Tag Archives: Various Authors

Dijual: Keajaiban (+GIVEAWAY)

dijual keajaibanTitle : Dijual: Keajaiban
Author : Gao Xingjian, Khairiyah Ibrahim as-Saqqaf, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, R.K.Narayan, Salman Rushdie, Taufiq el-Hakim, Yukio Mishima, Yusuf Idris
Translator : Tia Setiadi
Editor : Ainini
Publisher : DIVA Press
Edition : Cetakan Pertama, Desember 2015
Format : Paperback, 228 pages

Saya mesti mengatakan bahwa justru dalam periode ini manakala sastra menjadi muskil sama sekali saya mengerti mengapa sastra begitu berharga: ia membiarkan seorang manusia melindungi kesadarannya. (Xingjian, Perihal Sastra, p.205)

Contents:

  1. Di Sebuah Taman / In the Park (Gao Xingjian, 2007)
  2. Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai / The Assasination of Light at the River’s Flow (Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf, 1998)
  3. Qismati dan Nasibi / Qismati and Nasibi (Naguib Mahfouz, 2008)
  4. Memandang ke Luar Jendela / To Look Out the Window (Orhan Pamuk, 2007)
  5. Anjing Buta / The Blind Dog (R.K. Narayan, 1947)
  6. Di Selatan Dua Lelaki Tua India / In the South (Salman Rushdie, 2009)
  7. Dijual: Keajaiban / Miracles for Sale (Taufiq el-Hakim, 1998)
  8. Tujuh Jembatan / The Seven Bridges (Yukio Mishima, 1966)
  9. Nampan dari Surga / A Tray from Heaven (Yusuf Idris, 2008)
  10. Perihal Sastra / In Case of Literature (Pidato Nobel Gao Xingjian, 2000)

Buku ini terdiri atas sembilan cerita pendek dari penulis besar Asia, ditambah naskah pidato penerimaan Nobel Sastra Gao Xingjian. Sebagian besar kisah telah dibahas di sini, sana, dan situ, sehingga di sini saya akan lebih membahas mengenai kesan saya terhadap gaya penulisan para penulis tersebut. Keuntungan dari sebuah antologi adalah kita bisa mengenal gaya penulisan beberapa penulis dari sebuah buku saja, dalam hal ini khususnya cerita pendek, karena seringkali tulisan-tulisan yang lebih panjang memiliki kesan yang berbeda.

Di Sebuah Taman menunjukkan kepiawaian Xingjian dalam menyusun dialog menjadi sebuah cerita yang utuh. Gaya yang jarang sekali saya jumpai, tetapi mungkin menarik jika saya bisa membacanya bersamaan dengan kisah-kisah penulis yang lainnya sehingga akan lebih mudah untuk saya pahami. As-Saqqaf dalam cerpennya menyuguhkan narasi cantik yang dipenuhi dengan metafora dan simbol.

Namun, sesuatu yang misterius berbisik dalam diriku, degup jantung waktu yang akrab dan mengganggu, degup ketakutan, peringatan, harapan, kesedihan, kebahagiaan, tawa, kecemasan, dan kepuasan, semua datang seketika. Hari berhenti, jam menggelisahkan, menit mengingatkan…—tentang apa? (as-Saqqaf, Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai, p.32)

Judulnya saja sudah mengandung sesuatu, pembunuhan cahaya yang mungkin menghasilkan kegelapan; sebuah kritik sosial yang disampaikan dengan cukup lugas melalui diksi yang puitis. Tulisan Mahfouz, meski memiliki konflik yang tidak lazim, merupakan kisah ‘biasa’ yang menghadirkan cerita mengenai dua buah jiwa. Dari segi kisah, yang paling berkesan bagi saya adalah karya Pamuk dan Rushdie. Pamuk dengan kisah keluarga, tetapi mengandung keaktualan yang sangat universal, seolah menggambarkan dunia yang luas ini dengan perantaraan dua orang bocah dan permainan kartunya. Sedangkan Rushdie mengajak kita merenung mengenai kehidupan kita.

