Tag Archives: The Classics Club Project

The Classics Club Project : Wrap Up

classicsclub

It’s a long journey with The Classics Club. The Club has changed since then, more and more interesting events have been held. However, as time went by, there are things that made my blogging time reduced, let alone joining events or read alongs. I’m still reading classics, but these two years I have to take my own words of wanting to finish my original list.

These are my first year progress, my second year, and my third year. I even couldn’t make forth year progress, so I’ll be nicer to myself, and proudly say that these past 5 years, I’ve read 127 classics (short stories and poetries included), and reviewed 111 of them. Here are the list, continued from progress links above:

Finished books from CCP list:
27. Little Women by Louisa May Alcott
28. The Old Curiosity Shop by Charles Dickens
29. Just So Stories by Rudyard Kipling
30. Pride and Prejudice by Jane Austen
31. The Magician’s Nephew by C. S. Lewis
32. The Seven Poor Travellers by Charles Dickens
33. The Two Towers by J. R. R. Tolkien
34. The Jungle Book by Rudyard Kipling
35. The Wonderful Wizard of Oz by L. Frank Baum
36. Of Mice and Men by John Steinbeck
37. 7 Classic Stories by Edgar Allan Poe
38. Grimms’ Fairy Tales (Part 1)

Other classics (reviewed):
59. The Flood by Émile Zola
60. The Dream by Émile Zola
61. Inspirations – Classics selected by Paulo Coelho
62. Lotta by Astrid Lindgren
63. The Magic Finger by Roald Dahl
64. The Enormous Crocodile by Roald Dahl
65. Matilda by Roald Dahl
66. The Giraffe and the Pelly and Me by Roald Dahl
67. Snow Country by Yasunari Kawabata
68. Oeroeg by Hella S. Haasse
69. And Then There Were None by Agatha Christie
70. The BFG by Roald Dahl
71. The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie
72. Charlie and the Chocolate Factory by Roald Dahl
73. Charlie and the Great Glass Elevator by Roald Dahl

Other classics (haven’t reviewed):
1. Breakfast at Tiffany’s by Truman Capote
2. A Christmas Carol by Charles Dickens
3. The Little Prince by Antoine de Saint-Exupery (reread)
4. Perempuan di Persimpangan Zaman by Sutan Takdir Alisjahbana (Indonesian classic poetry)
5. Orkes Madun by Arifin C. Noer (Indonesian classic play)
6. The Canterville Ghost by Oscar Wilde
7. Candide by Voltaire
8. Max Havelaar by Multatuli
9. The Fall by Albert Camus
10. The 13 Clocks by James Thurber
11. The Story of the Other Wise Man by Henry Van Dyke
12. Kaas by Willem Elsschot
13. Di Bawah Lindungan Ka’bah by Hamka (Indonesian classic)
14. Murder on the Orient Express by Agatha Christie
15. Letter to a Hostage by Antoine de Saint-Exupery
16. Drawings by Sylvia Plath

I consider myself succeed, and I’ve given my reward to a friend, a copy of The Little Prince by Antoine de Saint-Exupery, for her and her son once he’s old enough to understand the story.

Will I join another round of this project? I haven’t decided it yet. I definitely will read a bunch of classics, but I don’t know if I could manage my blogging time better.

Advertisements

Of Mice and Men – John Steinbeck

7401287Title : Of Mice and Men
Author : John Steinbeck (1937)
Translator : Isma B. Koesalamwardi
Editor : Huzeim
Publisher : Ufuk Press
Edition : Cetakan I, Desember 2009
Format : Paperback, 238 pages

George Milton dan Lennie Small mungkin sangat berbeda, baik dalam penampilan fisik maupun mental, George kecil tapi cerdik, sedangkan Lennie tinggi besar tetapi sangat polos. Namun, keduanya sangat terikat satu sama lain, entah dengan alasan apa. Lennie tak akan mungkin bertahan tanpa George, sedangkan George tak pernah tega meninggalkan Lennie, meski dia selalu menimbulkan masalah yang membuat keduanya harus kabur. Kali ini mereka berusaha bertahan di sebuah peternakan di Salinas.

