Tag Archives: Children’s Lit

First Cycle of CLRP : Wrap Up

It’s been 3 years since I started my Children Literature Reading Project, and this is how it went. I was quite optimistic at the first year, for the second year I had a tough time (unrelated to this project), but everything was under control. Then, I had to slow down and lay back my blogging activities last year, so there wasn’t much progress for the third year. However, I don’t regret everything, since I had really great time reading children’s literature through the difficult times (though I didn’t review it all).

I’ve updated my 2014-2017 list so it contains books I’ve read and reviewed. I’ve added some books out of my original list and omitted some books I haven’t read/reviewed. Here are some books I’ve read that haven’t been reviewed, not including borrowed books and books I (seem like) won’t review:

  1. Ajdar – Marjane Satrapi
  2. B is for Beer – Tom Robbins
  3. Esio Trot – Roald Dahl
  4. The Little Prince – Antoine de Saint-Exupery (reread)
  5. The Magicians of Caprona – Diana Wynne Jones
  6. Sable – Karen Hesse
  7. Dear Mr. Henshaw – Beverly Clearly
  8. Indigo – Alice Hoffman
  9. Odd and the Frost Giants – Neil Gaiman
  10. Heartbeat – Sharon Creech
  11. Lulu Walks the Dogs – Judith Viorst
  12. The 13 Clocks – James Thurber
  13. Shiloh – Phyllis Reynolds Naylor

So there are 56+++ books I’ve read, and 43 books I’ve reviewed.

Just for the record, here are books I’ve omitted from the list. I may read these books for the next cycle.

The Lion, the Witch and the Wardrobe C. S. Lewis

1950

Prince Caspian C. S. Lewis

1951

The Voyage of the Dawn Treader C. S. Lewis

1952

The Silver Chair C. S. Lewis

1953

The Horse and His Boy C. S. Lewis

1954

The Last Battle C. S. Lewis

1956

Inkheart Cornelia Funke

2003

Inkspell Cornelia Funke

2006

Inkdeath Cornelia Funke

2008

Dragon Rider Cornelia Funke

2004

Ghost Knight Cornelia Funke

2012

Mixed Magics Diana Wynne Jones

2000

The Railway Children Edith Nesbit

1906

The Enchanted Castle Edith Nesbit

1907

Little Lord Fauntleroy Frances Hodgson Burnett

1885-6

A Little Princess Frances Hodgson Burnett

1905

Andersen’s Fairy Tales Hans Christian Andersen

1930-40s

The Story of Doctor Dolittle Hugh Lofting

1920

The Voyages of Doctor Dolittle Hugh Lofting

1922

Double Act Jacqueline Wilson

1995

The Worry Website Jacqueline Wilson

2002

The Swiss Family Robinson Johann Wyss

1812

Gulliver’s Travels Jonathan Swift

1726

The Tale of Despereaux Kate DiCamillo

2003

The Magician’s Elephant Kate DiCamillo

200

The Marvelous Land of Oz L. Frank Baum

1904

The Story Girl Lucy Maud Montgomery

1911

The Golden Road Lucy Maud Montgomery

1913

Anne of the Island Lucy Maud Montgomery

1915

The Prince and The Pauper Mark Twain

1881

The Adventure of Huckleberry Finn Mark Twain

188

James and the Giant Peach Roald Dahl

1961

Charlie and the Chocolate Factory Roald Dahl

1964

So, how is your progress?

The Wonderful Wizard of Oz – L. Frank Baum

oz1

Title : The Wonderful Wizard of Oz
Author : L. Frank Baum (1900)
Illustrator : W. W. Denslow
Publisher : Project Gutenberg
Edition : January 6, 2014 [EBook #43936]
Format : ebook

Dorothy tinggal di sebuah rumah kecil di tengah padang rumput kelabu yang kering di Kansas, bersama Uncle Henry dan Aunt Em, serta Toto, anjing kecilnya. Hari itu terlihat lebih kelabu, ada awan tebal menggantung, mengancam membawa badai topan bersamanya. Mereka sudah bersiap untuk berlindung di ruang bawah tanah. Namun, sebelum tiba di pintu, Dorothy yang memegang Toto sudah terbang bersama rumah yang terjebak topan.