Akan tetapi cinta telah mulai mengganggunya, seperti yang lain-lainnya. Dia adalah keluarga nyamuk, demikian pikir Senior, kerumunan yang berdengung, dan cinta adalah gigitan mereka yang bikin gatal. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.124)

Di usia yang semakin tua, maka cara pandang kita terhadap hidup akan berubah. Begitu pula kedua lelaki tua yang disebut Senior dan Junior di sini, yang sebenarnya hanya berselisih usia 17 hari. Mereka berbagi nama yang sama, tetapi kehidupan mereka jauh berbeda. Akan tetapi perbedaan-perbedaan yang jauh tersebut tak dapat memisahkan mereka di hari tua yang semakin sepi. Pada akhirnya, konsep dan kenyataan mengenai kematian lah yang menghantui hari-hari tua, dan menghantui kita sebagai pembaca.

Kematian dan kehidupan hanyalah dua beranda yang berbatasan. Senior berdiri di salah satu sisi dari beranda itu sebagaimana yang biasa dia lakukan, dan di beranda lainnya, melanjutkan kebiasaan mereka selama bertahun-tahun, berdiri Junior, bayangannya, nama panggilannya, siap berdebat dengannya. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.142)

Dari segi narasi, setidaknya dalam edisi terjemahan yang saya baca ini, kisah yang paling mengalir dan enak dibaca adalah milik Narayan dan Mishima. Sedangkan el-Hakim dan Idris lebih kuat dalam membuat konflik yang membuat kita penasaran mengenai kelanjutannya, masing-masing memberi hal tak terduga dan sentuhan humor dalam kisahnya. Secara keseluruhan, saya lebih merasa ‘dekat’ dengan tulisan Rushdie dan Mishima, mungkin karena saya lebih familiar dengan sastra Asia Timur dan Selatan ketimbang Asia Barat yang jarang saya ‘kunjungi’.

Seorang penulis adalah orang biasa, mungkin dia lebih peka tapi seorang yang terlalu peka acap kali juga lebih rapuh. Penulis tak berbicara sebagai juru bicara masyarakat atau sebagai penjelmaan kebenaran. Suaranya mungkin lemah, tapi justru suara individual inilah yang lebih autentik.
Apa yang ingin saya kemukakan di sini adalah bahwa sastra hanya bisa menjadi suara individual dan selalu begitu. Sekali sastra dibuat sebagai himne sebuah bangsa, bendera ras, corong partai politik, atau suara kelas atau kelompok, ia berlaku hanya sekadar sebagai alat propaganda. Sastra semacam itu kehilangan apa yang melekat dalam sastra, berhenti sebagai sastra, dan menjadi pengganti bagi kekuasaan dan keuntungan.
(Xingjian, Perihal Sastra, p.202-203)

Sebagai penutup, saya suka sekali dengan pidato Xingjian mengenai sastra ini. Menurutnya, sastra (seharusnya) tidak berbicara untuk siapa-siapa, tidak perlu memiliki pesan apa-apa, karena ia adalah kebutuhan penulis untuk melampiaskan apa-apa yang ingin ditulisnya. Sastra sejati lahir dari hati terdalam, yang tidak menuntut apa-apa kecuali bahwa dia dituliskan untuk menjaga sang penulis tetap ‘waras’, tanpa peduli apakah dia akan dibaca atau tidak.

Estetika yang berpijak dari emosi-emosi manusia tak akan aus bahkan jikalau terjadi perubahan terus-menerus dalam sastra dan seni. Namun evaluasi-evaluasi literer yang berubah-ubah seperti mode bersandar pada mode terakhir: yakni apa pun yang baru itu bagus. Ini adalah mekanisme dalam pergerakan-pergerakan pasar umumnya dan pasar buku tak terbebas darinya, tapi bilamana penilaian estetis penulis mengikuti pergerakan-pergerakan pasar ini akan berarti bunuh diri sastra. Terutama dalam apa yang disebut masyarakat konsumer dewasa ini, saya kira seorang mesti bernaung dalam sastra sejati. (Xingjian, Perihal Sastra, p.209)

Pidatonya ini menjelaskan banyak hal mengenai sastra; menjelaskan mengapa sastra tidak selalu mudah dipahami, karena dia tak selalu perlu dipahami; menjawab tantangan bahwa sastra pasti memiliki nilai moral tertentu, yaitu dengan menjadi jujur, meski ia harus menabrak nilai moral tersebut; dan menegaskan bahwa sastra tidak akan menjadi sesuatu yang populer, karena dia adalah pekerjaan sepi.