Dunia ini keras, dengan berbagai macam orang dan karakter serta kepentingannya. Ada orang yang punya kekuasaan, atau merasa memiliki kekuasaan, lalu bertindak semaunya, hingga seorang rendahan yang waras harus tahu kapan harus mundur untuk menghindari masalah. Ada pula orang yang melakukan hal sesuai keinginannya tanpa peduli hal itu bisa membahayakan orang lain, ada yang begitu tersisih sehingga tahu diri untuk menjadi ‘tak-kasat-mata’, ada yang mencari kenyamanan diri tanpa harus mengusik orang lain. Setiap orang dewasa tahu bagaimana menghadapi orang-orang ini, tetapi tidak dengan Lennie. Kepolosannya kadang membuatnya masuk ke dalam masalah dan membuat orang lain terseret ke dalamnya, terutama George, sahabat setianya. Untuk itulah George berusaha keras membuat Lennie mengerti apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi, dunia ini keras, dan masalah tidak pernah menunggu kita siap.

“Orang tidak perlu cerdas untuk menjadi orang baik. Bagiku, kadang-kadang semuanya berlaku terbalik. Seseorang yang benar-benar cerdas, jarang yang benar-benar baik hati.” (p.88)

Meski setiap orang yang sudah mengenalnya akan maklum dengan kepolosan Lennie, bahkan menganggapnya terbelakang, tetap ada batasan untuk suatu hal, ada kejadian yang tidak bisa dimaklumi untuk orang dengan tubuh besar. Saya melihat Lennie seperti anak kecil yang terperangkap dalam tubuh raksasa, dia tidak bisa mengontrol emosi dan kepanikannya. Namun, seorang anak kecil tidak akan membahayakan orang lain jika dia kehilangan kendali diri, tidak seperti Lennie yang dengan mudah bisa membuat seekor tikus mati dengan jarinya.

“Aku membelainya, dan tidak lama setelah itu menggigitku. Aku mencubit kepalanya sedikit, lalu dia mati—karena dia kecil sekali.” (p.24)

Serekat apapun sebuah persahabatan, apakah tidak ada batas untuk kesabaran? Apakah George akan terus lari demi Lennie, ataukah ada cara untuk menghentikannya?

Selama ini saya masih beranggapan bahwa sebuah novela yang diramu dengan baik bisa meninggalkan kesan yang lebih dalam ketimbang novel yang panjang. Hal ini dikarenakan novela memiliki ruang untuk pengembangan karakter yang cukup untuk membuat pembaca merasa dekat, tetapi kurang dalam untuk membuat pembaca mengetahui detail masa lalu mereka, serta alur yang cenderung datar, membuat pembaca ingin lebih banyak lagi cerita, lebih banyak lagi kejadian, lebih jelas lagi apa yang akan terjadi. Dan buku ini termasuk salah satu di antaranya. Saya bisa merasakan kedekatan George dan Lennie, dan ketika kisah ini diakhiri, saya merasakan getirnya pilihan yang memang harus diambil. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul; mengapa, bagaimana bisa, bagaimana kalau, dan sebagainya hanya menambah intensitas buku ini di dalam benak saya sebagai pembaca, bahkan jauh setelah selesai membacanya. Intensitas inilah yang membuat sebuah buku menjadi berkesan, meski sulit dijelaskan untuk alasan apa.

Sebesar apa seseorang bisa berkorban untuk orang lain? Seberapa jauh seseorang bisa bertindak demi orang yang dikasihinya?

“Tetapi kita tidak seperti itu! Mengapa begitu. Karena… karena aku punya kau yang selalu menjagaku, dan kau punya aku yang juga selalu menjagamu, yah… itulah sebabnya.” (p.33)

Review #35 of Classics Club Project

The Wonderful Wizard of Oz – L. Frank Baum

oz1

Title : The Wonderful Wizard of Oz
Author : L. Frank Baum (1900)
Illustrator : W. W. Denslow
Publisher : Project Gutenberg
Edition : January 6, 2014 [EBook #43936]
Format : ebook

Dorothy tinggal di sebuah rumah kecil di tengah padang rumput kelabu yang kering di Kansas, bersama Uncle Henry dan Aunt Em, serta Toto, anjing kecilnya. Hari itu terlihat lebih kelabu, ada awan tebal menggantung, mengancam membawa badai topan bersamanya. Mereka sudah bersiap untuk berlindung di ruang bawah tanah. Namun, sebelum tiba di pintu, Dorothy yang memegang Toto sudah terbang bersama rumah yang terjebak topan.