A strange thing then happened.
The house whirled around two or three times and rose slowly through the air. Dorothy felt as if she were going up in a balloon.
The north and south winds met where the house stood, and made it the exact center of the cyclone. In the middle of a cyclone the air is generally still, but the great pressure of the wind on every side of the house raised it up higher and higher, until it was at the very top of the cyclone; and there it remained and was carried miles and miles away as easily as you could carry a feather.

Rumah kecil itu, bersama Dorothy dan Toto, mendarat dengan mulus di Negeri Oz. Negeri yang masih dikuasai oleh penyihir di empat penjuru negerinya, di mana terdapat penyihir jahat di Timur dan Barat, serta penyihir baik di Utara dan Selatan. Akan tetapi, tak ada penyihir yang bisa melampaui kekuatan sang Penyihir Hebat Oz yang tinggal di kota Emerald. Kota yang untuk menuju ke sana harus mengikuti jalan berbata kuning. Untuk bisa pulang ke Kansas, Dorothy harus menempuh jalur tersebut, dengan segala bahayanya, sendirian, dengan bekal hadiah dan perlindungan dari Penyihir Utara.

oz1-3Di perjalanannya, Dorothy bertemu dengan orang-orangan sawah yang sangat ingin memiliki otak, penebang kayu dari kaleng yang ingin memiliki hati, dan singa penakut yang ingin memiliki keberanian. Mereka menduga pastilah sang Penyihir Oz dapat memberi mereka semua itu. Berbagai rintangan, mulai dari menghadapi binatang buas, taman bunga yang mematikan, sampai bertemu dengan Oz ternyata juga membutuhkan pengorbanan tersendiri. Apakah mereka bisa meyakinkan Oz untuk membantu mereka? Apakah Oz yang menakjubkan bisa memberikan apa yang diinginkan keempatnya? Harga apa yang harus dibayarkan mereka demi memperolehnya?

“I cannot understand why you should wish to leave this beautiful country and go back to the dry, gray place you call Kansas.”

“That is because you have no brains,” answered the girl. “No matter how dreary and gray our homes are, we people of flesh and blood would rather live there than in any other country, be it ever so beautiful. There is no place like home.”
The Scarecrow sighed.
“Of course I cannot understand it,” he said. “If your heads were stuffed with straw, like mine, you would probably all live in the beautiful places, and then Kansas would have no people at all. It is fortunate for Kansas that you have brains.”

Pada pengantarnya, penulis mengatakan hendak mengubah kebiasaan dongeng anak klasik yang penuh dengan pesan moral dan kejadian-kejadian menakutkan. Penulis hendak menghadirkan keceriaan dan hiburan murni untuk anak-anak dengan kisahnya ini. Dan memang benar, buku ini adalah petualangan yang tidak mengajak anak untuk menjadi seperti ini atau seperti itu. Tantangan dapat terlalui dengan relatif mudah, dengan kecerdikan, keberanian, dan keberuntungan. Namun, di balik kesederhanaan plot ini, tersimpan pesan tersirat yang sangat dalam.

oz1-6

Bahwa apa yang kita cari hingga jauh, sebenarnya sudah ada dalam diri kita, sudah kita miliki, sudah diberikan kepada kita, bahkan mungkin sudah kita pergunakan selama ini. Hanya masalah waktu, kapan kita menyadarinya, kapan kita siap mempergunakannya, serta saat bagaimana kita bisa menghargainya. Dalam kisah singkat yang terkesan serba kebetulan ini, kita dapat melihat seberapa pentingnya proses terhadap kedewasaan dan kesiapan kita menerima sesuatu yang lebih besar.

oz1-5The Tin Woodman knew very well he had no heart, and therefore he took great care never to be cruel or unkind to anything.
“You people with hearts,” he said, “have something to guide you, and need never do wrong; but I have no heart, and so I must be very careful. When Oz gives me a heart of course I needn’t mind so much.”