“Kenyataannya, hubungan pengarang dan pembaca selalu merupakan hubungan komunikasi spiritual dan tak perlu mereka bersua atau berinteraksi secara sosial, itu adalah komunikasi yang semata melalui karya. Sastra masih menjadi bentuk yang sangat diperlukan dari aktivitas manusia yang di dalamnya baik pembaca maupun penulis terlibat atas kemauan mereka sendiri. Dengan demikian, sastra tak punya tugas terhadap massa.” (Xingjian, Perihal Sastra, p.210)

received_10208040676604997.jpeg

Buku yang sangat ‘kaya’ ini bisa kalian miliki, PLUS sebuah buku terbaru terbitan DIVA Press, simak syarat dan ketentuannya ya:

  1. Peserta memiliki alamat kirim di Indonesia
  2. Follow blog ini dan twitter @divapress01
  3. Bagikan info giveaway ini di media sosial
  4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar, dengan menyertakan nama, alamat email, dan link share di media sosial

Ceritakan pengalaman membaca yang membawa keajaiban bagi kalian. Tidak harus sastra, mungkin ada buku yang membuat hidup kalian berubah, atau mengubah cara pandang kalian, atau apapun definisi ‘keajaiban’ menurut kalian.

  1. Batas giveaway ini adalah 25-31 Januari 2016, dan akan dipilih satu orang pemenang

Semoga beruntung mendapatkan kumpulan sepuluh ‘keajaiban’ ini.

Jejak Penyintas & Rumah

jejak penyintasJudul 1 : Jejak Penyintas (Sepuluh Kisah Rumah Tangga Buruh Migran Perempuan dari Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone)
Edisi : Cetakan Pertama, Juni 2007
Tebal : xxv + 84 halaman

rumahJudul 2 : Rumah: Dambaan Buruh Migran Perempuan (Sepuluh Cerita dari dan tentang Rumah Buruh Migran Perempuan Asal Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone)
Edisi : Cetakan Pertama, Mei 2008
Tebal : xxviii + 105 halaman

Penyunting : Tati Krisnawaty, SH Ningsih, JJ Rizal
Penerbit : The World Bank Office Jakarta

Gelombang buruh migran seolah tak ada habisnya. Selama berpuluh-puluh tahun, menjadi TKI/TKW adalah pilihan hidup yang (dirasa) menjanjikan. Pemberitaan mengenai kesulitan pada buruh migran tersebut pun tak menyurutkan orang untuk berbondong-bondong memilih menjadi buruh atau PRT di luar negeri. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Memang benar bahwa menjadi buruh migran menjanjikan penghasilan yang jauh lebih besar. Jika kita, sebagai ‘orang luar’, memandang kasus gagal dari para TKI, maka orang-orang pedesaan (terutama yang disorot dalam buku ini: Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone) yang hidup dalam kondisi pas-pasan, bahkan kekurangan, lebih memilih untuk memandang kasus-kasus yang berhasil.

Kedua buku ini terlahir dari studi kasus mengenai para buruh migran perempuan (BMP). Dari sekian ratus wawancara dan penelitian, dipilihlah masing-masing sepuluh kasus untuk setiap buku, yang masing-masing mewakili isu perempuan penyintas (survivor) dan usaha membangun rumah tinggal–yang dianggap sebagai simbol kesejahteraan, keamanan, tempat bernaung, dan tempat pulang.

Di tengah masyarakat yang masih menganut budaya patriarki, menjadi BMP tidaklah mudah. Di satu sisi, mereka ingin turut andil dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, di sisi lain, ada budaya dan adat yang membuat usaha mereka jauh lebih sulit. Adanya diskriminasi, tindak kekerasan—baik fisik maupun mental, sampai pada pencerabutan hak-hak perempuan, tak pelak terjadi pada mereka, meski nyata-nyata telah berusaha menaikkan taraf hidup keluarga, dengan segenap pengorbanannya.