A strange thing then happened.
The house whirled around two or three times and rose slowly through the air. Dorothy felt as if she were going up in a balloon.
The north and south winds met where the house stood, and made it the exact center of the cyclone. In the middle of a cyclone the air is generally still, but the great pressure of the wind on every side of the house raised it up higher and higher, until it was at the very top of the cyclone; and there it remained and was carried miles and miles away as easily as you could carry a feather.

Rumah kecil itu, bersama Dorothy dan Toto, mendarat dengan mulus di Negeri Oz. Negeri yang masih dikuasai oleh penyihir di empat penjuru negerinya, di mana terdapat penyihir jahat di Timur dan Barat, serta penyihir baik di Utara dan Selatan. Akan tetapi, tak ada penyihir yang bisa melampaui kekuatan sang Penyihir Hebat Oz yang tinggal di kota Emerald. Kota yang untuk menuju ke sana harus mengikuti jalan berbata kuning. Untuk bisa pulang ke Kansas, Dorothy harus menempuh jalur tersebut, dengan segala bahayanya, sendirian, dengan bekal hadiah dan perlindungan dari Penyihir Utara.

oz1-3Di perjalanannya, Dorothy bertemu dengan orang-orangan sawah yang sangat ingin memiliki otak, penebang kayu dari kaleng yang ingin memiliki hati, dan singa penakut yang ingin memiliki keberanian. Mereka menduga pastilah sang Penyihir Oz dapat memberi mereka semua itu. Berbagai rintangan, mulai dari menghadapi binatang buas, taman bunga yang mematikan, sampai bertemu dengan Oz ternyata juga membutuhkan pengorbanan tersendiri. Apakah mereka bisa meyakinkan Oz untuk membantu mereka? Apakah Oz yang menakjubkan bisa memberikan apa yang diinginkan keempatnya? Harga apa yang harus dibayarkan mereka demi memperolehnya?

“I cannot understand why you should wish to leave this beautiful country and go back to the dry, gray place you call Kansas.”

“That is because you have no brains,” answered the girl. “No matter how dreary and gray our homes are, we people of flesh and blood would rather live there than in any other country, be it ever so beautiful. There is no place like home.”
The Scarecrow sighed.
“Of course I cannot understand it,” he said. “If your heads were stuffed with straw, like mine, you would probably all live in the beautiful places, and then Kansas would have no people at all. It is fortunate for Kansas that you have brains.”

Pada pengantarnya, penulis mengatakan hendak mengubah kebiasaan dongeng anak klasik yang penuh dengan pesan moral dan kejadian-kejadian menakutkan. Penulis hendak menghadirkan keceriaan dan hiburan murni untuk anak-anak dengan kisahnya ini. Dan memang benar, buku ini adalah petualangan yang tidak mengajak anak untuk menjadi seperti ini atau seperti itu. Tantangan dapat terlalui dengan relatif mudah, dengan kecerdikan, keberanian, dan keberuntungan. Namun, di balik kesederhanaan plot ini, tersimpan pesan tersirat yang sangat dalam.

oz1-6

Bahwa apa yang kita cari hingga jauh, sebenarnya sudah ada dalam diri kita, sudah kita miliki, sudah diberikan kepada kita, bahkan mungkin sudah kita pergunakan selama ini. Hanya masalah waktu, kapan kita menyadarinya, kapan kita siap mempergunakannya, serta saat bagaimana kita bisa menghargainya. Dalam kisah singkat yang terkesan serba kebetulan ini, kita dapat melihat seberapa pentingnya proses terhadap kedewasaan dan kesiapan kita menerima sesuatu yang lebih besar.

oz1-5The Tin Woodman knew very well he had no heart, and therefore he took great care never to be cruel or unkind to anything.
“You people with hearts,” he said, “have something to guide you, and need never do wrong; but I have no heart, and so I must be very careful. When Oz gives me a heart of course I needn’t mind so much.”

Twist dalam kisah ini sebenarnya akan mengecewakan pembaca yang berharap banyak, tetapi justru di situlah kisah ini menjadi lebih bermakna. Peran utama bukan lagi dipegang Oz yang berada di judulnya, tetapi Dorothy beserta rombongan yang melalui petualangan yang menantang.

