Scene on Three (131) [Selamat Ulang Tahun, Bebi!]

Setelah sekian purnama belum sempat posting sesuatu, hari ini bertepatan dengan ulang tahun Bebi yang ke-9, saya menyempatkan diri menulis sesuatu. Harapannya, BBI hidup lagi (apa pun bentuknya), sehat, sejahtera, bahagia, dan berjaya sesuai masanya.

Tahun ini kebetulan dunia mengalami masa yang sulit, sebuah pandemi virus corona baru menyerang hampir seluruh dunia. Ada negara yang menanganinya dengan baik ada yang tidak. Saya jadi ingat dengan kisah dalam buku The Great Trouble yang menceritakan kisah wabah kolera di Inggris pada abad ke-19.

Kemudian saya membuka salah satu buku sejarah medis yang ada di perpustakaan pribadi saya, berjudul Kill or Cure, karangan Steve Parker, pada bagian yang membahas mengenai John Snow, dokter yang memiliki peran penting di buku The Great Trouble tersebut. Berikut kutipan yang saya pilih:

In 1885, Snow published a hugely expanded, revised edition of On the Mode of Communication of Cholera, in which he noted: “Within 250 yards of the spot… there were upward of 500 fatal attacks of cholera in 10 days… I suspected some contamination of the water of the much-frequented street-pump in Broad Street.” However, his ideas continued to be ignored, and cholera continued its deadly attacks. The miasma theory prevailed, and was only questioned after it was challenged by the experiments of Louis Pasteur in the 1860s. Unfortunately, Snow had already died by then, from a stroke at the age of 45, shortly before the publication of his book On Chloroform and Other Anesthetics and Their Action and Administration. (p.182-183)

Lucu juga kalau teori miasma dikembalikan sekarang, toh orang awam juga tidak tahu bahwa itu teori jadul. Kalau diembuskan dengan tepat, mungkin bisa dipercaya sebagaimana hoax pada umumnya. Setidaknya teori ini akan lebih relevan untuk membuat orang-orang berdiam saja di rumah.

Tapi bukan karena itu saya mengambil kutipan itu. Sebagaimana kata orang-orang, sejarah berulang. Orang dengan kompetensi untuk berbicara sering sekali tidak didengar, padahal sebenarnya bisa menyelamatkan banyak orang. Apalagi hari ini, bukan hanya satu dokter yang berbicara, banyak dokter, pakar, dan profesor sudah berbicara, tinggal kita menunggu saja; mereka akan didengar dan kita semua selamat, atau pihak berwenang terus memilih abai dan kita tunggu ke mana virus ini akan membawa kita. Mereka yang sakit, yang cacat, yang meninggal akan menjadi catatan sejarah, dan mereka yang sudah diberi tahu tetapi memilih tidak mendengar akan dicatat juga oleh tinta merah sejarah.

Jika ada satu saja hal yang bisa menghibur kita dari sejarah itu, adalah bahwa semua akan berakhir, hanya kita tidak akan tahu akhir yang bagaimana. Tapi, semua akan berakhir, pada waktunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s