Buku ini memotret kisah-kisah BMP, baik yang berhasil ataupun yang gagal, yang dihina atau dipuji, yang dihargai maupun yang disia-siakan dan sekadar dimanfaatkan. Ada BMP yang hidupnya menjadi bahagia dalam rumah yang mapan, ada juga yang diceraikan karena alasan adat, bahkan ada yang disingkirkan setelah suami/keluarga mendapatkan bantuannya. Namun, di sisi lain, bukan tidak mungkin BMP yang berubah dan meninggalkan keluarganya untuk pilihan hidup yang lain. Dalam hal ini, kesetiaan suami/keluarga di kampung halaman yang disoroti.

Kisah-kisah dalam buku ini merupakan kisah nyata yang dibalut dalam nama-nama samaran, sehingga kisahnya pun dibangun dengan konflik yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tak semua kisah terbalut emosi, beberapa ada kisah yang ‘biasa’ saja, tetapi—yang paling penting adalah—berhasil menyampaikan maksudnya. Buku ini dimaksudkan sebagai salah satu sarana menyebarluaskan isu-isu sosial mengenai BMP yang jarang disoroti, atau jarang mendapatkan perhatian dari pihak yang berwenang. Bahkan mungkin ada pihak-pihak yang sengaja menutup mata dan hanya mengambil keuntungan secara sepihak. Hal-hal ini menyebabkan minimnya regulasi yang melindungi para BMP, regulasi yang bukan hanya menjadikan mereka sebagai komoditas.

Kelemahan dari buku ini adalah tata bahasa dan penulisan yang tidak sempurna. Masih banyak saya temukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sangat disayangkan, mengingat buku ini adalah sebuah karya yang semestinya bisa dikemas dengan lebih baik sehingga bisa menjangkau lebih banyak pembaca.

Pembahasan yang mengiringi kisah-kisah dalam buku ini—pada kata pengantar, prolog, dan epilog—sangat lengkap dan komprehensif. Mulai dari tema, sinopsis, latar belakang, moral, dan lain sebagainya. Di satu sisi baik untuk tujuan yang dimaksudkan dari penulisan buku ini, tetapi di sisi lain, detail yang terlalu berlebihan membuat pembaca merasa cukup, bahkan sebelum membaca kisahnya sendiri.

Secara keseluruhan, buku ini cukup mencerahkan, memberi sudut pandang baru, dan mengasah empati kita pada orang-orang yang mengambil pilihan tak populer dalam hidupnya. Semoga pihak yang berwenang berkesempatan untuk mengetahui kisah-kisah mereka dan membuat regulasi yang berimbang. 3/5 bintang untuk perempuan-perempuan perkasa dan perjuangannya.

Juni : Budaya & Setting Indonesia

Juni : Budaya & Setting Indonesia

Buka-Bukaan Ala Blogger Kondang(an)

23528136Judul : Buka-Bukaan Ala Blogger Kondang(an)
Penulis : Abdul Cholik, Ade Anita, Akhmad Muhaimin Azzet, Cii’ Yuniaty, Esti Sulistyawan, Hariyanto Wijoyo, Haya Aliya Zaki, Lianny Hendrawati, Nuzulul Arifin, Ririe Khayan, Sri Wahyuni, Suprihati, Susi Susindra
Penyunting : Aisha S. Maharani
Penerbit : Penerbit Sixmidad
Edisi : Cetakan Pertama, Juli 2014
Format : Paperback, 152 halaman

Buku ini layaknya kumpulan curhat para blogger kondang, mereka yang sudah bertahun-tahun malang-melintang di dunia perblogan. Tiga belas blogger tersebut berbagi banyak hal tentang blogging, mulai dari mencegah hiatus, mengembangkan blog menjadi buku, merambah media massa, blogger dalam komunitas, blogger dalam bidang-bidang tertentu, hingga bagaimana tetap ngeblog di antara kesibukan. Bukan hanya berbagi cerita, para blogger ini juga memberi banyak sekali tips bermanfaat yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Pada prinsipnya, buku ini merupakan salah satu panduan yang bersahabat untuk memulai, menjalankan, mengembangkan, memanfaatkan, serta menyikapi blog.

