yang terus dijalankannya, dengan cara unik menggunakan pasukannya sendiri yang terdiri atas orang jalanan, yang disebutnya sebagai Baker Street irregulars. Di samping itu, saat tampaknya dia tak mengalami kemajuan, dia mengalihkan pikirannya kepada eksperimen di laboratorium, atau sekedar bermain biola. Akan tetapi, tetap saja, dia tidak bisa berhenti ‘bertindak’, seperti yang dikatakan sendiri oleh Watson.

“He has some small matter upon his mind which makes him restless.”

Tidak hanya Holmes, dalam novel ini Doyle juga memberi bagian pada sisi pribadi Watson. Dia jatuh cinta pada Miss Morstan, hal yang sulit baginya, apalagi dia tidak bisa mendapatkan simpati Holmes yang sangat tidak tertarik pada hubungan emosional antar manusia, lebih-lebih orang itu adalah kliennya.

“..not to allow your judgment to be biased by personal qualities. A client is to me a mere unit,–a factor in a problem. The emotional qualities are antagonistic to clear reasoning.”

“But love is an emotional thing, and whatever is emotional is opposed to that true cold reason which I place above all things. I should never marry myself, lest I bias my judgment.”

In this book, we can see the ‘human side’ of Sherlock Holmes. His cocaine-use habit, his restless brain, and how he acted when he met deadlock at his investigations. He has methods, and I love to see how he led us to his deduction, just to amaze us. But not only Holmes, here, Watson was falling in love with Miss Morstan, Holmes’ client. This was an emotional matter that didn’t touch Holmes. Holmes is, however, a cold and unemotional person as far as we saw here. He’s not good in his social life, but he’s brilliant for whatever he do.

There is a small matter that seems contradictive with Doyle’s previous book. From A Study in Scarlet, we know that Watson was struck by a Jezail bullet on the shoulder, but on The Sign of The Four, he said that he had it through his leg. I don’t know whether he had injured twice or whatever happened, but it makes me questioning.

Secara keseluruhan, novel Sherlock Holmes memang tidak memanjakan imajinasi dan deduksi para pembaca. Kita disuguhkan betapa brilliannya pemikiran Holmes dan mengikuti pola pikir dan alur kerja yang dilakukannya. Kita hanya menebak-nebak apa yang terjadi tanpa tahu petunjuk apa yang telah dimiliki oleh detektif itu. 3/5 untuk kisah perburuan harta karun.

Review #2 of Classics Club Project