“…. Experience is the only thing that brings knowledge, and the longer you are on earth the more experience you are sure to get.”

4/5 bintang untuk dongeng klasik yang modern pada masanya.

“…. True courage is in facing danger when you are afraid, and that kind of courage you have in plenty.”

Review #34 of Classics Club Project

Review #41 of Children’s Literature Reading Project

oz1-1

The Jungle Book – Rudyard Kipling

jungle bookTitle : The Jungle Book
Author : Rudyard Kipling (1894)
Translator : Anggun Prameswari
Editor : Jia Effendi & Fenty Nadia
Publisher : Penerbit Atria
Edition : Cetakan I, September 2011
Format : Paperback, 240 pages

Salah satu indahnya Hukum Rimba adalah hukuman adil untuk semua pihak. Tidak ada yang menggerutu kesal setelahnya. (p.87)

The Jungle Book adalah kumpulan kisah tentang hewan, terutama hewan liar. Kebanyakan berupa fabel, tetapi ada juga yang bukan seperti kisah Toomai Sang Penakluk Gajah. Tak hanya cerita pendek, buku ini juga dihiasi puisi/syair bertema sama, dan seringkali berhubungan dengan kisah yang akan atau telah diceritakan.

Menyebutkan The Jungle Book mau tak mau mengingatkan kita pada Mowgli, karakter dan kisah yang sering diangkat dalam berbagai adaptasi buku ini. Kenyataannya memang kisah Mowgli cukup dominan dalam buku ini. Dalam terjemahan yang saya baca ini, ada tiga kisah Mowgli, mulai dari masa kecil saat dia mulai masuk dalam kawanan serigala, saat belajar bersama Baloo sang beruang dan Bagheera sang macan kumbang, kenakalan-kenakalannya, sampai pada menghadapi musuh bebuyutannya, Shere Khan sang harimau. Dalam kisah-kisah Mowgli, suasana hutan serta hukum rimba yang berlaku di dalamnya digambarkan dengan mendetail, terutama karena nasib bocah itu bergantung pada pemahaman hewan-hewan tersebut terhadap hukum rimba serta kecerdikan pelaksanaannya.

Cerita-cerita lain pada pokoknya hampir serupa, yaitu kisah tentang keberanian, kecerdikan, serta kegigihan. Seperti anjing laut dalam kisah Anjing Laut Putih yang berani meninggalkan kebiasaan demi keamanan, Rikki-Tikki-Tavi si mongoose yang dengan penuh keberanian dan kecerdikan melindungi manusia penolongnya dari ular kobra, serta Toomai yang pada awalnya diremehkan tetapi ternyata sanggup melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Sebagaimana fabel pada umumnya, hewan-hewan yang diceritakan sedikit banyak memiliki sifat manusiawi, yang bisa jadi menyindir manusia, atau sekadar menunjukkan hakikat naluri manusia. Di luar itu, ada juga bagian saat penulis secara terang-terangan menyampaikan hal itu.

Darzee adalah sahabat kecil dengan otak yang sama ringannya yang tidak bisa mencerna lebih dari satu ide bersamaan di dalam kepalanya. Dan karena ia tahu anak-anak Nagaina akan segera menetas seperti anak-anaknya, awalnya ia berpikir tidak adil kalau anak-anak Nag harus dihabisi. Tapi, istrinya adalah burung yang cerdas dan ia tahu telur-telur kobra nantinya akan menjadi kobra-kobra muda. Jadi, ia terbang meninggalkan sarang dan membiarkan Darzee untuk menjaga agar anak-anaknya tetap hangat dan melanjutkan nyanyiannya tentang kematian Nag. Darzee mirip seperti manusia dalam beberapa hal. (p.188)

Sebagian besar kisah dalam terjemahan The First Jungle Book ini berlatar di India, dan kemungkinan besar memang penulis terinspirasi dari masa hidupnya di negeri tersebut. India yang sangat berbeda karakteristiknya dengan negara asal penulis memberikan ide-ide tersendiri mengenai hidup dan manusia.