Buku ini mengingatkan saya tentang masa-masa saya membangun blog. Bisa dikatakan saya agak terlambat memulai blogging, karena ketidaktahuan saya pada masa itu. Saya merasa blog sebagai kemewahan yang tak bisa saya bangun di antara media saya yang terbatas. Saya menyamankan diri berada di ruang tumblr atau media sosial yang terbatas. Hingga suatu ketika di pertengahan 2009 ada yang memotivasi saya untuk membuat blog sebagai publikasi bagi tulisan-tulisan saya. Saat itu blog saya masih tidak stabil karena banyak alasan. Hingga tahun 2012 saya memutuskan aktif di sebuah komunitas blogger buku, dan membangun blog yang nyaman dan aktif hingga sekarang.

Cerita saya tidak penting, karena saya bukan blogger kondang seperti para kontributor di buku ini. Namun, berkat buku ini saya jadi semacam bernostalgia, sekaligus termotivasi untuk terus mengembangkan blog dan penulisan saya. Mereka yang saat ini telah merasakan hasil dari blogging selama bertahun-tahun memiliki cerita yang berbeda-beda, memiliki jalan dan caranya masing-masing, tetapi memiliki satu tujuan besar yang sama: berbagi. Bahwa dengan blogging mereka bisa mendapatkan honor, hadiah, ketenaran, promosi, dan sebagainya hanyalah bonus.

Blogger adalah anomali, sebuah deviasi eksistensial yang menembus sekat dan batas-batas nilai yang cenderung diyakini oleh masyarakat oportunis. (hal.vii)

Dari sisi penulisan, terasa sekali ‘aura blog’ dalam buku ini. Setiap blogger menulis dengan gaya uniknya masing-masing yang sangat kentara perbedaannya. Ada yang lurus, ada yang berbelok-belok, ada yang berputar-putar. Ada yang serius, ada yang ilmiah, ada yang santai, ada yang sederhana dan ada yang kompleks. Dan tentu saja jika dikaitkan masalah selera, ada yang gaya penulisannya saya suka dan tidak suka.

Secara umum, buku ini mungkin salah satu buku yang wajib dibaca semua orang, terutama para blogger, para calon blogger, para calon penulis, para penulis yang belum tahu hendak ke mana, dan siapa saja yang tertarik pada dunia perblogan maupun penulisan. Karena menulis adalah hal yang paling esensial dalam blogging, sedangkan blogging sendiri bisa menjadi salah satu sarana menulis yang memiliki banyak keuntungan.

4/5 bintang untuk blogging, salah satu hidup saya saat ini.

Review #30 for Lucky No.14 Reading Challenge category Freebies Time

Memoritmo

memoritmoJudul : Memoritmo
Penulis : Eross Chandra, Anto Arief, Mikael Johani, Rain Chudori, Maradilla Syachridar, Galih Wismoyo, Sarah Deshita, Cholil Mahmud, Kartika Jahja, Meng “Hotmaroni” Simamora, Hasief Hardiansyah, Ade Paloh, Valiant Budi, Sammaria Simandjuntak
Editor : Syafial Rustama
Proofreader : Resita Wahyu Febriati
Penerbit : Bukuné
Edisi : Cetakan pertama, September 2012
Format : Paperback, 180 halaman

You must respect your heart’s desire. Do what your heart tells you to. Anything less would be a  crime. (Hasief Hardiansyah, hal.137)

Empat belas orang berbagi tentang empat belas lagu kenangan masing-masing. Sebuah project yang dicetuskan oleh Maradilla Syachridar mengingat betapa lagu bersifat universal, dan beberapa lagu mungkin mengendap dan menguarkan kembali kenangannya ketika memori itu terusik.

Entah sejak kapan, saya terobsesi dengan segala buku (terutama fiksi) yang berkaitan, atau berbau, musik. Saya pun pernah memiliki project tersendiri (yang saat ini masih mandeg) menarasikan sebuah lagu dalam cerpen versi saya sendiri (beberapa saya tuliskan di sini). Karena itulah, sejak pertama kali melihat review kak Dewi tentang buku ini, saya ingin membacanya. Akan tetapi alasan terbesarnya tetap bahwa saya merasa terhubung dengan segala sesuatu, sampai saat ini, melalui musik.

Musik adalah sarana untuk melampiaskan perasaan. Saat ada suatu perasaan membuncah kemudian sebuah musik yang ‘pas’ tiba-tiba muncul, maka musik itu bisa menjadi obat, atau bahkan menjadi racun, bergantung pada dosis dan cara pemakaiannya. Musik yang ‘pas’ itu yang seperti apa memangnya?