Twist dalam kisah ini sebenarnya akan mengecewakan pembaca yang berharap banyak, tetapi justru di situlah kisah ini menjadi lebih bermakna. Peran utama bukan lagi dipegang Oz yang berada di judulnya, tetapi Dorothy beserta rombongan yang melalui petualangan yang menantang.

“…. Experience is the only thing that brings knowledge, and the longer you are on earth the more experience you are sure to get.”

4/5 bintang untuk dongeng klasik yang modern pada masanya.

“…. True courage is in facing danger when you are afraid, and that kind of courage you have in plenty.”

Review #34 of Classics Club Project

Review #41 of Children’s Literature Reading Project

oz1-1

The Jungle Book – Rudyard Kipling

jungle bookTitle : The Jungle Book
Author : Rudyard Kipling (1894)
Translator : Anggun Prameswari
Editor : Jia Effendi & Fenty Nadia
Publisher : Penerbit Atria
Edition : Cetakan I, September 2011
Format : Paperback, 240 pages

Salah satu indahnya Hukum Rimba adalah hukuman adil untuk semua pihak. Tidak ada yang menggerutu kesal setelahnya. (p.87)

The Jungle Book adalah kumpulan kisah tentang hewan, terutama hewan liar. Kebanyakan berupa fabel, tetapi ada juga yang bukan seperti kisah Toomai Sang Penakluk Gajah. Tak hanya cerita pendek, buku ini juga dihiasi puisi/syair bertema sama, dan seringkali berhubungan dengan kisah yang akan atau telah diceritakan.

Menyebutkan The Jungle Book mau tak mau mengingatkan kita pada Mowgli, karakter dan kisah yang sering diangkat dalam berbagai adaptasi buku ini. Kenyataannya memang kisah Mowgli cukup dominan dalam buku ini. Dalam terjemahan yang saya baca ini, ada tiga kisah Mowgli, mulai dari masa kecil saat dia mulai masuk dalam kawanan serigala, saat belajar bersama Baloo sang beruang dan Bagheera sang macan kumbang, kenakalan-kenakalannya, sampai pada menghadapi musuh bebuyutannya, Shere Khan sang harimau. Dalam kisah-kisah Mowgli, suasana hutan serta hukum rimba yang berlaku di dalamnya digambarkan dengan mendetail, terutama karena nasib bocah itu bergantung pada pemahaman hewan-hewan tersebut terhadap hukum rimba serta kecerdikan pelaksanaannya.

Cerita-cerita lain pada pokoknya hampir serupa, yaitu kisah tentang keberanian, kecerdikan, serta kegigihan. Seperti anjing laut dalam kisah Anjing Laut Putih yang berani meninggalkan kebiasaan demi keamanan, Rikki-Tikki-Tavi si mongoose yang dengan penuh keberanian dan kecerdikan melindungi manusia penolongnya dari ular kobra, serta Toomai yang pada awalnya diremehkan tetapi ternyata sanggup melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Sebagaimana fabel pada umumnya, hewan-hewan yang diceritakan sedikit banyak memiliki sifat manusiawi, yang bisa jadi menyindir manusia, atau sekadar menunjukkan hakikat naluri manusia. Di luar itu, ada juga bagian saat penulis secara terang-terangan menyampaikan hal itu.

Darzee adalah sahabat kecil dengan otak yang sama ringannya yang tidak bisa mencerna lebih dari satu ide bersamaan di dalam kepalanya. Dan karena ia tahu anak-anak Nagaina akan segera menetas seperti anak-anaknya, awalnya ia berpikir tidak adil kalau anak-anak Nag harus dihabisi. Tapi, istrinya adalah burung yang cerdas dan ia tahu telur-telur kobra nantinya akan menjadi kobra-kobra muda. Jadi, ia terbang meninggalkan sarang dan membiarkan Darzee untuk menjaga agar anak-anaknya tetap hangat dan melanjutkan nyanyiannya tentang kematian Nag. Darzee mirip seperti manusia dalam beberapa hal. (p.188)

Sebagian besar kisah dalam terjemahan The First Jungle Book ini berlatar di India, dan kemungkinan besar memang penulis terinspirasi dari masa hidupnya di negeri tersebut. India yang sangat berbeda karakteristiknya dengan negara asal penulis memberikan ide-ide tersendiri mengenai hidup dan manusia.

