Tag Archives: The Memoirs of Sherlock Holmes

The Yellow Face – Sir Arthur Conan Doyle

Title : The Memoirs of Sherlock Holmes
Author : Sir Arthur Conan Doyle (1892)

From ‘Sherlock Holmes; The Complete Novels and Stories, Volume I’ (Bantam Classic)

Contents:

1. Silver Blaze
2. The Yellow Face
3. The Stock-Broker’s Clerk
4. The “Gloria Scott”
5. The Musgrave Ritual
6. The Reigate Puzzle
7. The Crooked Man
8. The Resident Patient
9. The Greek Interpreter
10. The Naval Treaty
11. The Final Problem

The Yellow Face (p.546)

Sherlock Holmes was a man who seldom took exercise for exercise’s sake. Few men were capable of greater muscular effort, and he was undoubtedly one of the finest boxers of his weight that I have ever seen; but he looked upon aimless bodily exertion as a waste of energy, and he seldom bestirred himself save when there was some professional object to be served. Then he was absolutely untiring and indefatigable. That he should have kept himself in training under such circumstances is remarkable, but his diet was usually of the sparest, and his habits were simple to the verge of austerity. Save for the occasional use of cocaine, he had no vices, and he only turned to the drug as a protest against the monotony of existence when cases were scanty and the papers uninteresting. (p.547)

Sekalinya keluar untuk berjalan-jalan, Sherlock Holmes ternyata dinanti-nanti oleh seorang klien yang begitu panik. Adalah Grant Munro dari Norbury yang gelisah karena khawatir akan hubungannya dengan sang istri. Dia yakin bahwa cintanya dan istrinya tidak berubah, tetapi ada ganjalan di antara mereka sejak munculnya tetangga baru yang mencurigakan. Mr. Munro pertama kali melihat sosok aneh sang tetangga tersebut dari jendela, seseorang yang tidak jelas wujudnya, hanya wajah kuning pucat dan kaku. Kemudian diikuti oleh kunjungan-kunjungan rahasia istrinya ke rumah itu.

“Well, I think that you are in the right. Any truth is better than indefinite doubt.” (p.562)

Usaha Mr. Munro untuk mencari kebenaran hanya berbuah pada ketakutan istrinya akan keberlangsungan hubungan mereka jika kebenaran terungkap. Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Mrs. Munro? Apakah dia berada di bawah ancaman? Ataukah ada rahasia besar dari masa lalunya yang belum siap untuk diungkapkan?

Inti dari permasalahan ini agak mirip dengan The Adventure of the Noble Bachelor dari The Adventures of Sherlock Holmes, dengan sedikit perbedaan pada kasus dan penyelesaiannya. Petunjuk awal yang diberikan juga sedikit mirip, terutama mengenai sang istri yang sama-sama pernah tinggal di Amerika. Akan tetapi, kasus ini berakhir sangat manis, menunjukkan bahwa cinta yang sebenarnya tidak bisa digoyahkan oleh apa pun. Juga sedikit tamparan bagi Holmes yang tidak mempertimbangkan unsur itu dalam metodenya.

“Watson,” said he, “if it should ever strike you that I am getting a little over-confident in my powers, or giving less pains to a case than it deserves, kindly whisper ‘Norbury’ in my ear, and I shall be infinitely obliged to you.” (p.565)

Silver Blaze – Sir Arthur Conan Doyle

Title : The Memoirs of Sherlock Holmes
Author : Sir Arthur Conan Doyle (1892)

From ‘Sherlock Holmes; The Complete Novels and Stories, Volume I’ (Bantam Classic)

Contents:

1. Silver Blaze
2. The Yellow Face
3. The Stock-Broker’s Clerk
4. The “Gloria Scott”
5. The Musgrave Ritual
6. The Reigate Puzzle
7. The Crooked Man
8. The Resident Patient
9. The Greek Interpreter
10. The Naval Treaty
11. The Final Problem

Silver Blaze (p.521)

Sherlock Holmes dihadapkan pada kasus hilangnya seekor kuda pacu favorit di King’s Pyland, Dartmoor, milik Colonel Ross, serta pembunuhan pelatihnya, John  Stroker. Pada mulanya dia menyangka bisa menyelesaikan kasus ini dari London, tetapi ternyata dia dan Watson tetap harus menyusul ke Dartmoor untuk menyelidiki kasus ini.