See, that’s the great thing about music. A song can still resonate with you if you don’t know what it’s about, or even if it’s totally unrelated to your life. All you need is the right lyric, melody or chord sequence, and it becomes the soundtrack of your life. The song becomes what you need it to be. (Hasief Hardiansyah, hal.135)

Tepat seperti itu, tak perlu persis sama dengan kisah hidup kita. Mau satu kalimat saja yang sama, nuansa musiknya yang sesuai—tak peduli liriknya, atau bahkan satu kata yang tertancap begitu dalam, tak peduli apa makna sebenarnya dari lagu itu. Terkadang, seperti itulah musik bekerja. Dan saya selalu merasakan apa yang dikatakan oleh Eross Chandra.

Saya selalu bahagia dengan tafsir lagu menurut versi saya sendiri. Tidak peduli lagi apa maksud sebenarnya dari si penulis lagu dan itulah intinya sebuah art bagi saya. (Eross Chandra, hal.15)

Kita bisa mengatakan art itu hebat saat daya imajinasi kita berkembang baik dengan trigger si art itu sendiri. (Eross Chandra, hal.16)

Pada saat suatu lagu diperdengarkan ke telinga kita, maka yang bekerja bukan hanya logika, tapi emosi dan perasaan ikut menerjemahkannya, sesuai dengan diri kita, keadaan kita, kemauan kita. Musisi yang baik selalu bisa ‘masuk’ ke dalam cara yang berbeda-beda, menemukan pendengar dan penikmat yang berbeda-beda, juga bisa menerima sikap yang berbeda-beda.

Tapi buku ini bukan hanya tentang itu. Buku ini memuat berbagai macam cerita tentang musik. Ada yang menuliskan kenangannya, ada yang menuliskan pendapatnya, ada yang memfiksikan kisahnya, ada pula yang menarasikan puisi cintanya. Saya rasa tidak ada konsep yang pasti dalam tiap cerita kecuali musik itu sendiri. Buku ini merupakan himpunan memori dalam berbagai macam bentuknya.

Suatu saat, musik bisa menginspirasi…

Mungkin seharusnya seperti itulah hubungan yang sudah ditakdirkan gagal. Tidak perlu banyak merenung atau bahkan semakin terobsesi mengapa seseorang dapat membuat kita jatuh cinta atau dicintai. Biarkan saja semua itu berakhir. (Maradilla Syachridar, hal.63-64)

Sebahagia-bahagianya saya saat ini, saya masih sering sedih kalo inget yang dulu-dulu. I let go, I moved on. But what kind of heart doesn’t look back? Here I am, stronger than ever. Masa lalu saya yang membuat saya seperti sekarang ini. Dan saya suka saya yang sekarang. (Sarah Deshita, hal.91)

Suatu ketika, musik membuat kita lebih bijaksana…

… namun seni melupakan seseorang perlu dikembangkan dengan cara tidak melupakan, bahkan di setiap transisinya menuju keikhlasan, semua harus dikelola. (Maradilla Syachridar, hal.67)

Love is not about giving up what you have, own, or believe. Love is willingness to give it all up, for love needs no proof. The willingness to stay. To stick around when things get rough. (Sarah Deshita, hal.90)

Semuanya hanya masalah penafsiran. Karena itulah, musik itu universal.

Buku ini, tidak bisa saya kategorikan sebagai buku yang memuaskan. Beberapa sulit ditangkap oleh orang yang belum pernah mendengarkan lagu yang dimaksud. Beberapa berisikan sepenggal memoar sang penulis yang agak terlalu personal sehingga tidak berarti apa-apa bagi pembaca yang belum mengenalnya. Beberapa kalimat yang saya kutip mungkin bisa mencerminkan penulis mana saja yang memberikan sesuatu yang menarik bagi saya. Termasuk tulisan Kartika Jahja yang tampaknya merupakan fiksi tentang seorang wanita muda lewat lagu Bad Wisdom, juga kisah remaja Valiant Budi dalam Sahabat Gelap, yang cukup menarik meski penulisannya tak terlalu istimewa untuk saya.