Saya suka sekali terjemahan ini. Selain berhasil mempertahankan suasana dan aliran kisah, beberapa pilihan katanya juga indah, yang saya sadari sejak saya menemukan kata Ranah Bengkalai, termasuk bagaimana penerjemah dapat mempertahankan rima dalam sajak-sajak di dalam buku ini. 4/5 bintang untuk alam liar yang memukau.

Tenanglah sayang, malam sudah larut,
Dan gelapnya samudra berkilauan serupa biru.
Sang bulan menatap para penghuni batas laut
Di tengah ceruk riak ombak berderu.
Saat ombak berdebur, terbentuklah alasmu tidur,
Hai, si sirip kecil yang jemu, meringkuklah
dengan tenang!
Badai pun takkan buat kau tegang,
pun hiu tak akan menyerang,
Tidurlah di tengah tenangnya debur laut
bergelombang!
(p.128)

Review #33 of Classics Club Project

Review #40 of Children’s Literature Reading Project

The BFG – Roald Dahl

bfgTitle : The BFG (Raksasa Besar yang Baik)
Author : Roald Dahl (1982)
Translator : Poppy Damayanti Chusfani
Editor : Dini Pandia
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan kedua, Agustus 2010
Format : Paperback, 200 pages

“Jika ada yang MELIHAT raksasa, dia harus dibawa bratbret segera.” (p.30)

Sophie tidak bisa tidur malam itu. Bulan bersinar cerah, dan dia tergoda untuk turun dari tempat tidur dan melihat melalui jendela. Apa yang dilihatnya sungguh tidak masuk akal. Raksasa?! Raksasa itu melihat Sophie melihatnya. Dia harus dibawa ke Negeri Raksasa.

Raksasa adalah pemakan manusia. Jumlah mereka tidak banyak karena mereka tidak berkembang biak, tetapi umur mereka panjang, dan setiap malam mereka akan berpencar ke penjuru negeri untuk berburu ras manusia favorit mereka masing-masing. Menurut mereka, setiap manusia dari setiap negara memiliki rasa khasnya masing-masing. Para raksasa itu, The Fleshlumpeater (Si Pemakan Bongkahan Daging), The Bonecruncher (Si Peremuk Tulang), The Childchewer (Si Pengunyah Anak Kecil), The Bloodbottler (Si Peminum Darah), dan kelima kawan mereka yang lain tidak akan membiarkan Sophie hidup, tetapi beruntung dia bertemu The BFG—Big Friendly Giant—yang melindunginya karena dia satu-satunya raksasa yang tidak makan manusia.

Petualangan Sophie dan BFG dimulai saat keduanya sepakat melakukan sesuatu untuk menghentikan kawan-kawan raksasa yang tidak hanya membuat kekacauan bagi umat manusia, tetapi juga suka mengganggu BFG karena tubuhnya yang kecil. Rencana mereka melibatkan kecerdikan Sophie, serta keahlian BFG dalam sesuatu yang dilakukannya setiap siang dan malam hari, juga keberanian keduanya untuk mengambil risiko.

Hal menarik yang tersebar dalam buku ini adalah dialog antara Sophie dan BFG. Selain lucu dan dipenuhi oleh kata-kata ‘ajaib’, karena BFG sering salah mengeja kata dan susunan kalimatnya aneh, terdapat banyak sindiran terhadap umat manusia secara umum. Sebagai raksasa dengan norma kehidupan yang berbeda dari manusia, tentunya raksasa melihat ada banyak hal yang aneh dari manusia, yang ironisnya memang benar.