Saya suka sekali terjemahan ini. Selain berhasil mempertahankan suasana dan aliran kisah, beberapa pilihan katanya juga indah, yang saya sadari sejak saya menemukan kata Ranah Bengkalai, termasuk bagaimana penerjemah dapat mempertahankan rima dalam sajak-sajak di dalam buku ini. 4/5 bintang untuk alam liar yang memukau.

Tenanglah sayang, malam sudah larut,
Dan gelapnya samudra berkilauan serupa biru.
Sang bulan menatap para penghuni batas laut
Di tengah ceruk riak ombak berderu.
Saat ombak berdebur, terbentuklah alasmu tidur,
Hai, si sirip kecil yang jemu, meringkuklah
dengan tenang!
Badai pun takkan buat kau tegang,
pun hiu tak akan menyerang,
Tidurlah di tengah tenangnya debur laut
bergelombang!
(p.128)

Review #33 of Classics Club Project

Review #40 of Children’s Literature Reading Project

The Two Towers – J. R. R. Tolkien

lotr2Title : The Two Towers (The Lord of the Rings #2)
Author : J. R. R. Tolkien (1954)
Translator : Gita Yuliani K.
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan ketujuh, Agustus 2013
Format : Paperback, 432 pages

(Review mengandung spoiler buku #1)

Para pengkhianat selalu penuh curiga. (Gandalf, p.223)

Bagian Kedua The Lord of the Rings ini terdiri atas Buku Tiga dan Buku Empat. Melanjutkan Buku Dua di Bagian Pertama (The Fellowship of the Ring), rombongan kini terpecah menjadi dua kelompok; Frodo dan Sam yang terpisah langsung menuju ke Mordor, dan sisanya; Boromir, Aragorn, Merry, Pippin, Gimli, dan Legolas, yang akan mengalami petualangan seru di Buku Tiga.

Boromir yang sempat berselisih dengan Frodo, yang membuat pengemban cincin tersebut memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan, menemui akhirnya di tangan Orc yang diperintahkan menangkap para Halfling, alias hobbit. Beruntung Frodo dan Sam sudah pergi, tapi malang bagi kedua hobbit yang tersisa, yang menjadi sasaran penangkapan para Orc. Aragorn, Gimli, dan Legolas pun memutuskan untuk mengikuti jejak para Orc untuk menyelamatkan kawan mereka terlebih dahulu. Pelacakan panjang dan rumit ini diceritakan melalui dua sudut pandang; pengejar dan terculik, sehingga alur seringkali mundur kembali saat terjadi perubahan sudut pandang.

Melalui tanda-tanda dan jejak yang ditinggalkan, diduga bahwa para Orc ini bukan hanya anak buah Mordor yang selama ini mereka ketahui, tapi sebagian adalah Orc yang berada di bawah Isengard, kaki tangan Saruman sang penyihir yang dibutakan oleh kekuasaan. Perjalanan mempertemukan mereka dengan banyak makhluk; kaum penunggang dari Rohan yang memiliki masalah dengan rajanya, kaum Ent yang marah karena kerusakan yang ditimbulkan para Orc, Penunggang Putih, dan kisah-kisah di balik mereka. Seperti sebelumnya, penulis menceritakan latar belakang dan karakteristik dari karakter-karakternya secara mendetail, sejarah, serta tujuan-tujuan mereka, dengan luwes dan tidak membosankan.

… namaku tumbuh sepanjang waktu, dan aku sudah hidup lama sekali; jadi, namaku seperti cerita panjang. Nama sebenarnya selalu menceritakan kisah dari benda-benda yang memiliki nama itu, dalam bahasaku, bahasa Ent kuno, bisa dikatakan begitu. Bahasa itu bagus, tapi makan waktu lama sekali untuk mengatakan sesuatu dalam bahasa itu, karena kami tak pernah mengatakan apa pun dalam bahasa itu, kecuali memang pantas menghabiskan waktu lama untuk mengatakannya, dan mendengarkannya. (Treebeard, p.79)

Kau mungkin tidak tahu betapa kuatnya kami. Mungkin kau pernah dengar tentang troll? Mereka luar biasa kuat. Tapi troll hanya tiruan, dibuat oleh Musuh di Zaman Kegelapan Besar, untuk mengejek para Ent, seperti Orc juga merupakan penghinaan terhadap para Peri. Kami lebih kuat daripada troll. (Treebeard, p.105)

Puncak Buku Tiga adalah penyerangan kepada Isengard oleh pihak-pihak ‘baik’ tersebut yang terjadi di Helm’s Deep. Peperangan yang polanya tertebak itu (perencanaan-penyerangan-tersudut-datang bantuan) digambarkan secara mendetail sekaligus tetap menarik. Apalagi saat akhirnya muncul gambaran sesuatu yang misterius, yang agak mengerikan, tetapi menuntut pembaca untuk menebak sendiri apa yang terjadi.