Kemudian saya ingin melemparkan sebuah pertanyaan seusai membaca tulisan Ade Paloh yang berbunga-bunga. Benarkah sel memori, termasuk memori tentang musik, terletak di otak belakang?

Secara keseluruhan, saya suka idenya, meski tak terlalu menikmati buku ini. 3/5 bintang untuk musik dan memori.

Namun, kekuatan istimewa sebuah lagu ini punya satu konsekuensi buruk: sebuah lagu juga bisa memonopoli memori. Dan, bagaikan industri otomotif yang menghancurkan badan dan jiwa Jakarta lewat monopoli moda transportasi, beberapa lagu menjadikan monopoli memori mereka sebagai senjata untuk menjadi diktator ingatan kita. Sebuah lagu bisa tanpa ampun menyeret kita ke dalam masa lalu yang sebenarnya ingin kita lupakan saja. (Mikael Johani, hal.39)

*Posting bersama BBI Mei (2) Kumpulan cerpen

Click – Ten Authors

klikTitle : Klik! (Click : One Novel, Ten Authors)
Authors : Linda Sue Park, David Almond, Eoin Colfer, Deborah Ellis, Nick Hornby, Roddy Doyle, Tim Wynne-Jones, Ruth Ozeki, Margo Lanagan, Gregory Maguire (2007)
Translator : Jia Effendie
Editor : Ariyantri E. Tarman
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, September 2012
Format : Paperback, 228 halaman

Satu. Maggie mendapatkan sebuah kotak dari Grandpa Gee yang baru saja meninggal. Tak ada yang tahu betapa dia menahan untuk tidak membuka kotak itu, demi kenangan Gee, supaya dia masih merasakan kontak dengan Gee. Saat pada akhirnya dia membuka kotak itu, itu adalah awal petualangannya mengikuti Gee.

Dua. Annie tinggal di rumah di Pantai Stupor bersama ibunya. Dia berbeda. Tubuhnya berbeda, tidak biasa, aneh. Tapi sejak bertemu Gee, sejak Gee mengambil gambarnya, Annie menyadari kebenaran.

Tiga. Jason tidak sependapat dengan Maggie, adiknya. Mungkin juga dia tidak peduli. Bukan Gee, bukan orang tuanya yang ini, dan bukan Maggie yang ditujunya. Dia mencari ayah kandungnya, ayah biologis yang meninggalkannya. Karena itulah dia bekerja, bahkan berusaha menjual warisan dan barang peninggalan Gee. Tapi ternyata, Gee adalah orang yang paling mengerti dan paling tahu apa yang akan dilakukan Jason, bahkan setelah dia meninggal.

Empat. Lev sudah terbiasa dengan penjara. Rutinitas dan hal-hal tak biasa yang mudah ditebak. Sampai kehadiran seorang tamu dari Amerika bernama Gee. Dia memotret mereka, membeli kotak buatan Lev, dan menemukan ibunya. Memberi Lev sebuah kekuatan baru.

Lima. Maggie berharap Grandpa Gee adalah anggota The Beatles, agar dia bisa mendengarkannya di radio setiap saat. Namun dia salah, Gee memang fotografer terkenal. Atau, mungkinkah itu Gee yang lain?

Enam. Vincent memiliki sebuah kisah yang selalu dibanggakan kepada anak-anaknya. Empat belas tahun yang lalu dia bertemu dengan petinju legendaris Muhammad Ali, dan diabadikan oleh Gee. Bukan, bukan Gee, tapi George. Dan masih ada masalah.

Tujuh. Min masih merasakan ketakutan itu. Saat dia diserang oleh…anjing? Mungkin bukan. Sejak Jason mengikutinya dengan kameranya, dan melihatnya bertemu anjing itu lagi, semuanya menjadi lebih baik.

Delapan. Jiro masih memiliki ibu dan Taro, meski kakak laki-lakinya itu kehilangan kaki di medan perang. Dia benci orang Amerika. Tapi ada seorang Amerika yang memberinya permen, yang suka memotret, dan menyelamatkan kakaknya. Kata Taro, Jiro harus memanggilnya Gee-san.