“You have formed a theory, then?”
“At least I have got a grip of the essential facts of the case. I shall enumerate them to you, for nothing clears up a case so much as stating it to another person, and I can hardly expect your co-operation if I do not show you the position from which we start.”
(p.523)

Kuda itu—Silver Blaze—hilang tanpa jejak. Secara teori, mustahil tidak ada seorang pun yang memperhatikan jika Silver Blaze lewat, karena tanda khas di kepalanya sudah dikenali banyak orang. Seorang tersangka yang dicurigai kuat pun masih memiliki alibi yang sama kuatnya (atau lebih kuat) dengan bukti yang ditemukan.

“…. There you have it all in a nutshell, Watson, and if you can give me any light I shall be infinitely obliged to you.” (p.528)

Kasus ini sebelumnya sudah ditangani oleh Scotland Yard, di bawah Inspector Gregory, tetapi mengalami jalan buntu. Selain bukti dan saksi yang sedikit, serta petunjuk yang samar, kepolisian gagal karena tidak tahu bagaimana cara mencarinya. Dengan metodenya yang khas, serta imajinasinya, Holmes bisa menyusun kemungkinan-kemungkinan motif dan modusnya, untuk kemudian mencari ke jalan yang tepat.

“Inspector Gregory, to whom the case has been committed, is an extremely competent officer. Were he but gifted with imagination he might rise to great heights in his profession. …. (p.527)

“See the value of imagination,” said Holmes. “It is the one quality which Gregory lacks. We imagined what might have happened, acted upon the supposition, and find ourselves justified. Let us proceed.” (p.535-536)

Black-and-white drawing of Sherlock Holmes and Doctor Watson confronting Silas Brown, who has Silver Blaze in his barnSetelah terungkap, kejahatan yang terjadi memang cukup cerdik dan matang, tak salah jika polisi mengalami kesulitan. Butuh sebuah cara yang cerdik pula untuk mengungkapkannya. Ada kalanya jika tak memiliki bukti cukup, Holmes hanya perlu melempar kail dan membiarkan pelakunya yang bergerak. Dan ada prosedur yang harus dilanggarnya untuk itu.

“The matter does not rest with Colonel Ross. I follow my own methods, and tell as much or as little as I choose. That is the advantage of being unofficial. ….” (p.538)

Holmes lebih mengutamakan masalah yang dipermasalahkah—dalam hal ini hilangnya sang kuda dan meninggalnya Straker—ketimbang harus mengikuti prosedural mendetail tentang siapa-siapa yang terlibat. Jadi pada akhirnya, petunjuk yang dituju oleh Holmes adalah keberadaan kuda tersebut. Mengenai di mana Silver Blaze selama ini pada akhirnya tidak diungkapnya, karena—selain tidak penting—juga merupakan bagian dari rencana penemuannya.

Sebagai pembuka sebuah kumpulan, kisah Silver Blaze ini masih memberikan detail-detail kecil yang menarik tentang Sherlock Holmes dan metodenya. Pada bagian ini, hubungannya dengan Watson tergambar lebih dekat dan sudah (hampir) saling mengerti. Kisah ini juga menarik karena metode kejahatan yang unik, posisi pelaku dan korban pembunuhan yang tak kalah unik, serta bagaimana kepercayaan diri Holmes selama penyelidikan tergambar nyaris sempurna sejak awal hingga akhir. Tampaknya ini adalah salah satu kasus Holmes yang cukup berhasil. Dan yang paling saya suka, sebuah kunci kasus ini yang digambarkan dengan sangat sederhana tapi bermakna mendalam ada di Scene on Three saya terdahulu (link).

We all sprang out with the exception of Holmes, who continued to lean back with his eyes fixed upon the sky in front of him, entirely absorbed in his own thoughts. It was only when I touched his arm that he roused himself with a violent start and stepped out of the carriage.
“Excuse me,” said he, turning to Colonel Ross, who had looked at him in some surprise. “I was day-dreaming.” There was a gleam in his eyes and a suppressed excitement in his manner which convinced me, used as I was to his ways, that his hand was upon a clue, though I could not imagine where he had found it.
(p.531)