Memasuki Buku Empat, cerita terfokus seluruhnya pada perjalanan Frodo dan Sam. Seperti yang sudah bisa diduga, kekuatan cincin yang dibawa Frodo menarik sesosok pengikut yang tidak diharapkan, Gollum. Perjalanan yang tak mudah ini menjadi semakin sulit dengan adanya pengintai yang bermaksud jahat. Kedua hobbit harus mengatur strategi bagaimana agar mereka aman dalam perjalanan dan istirahat, bahkan bagaimana memanfaatkan penguntit tersebut agar berguna bagi perjalanan mereka ke negeri asing tersebut.

Di kedua sisi dan di depan, tanah basah dan lumpur luas membentang ke selatan dan timur, masuk ke cahaya yang kabur. Kabut mengeriting dan naik seperti asap, dari genangan gelap dan tak menyenangkan. (p.274)

Bagi saya, bagian perjalanan mereka agak terlalu monoton. Walaupun pembaca disuguhkan gambaran geografis rute perjalanan Frodo secara mendetail, hingga bahkan kita bisa menggambar peta dari deskripsi itu—pun dengan pilihan kata yang apik—tidak banyak konflik berarti yang menimbulkan rasa penasaran. Baru di beberapa bab akhir, ketika mereka mulai mendekati Mordor, cerita berkembang menjadi seru, dan emosi pembaca mulai dirangsang.

Saya suka dengan deskripsi yang kaya, indah, dan tidak biasa. Kata-kata yang biasa pun bisa dibuat menjadi kalimat yang luar biasa jika sang penulis piawai merangkainya. Hal inilah yang membuat pengalaman membaca serial ini menjadi menyejukkan.

“Seolah-olah ada sumur yang sangat dalam di balik matanya, terisi berabad-abad ingatan dan pikiran yang lambat, panjang, dan tenang; tapi permukaannya bersinar-sinar dengan masa kini: seperti matahari yang bercahaya di atas daun-daun paling luar sebuah pohon besar, atau di atas riak-riak telaga yang sangat dalam. ….” (Pippin, p.77)

Interaksi antar karakter di buku ini tentunya semakin berkembang. Dalam buku ini, kita diajak mengenal kedua hobbit ceria, Merry dan Pippin, lebih dalam ketimbang buku sebelumnya. Termasuk gejolak di Rohan yang melibatkan Raja Théoden, Éomer putranya, Eowyn kemenakannya, serta Gríma sang penasihat yang dijuluki Wormtongue karena kelicikannya. Juga, yang tak berubah, gambaran kesetiaan Sam kepada Frodo.

Mendadak ia teringat ketika Frodo berbaring tidur di rumah Elrond, setelah terluka parah. Saat itu, ketika menjaganya, Sam memperhatikan bahwa pada saat-saat tertentu ada cahaya yang bersinar redup dari dalam tubuh Frodo; tapi kini cahaya itu semakin terang dan kuat. Wajah Frodo damai, bekas-bekas ketakutan dan kesusahan sudah hilang; tapi ia tampak tua, tua dan elok, seolah-olah pahatan tahun-tahun yang membentuknya sekarang tersingkap dalam banyak garis halus yang sebelumnya tersembunyi, meski identitas wajahnya tidak berubah. (p.308)

4/5 bintang untuk penyelamatan Minas Tirith dan penyelundupan ke Minas Morgul.

Kaupikir balairung-balairung tempat rajamu tinggal di Mirkwood itu indah? Kaum Kurcaci membantu membangunnya di masa silam. Itu hanya gubuk kalau dibandingkan dengan gua-gua yang kulihat di sini: balairung luas tak terhingga, diisi musik abadi air yang berdenting ke dalam kolam-kolam, seindah Kheled-zâram di bawah sinar bintang. (Gimli, p.181)

Review #32 of Classics Club Project