Sembilan. Afela tidak menyukai rumah pantai tempat liburan musim panasnya. Menurutnya rumah itu jelek, membosankan, dan kecil. Apalagi harus dihuni oleh banyak kerabatnya. Tapi dia bertemu Margaret, yang memiliki kisah.
“Pengupasan” yang kaubicarakan tadi, itu adalah proses nyata seperti pembelahan sel, bukan? Kau dan aku tahu itu; Grandpa Gee tahu itu. Hanya saja ilmu pengetahuan belum cukup untuk bisa menjelaskannya, dan tanpa penjelasan ilmiah, banyak hal tampak seperti sihir. Atau kegilaan, Afela. Kau harus berhati-hati memilih orang untuk kauberitahu tentang hal ini. Orang-orang bisa menjadi sangat kejam. (p.200)

Sepuluh. Margaret berhasil mempresentasikan foto-foto yang membuatnya mengingat masa lalu, masa di saat dia biasa dipanggil Maggie. Dan kini, warisan terakhir Gee untuknya harus diserahkan pada Iona, cucu Jason.

Sepuluh cerita pendek dari sepuluh penulis yang berbeda, disatukan menjadi sebuah novel. Seperti teka-teki, saling menemukan hubungan sebab-akibat, mencari hakikat kebenaran, dan melepaskan apa yang tak boleh disimpan. Dari kesepuluh kisah tersebut, tampak bahwa satu demi satu kisah membuka jati diri Grandpa Gee, yang terus dicari oleh kedua cucunya, Maggie dan Jason. Kedua anak itu bertualang mengikuti jejak Gee, menapak jalan yang sama, mencari makna yang mereka butuhkan.

Saya suka sekali dengan kisah penuh warna ini. Masing-masing penulis terlihat memiliki ciri khas yang berbeda-beda, yang sangat sesuai dengan latar belakang kisah yang mereka ceritakan. Ada yang menitikberatkan pada sisi psikologis, ada yang mengangkat sisi magis, ada yang bermain dengan misteri, ada pula bagian futuristik yang begitu baru, yang tersusun begitu apik dan mampu menyatu dengan wajar.

Perjalanan itu pun masih menyisakan pertanyaan. Jawaban yang didapatkan dan pelajaran yang dipetik tak cukup untuk menutupi misteri yang tersisa. Namun, kita memang tak harus tahu dan paham tentang segala hal. Yang terpenting adalah, terus bergerak dan terus melihat. 4/5 bintang untuk novel kaya rupa dan kaya rasa.

*Review ini dibuat untuk event Secret Santa 2012, dan sekaligus merupakan tema posting bersama BBI bulan Januari.

Sebagaimana telah dijadwalkan, selain membuat review buku yang didapatkan dari Secret Santa, saya harus menebak siapa santa saya. Saya telah mengisahkan di sini bahwa kecurigaan saya bermula saat menerima SMS dari panitia. Mengapa? Karena pembagi Santa-X saya seharusnya adalah Oky, tapi mengapa yang mengirim SMS atas nama santa saya adalah Ndari? Saat paket datang pun, alamat lengkap tertulis dari Denpasar, meski bukan alamat di database BBI. Dan, yang paling menentukan adalah riddle-nya.
Untuk kalimat-kalimat awal menunjukkan kepribadian santa yang—sejujurnya—tidak banyak membantu jika saya tak punya asumsi. Saya hanya menduga berdasarkan asumsi saya sejak awal bahwa paragraf terakhir ini menunjukkan namanya:
Point my pavement with flowers of night
Magnolia or moth orchids
Turn right and follow to the end
I will meet you in the meadow.
Sekar Wulandari. Cocok kan, ada bunga-bunga (=sekar), kemudian ada malam (night) yang menunjukkan kemunculan bulan (=wulan). Yah, ini terlalu dibuat-buat ya sepertinya. Tapi, please, Ndari, say I am right! You must be my secret santa! *maksa*

(Review buku kedua dari santa bisa dilihat di sini [meski yang saya baca edisi yang berbeda])

FYE buttonBuku ini bisa juga dikategorikan sebagai buku anak–atau remaja tepatnya. Saya rasa cocok dibaca mulai usia 12 tahun. Selain mengajarkan berpikir terbuka, buku ini cukup ‘aman’ karena hal-hal yang terlalu ‘dewasa’ tidak disebutkan secara eksplisit.