Tag Archives: The Book Thief

The Book Thief – Markus Zusak

6064259Title : The Book Thief
Author : Markus Zusak (2005)
Publisher : Pan Macmillan Australia, 2010
Format : Paperback, 584 pages

It’s just a small story really, about, amongst other things:
– a girl
– some words
– an accordionist
– some fanatical Germans
– a Jewish fist-fighter
– and quite a lot of thievery.
(p.6)

Beberapa waktu lalu, saya sempat mereview prolog dan bagian pertama buku ini yang membuat saya terpesona. Namun sayangnya, semakin ke belakang, buku ini semakin gagal memesona saya. Oleh karena itu review ini sempat tertunda agak lama, saya butuh waktu untuk menetralkan kekecewaan saya. Saya akan berusaha mereview dengan adil.

Sebagai pengingat, kedekatan Liesel Meminger dengan Hans Hubermann—ayah tirinya, bermula dari sesi membaca tengah malam, setelah setiap mimpi buruk yang dialaminya. Dari sinilah kepercayaan Liesel terhadap pasangan Hubermann tumbuh, bahwa dia bukan lagi anak yang dibuang dan ditelantarkan.

No matter how many times she was told that she was loved, there was no recognition that the proof was in the abandonment. Nothing changed the fact that she was a lost, skinny child in another foreign place, with more foreign people. Alone. (p.32)

Possibly the only good to come out of those nightmares was that it brought Hans Hubermann, her new papa, into the room, to soothe her, to love her. (p.37)

A DEFINITION NOT FOUND IN THE DICTIONARY
Not-leaving: An act of trust and love, often deciphered by children.
(p.38)

Dengan Rudy Steiner, Liesel mengalami banyak petualangan. Mulai dari pencurian buku berikutnya, permainan-permainan di sela ketegangan situasi saat itu, obrolan ‘aneh’, ‘bekerja’ untuk sekadar makan layak, sampai menghadapi kelompok anak lain yang tak seramah seharusnya.

Perhaps it was Rudy who kept her sane, with the stupidity of his talk, his lemon-soaked hair and his cockiness. (p.231)

Hans dan Rudy adalah dua orang yang konsisten memiliki peran penting dalam hidup Liesel. Setelah mencuri buku bersama Rudy, Liesel membacanya bersama Hans; belajar bekerja bersama Hans, belajar tentang passion dan keahlian, kemudian bermain dan mencari passion bersama Rudy. Mereka saling berbagi rahasia satu sama lain, kecuali satu hal, saat seorang yahudi bernama Max Vandenburg muncul di rumah mereka di Himmel Street. Hans pernah berutang nyawa pada Max, dan kini dalam posisi sulit, Max meminta perlindungan di rumah Hans demi nyawanya.

Hadirnya Max di bawah tanah rumah Hubermann harus dirahasiakan jika ingin keluarga mereka tetap aman. Dalam periode itulah Liesel belajar tentang apa yang terjadi di luar sana, kenyataan hidup yang selama ini hanya dilihatnya sebagian saja. Dengan cepat Max menjadi bagian dari kehidupan mereka, berbagi ketakutan sekaligus kebahagiaan.

Sebenarnya saya suka dengan hubungan antar personal dalam buku ini, terutama setiap orang dengan Liesel. Hans, Rosa, Rudy, Max, dan beberapa orang lainnya memiliki keunikan masing-masing, dengan caranya masing-masing. Mereka adalah orang-orang yang penting dalam hidup Liesel; Rosa dengan cara menyayangi yang unik, Max yang menunjukkan arti keteguhan dan keberanian, istri sang Mayor yang membagi perpustakaannya hingga Liesel bisa memuaskan dahaganya akan berbagai bacaan.

Like most misery, it started with apparent happiness. (p.91)

Salah satu bagian favorit saya adalah buku bergambar yang dihadiahkan Max untuk Liesel, buku itu dibuat dari buku Mein Kampf milik Max yang dicat putih kemudian digambarnya sendiri. Buku yang menceritakan kisah hidupnya, pertemuan dengan Liesel, dan persamaan mereka. Tak panjang, tapi sangat manis dan menyentuh.