“Tomat manusia satu-satunya binatang yang membunuh sesama.” (p.78)

Saya rasa, dalam bahasa aslinya, buku ini pasti sudah cukup ajaib dengan permainan katanya. Untungnya, versi terjemahan ini merepresentasikannya dengan sangat apik. Penerjemah favorit saya berhasil menyusun kalimat-kalimat ajaib tersebut menjadi cukup ajaib dalam bahasa Indonesia dan ungkapan-ungkapan umum bahasa Indonesia, sehingga terasa sebagai sebuah karya yang ‘utuh’. Seperti ‘human bean’ yang diterjemahkan menjadi ‘tomat manusia’ karena lebih cocok untuk terjemahan yang benar dari ‘human being’, yaitu ‘umat manusia’.

Banyak yang berpendapat buku ini memuat tema-tema sensitif seperti ras dan suku bangsa, yang mungkin masih relevan di masa terbitnya buku itu pertama kali, tetapi tidak hari ini. Saya sendiri setuju dan tidak setuju. Saya setuju bahwa ada hal yang mungkin bisa menyinggung, di sisi lain saya melihat itu dapat menjadi media untuk anak mengenal berbagai macam suku bangsa. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu terpengaruh karena penulis tidak menyinggung bangsa Indonesia, hehe.

Buku ini cukup menyenangkan untuk dinikmati, seperti buku anak-anak yang baik pada umumnya, dia memberi hiburan sekaligus hal-hal tersembunyi untuk digali. Dia memberi petualangan yang menegangkan, dan detail yang menakjubkan; baik tempat, karakter, maupun ‘keajaiban’ dan ‘bakat’ yang ada pada karakter-karakter tersebut. 4/5 bintang untuk imajinasi yang menggelitik kemanusiaan manusia.

Sophie terdiam. Raksasa luar biasa ini mengacaukan keyakinannya. Ia seperti menyeret Sophie ke dalam misteri yang berada di luar jangkauan pikirannya. (p.101)

Review #39 of Children’s Literature Reading Project

Crazy Hair – Neil Gaiman & Dave McKean

crazy hairTitle : Crazy Hair
Author : Neil Gaiman (2005)
Illustrator : Dave McKean (2009)
Publisher : Harper
Edition : First edition, 5th printing
Format : Paperback, 40 pages

This is Bonnie.
This is me.
We were standing
Silently.
She said,
“I don’t mean to stare.
Mister, you’ve got crazy hair.”

img_20160116_220958.jpgCrazy hair
Oh me, oh my.
Crazy hair?
I thought I’d die.

I said, “Miss, how do you dare
Talk about my crazy hair?
…”

(p.6-9)

Saya telah menceritakan tentang cerita ini di sini, sebelum saya memiliki bukunya. Meski telah beberapa kali mendengar cerita ini dibacakan, tidak mengurangi kenikmatan dan kelucuan saat membacanya sendiri. Ilustrasi dan tipografi dari Dave McKean benar-benar memanjakan mata dan menyegarkan otak. Ilustrasi khas yang juga terdapat di The Wolves in the Walls.

img_20160116_221719.jpg

Saya tidak membayangkan bahwa ‘crazy hair’ digambarkan dengan…indah. Ya, bukannya rambut awut-awutan dan keriting tak berbentuk, tetapi justru rambut licin, bergelombang dengan seni, atau mungkin keriting, tapi tetap cantik. Ada pula gambaran mikroskopis dari rambut yang detailnya tak kalah mengagumkan.

img_20160116_221952.jpg

Cerita yang disuguhkan melalui sajak berima ini, meski ganjil, tidak bisa saya katakan gelap sebagaimana karya penulis biasanya. Memang ada saat adegan berubah menjadi agak menyeramkan, tetapi kemudian ada twist yang menjadikannya kembali menyenangkan untuk diikuti.

5/5 bintang untuk Bonnie dan sisirnya.

Happy as a millionaire,
Safe inside my crazy hair.
(p.38)

Review #38 of Children’s Literature Reading Project

img_20160116_221047.jpg