Mungkin itulah mengapa saya kurang menikmati membaca buku ini. Gaya bercerita penulis lebih cocok untuk buku anak yang tidak terlalu panjang, kalimat-kalimat pendeknya yang diwarnai metafora mungkin justru lebih mengena bila tidak dinarasikan terlalu panjang. Di samping itu, entah mengapa sang narator kurang bisa membawa emosi saya saat membacanya.

Singkatnya, elemen-elemen dalam buku ini sangat cantik; karakternya, ide ceritanya, konfliknya, kejadian-kejadian kecilnya. Namun saya kurang suka dengan cara sang narator menyampaikannya, gaya penulisannya, terutama saat dia mulai menebarkan spoiler, merangkum apa yang akan terjadi di bab berikutnya, menginterupsi kisah dengan catatan pendek (meski masih berhubungan dengan kisah). Cara seperti itu mungkin cocok untuk pembacaan ulang, karena sudah ada catatan-catatan kecil untuk pembaca.

Meski begitu, ada pula saatnya narator menampilkan elemen kecil yang cantik tentang dirinya. Saat dia menceritakan tentang pekerjaannya dalam kejadian pembantaian bangsa yahudi, saat itulah dia menuliskan suara hatinya. Mungkin itulah sebenarnya yang menarik saya, suara hati, bukan sekadar suaranya saat mengamati sang pencuri buku. Juga yang ini, yang sebenarnya adalah kejadian flashback, sehingga di belakang terasa seperti  de javu saat membaca kejadian lengkapnya.

3.5/5 bintang untuk ini.

Review #9 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Historical Fiction #1)

Review #16 for Lucky No.14 Reading Challenge category Movies vs Books

Advertisements

Scene on Three (8)

SceneOnThree

Selamat tanggal 3 September, sebelumnya saya mau mengingatkan kalau besok hari Rabu. Ada apa dengan hari Rabu? Biasanya sih ada Wishful Wednesday, tapi untuk Rabu besok ada yang spesial, masih kelanjutan yang kubahas di Wishful Wednesday sebelumnya. Pokoknya jangan terlewat ya kalau ga mau menyesal *sokmisterius

Scene on Three kali ini, saya ambil dari buku luar biasa yang sedang saya baca. Saking luar biasanya, saya sampai bisa membuat satu post hanya dari bagian pertama (+prolog) saja, di sini. Yap, buku itu adalah The Book Thief by Markus Zusak.

From the toolkit, the boy took out, of all things, a teddy bear.
He reached in through the torn windscreen and placed it on the pilot’s chest. The smiling bear sat huddled amongst the crowded wreckage of the man and the blood. A few minutes later, I took my chance. The time was right.
I walked in, loosened his soul and carried it gently out.
All that was left was the body, the dwindling smell of smoke, and the smiling teddy bear.
(p.11)

Isn’t it beautiful? Scene kematian semacam ini memang sering terlihat, tapi membacanya dari sisi sang pencabut nyawa, dengan narasi seperti itu…..

Saya jarang (atau mungkin belum pernah) membaca buku yang mengangkat tentang malaikat maut (dalam fiksi fantasi tentunya), baik sebagai karakter utama maupun pendamping. Akan tetapi, sejak dulu saya selalu menemukan gambaran–entah dari buku maupun film–malaikat maut sebagai sosok bertudung hitam dan membawa sabit, yang kedatangannya memberi suasana menegangkan dan mengerikan. Namun di The Book Thief, rasanya semua itu hanya gurauan orang-orang yang tak tahu. Mungkin sang narator di buku ini tersenyum geli melihat gambaran orang-orang tentang dirinya. Dan yah, kadang ‘kematian’ juga memiliki selera humor.

Siap membagi adegan terbaik lainnya?

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

The Book Thief : Prologue & Part One

The Book Thief by Markus Zusak

Sekian lama masuk wishlist setelah beberapa kali melihat komentar positif (bahkan luar biasa) dari berbagai pembaca dalam dan luar negeri, akhirnya saya berhasil menemukan buku ini, meski hanya pinjam. Saya berusaha untuk tak berekspektasi apa-apa, akan tetapi kalimat-kalimat awal buku ini memang telah berhasil memukau saya. Kalimat-kalimat narasinya sangat indah, bahkan beberapa halaman awal sudah terasa ‘penuh’ hingga saya memutuskan untuk menikmatinya perlahan-lahan. Saya pun ingin merekam prolog dan bagian pertama yang beberapa waktu lalu saya selesaikan, dalam sebuah post tersendiri.

Prolog dalam buku ini memperkenalkan narator beserta cara pandangnya, juga pengenalan singkat tentang siapa itu the book thief. Sebenarnya, tak ada kata-kata tersurat tentang siapa (nama) narator kita, namun dari review yang telah beredar di luar sana, serta kalimat-kalimatnya sendiri, kita akan mengetahuinya.

I could introduce myself properly, but it’s not really necessary. You will know me well enough and soon enough, depending on a diverse range of variables. It suffices to say that at some point in time. I will be standing over you, as genially as possible. Your soul will be in my arms. A colour will be perched on my shoulder. I will carry you gently away. (p.4)

Sang narator memiliki kebiasaan unik tentang warna, caranya memaknai dan menggambarkannya. Dia mengasosiasikan warna dengan situasi tertentu atau kejadian tertentu yang dihadapinya saat melihat warna tersebut, seringkali warna dari langit.

First the colours.
   Then the humans.
   That’s usually how I see things.
   Or at least, how I try.
(p.3)

Narator kita akan menceritakan kisah the book thief—sang pencuri buku dari awal, saat kita masuk ke bagian pertama.

Namanya Liesel Meminger, buku pertama yang dicurinya adalah ‘The Gravedigger’s Handbook’ yang diambilnya saat pemakaman adik laki-lakinya. Liesel belum bisa membaca, tapi dia menyimpan buku itu sebagai pengingat hari itu, hari terakhirnya melihat adiknya, juga ibunya.

Liesel was sure her mother carried the memory of him, slung over her shoulder. She dropped him. She saw his feet and legs and body slap the platform.
How could she walk?
How could she move?
That’s the sort of thing I’ll never know, or comprehend – what humans are capable of.
(p.25)

Jerman pada masa Hitler, dimana keturunan yahudi tidak aman, sehingga ibu Liesel memutuskan untuk menitipkannya pada pasangan Hubermann, Hans dan Rosa.

Pasangan Hubermann memiliki sifat yang sangat berkebalikan. Rosa adalah wanita yang keras dan sering mengumpat, meski begitu dikatakan bahwa itu caranya menyayangi Liesel. Sedangkan Hans adalah sosok yang lembut dan pengayom. Hans-lah yang bisa mendekati Liesel yang sedang dalam posisi traumatik. Hans selalu di samping Liesel saat dia terbangun oleh mimpi-mimpi buruk, Hans pula yang dengan penuh pengertian membacakan buku ‘mengerikan’ yang disimpan Liesel, hingga mengajarinya membaca, membuat kemajuan yang tak bisa dilakukan guru Liesel di sekolah. Juga satu hal yang tak tergantikan, aroma persahabatan.

Sampai bagian pertama ini, selain Hans, ada seorang anak laki-laki tetangganya yang dekat dengan Liesel, Rudy Steiner. Rudy terambisi pada atlet lari kulit hitam, dan ingin menjadi sepertinya. Rudy menjadi teman bermain Liesel, sekaligus menjadi sahabat yang melindungi Liesel saat anak-anak lain mengejeknya karena kemampuan membacanya.

For now, Rudy and Liesel made their way onto Himmel Street in the rain.
He was the crazy one who had painted himself black and defeated the world.
She was the book thief without the words.
Trust me, though, the words were on their way, and when they arrived, Liesel would hold them in her hands like the clouds, and she would wring them out, like the rain.
(p.85)

Surely, I do enjoy this, so much.