Tag Archives: Read Big Challenge 2015

The Old Curiosity Shop – Charles Dickens

The Old Curiosity ShopTitle : The Old Curiosity Shop
Author : Charles Dickens (1841)
Illustrator : George Cattermole and Hablot K. Browne
Publisher : Penguin Books
Edition : Penguin English Library, 2012
Format : Paperback, 748 pages

Nell Trent tinggal bersama kakeknya di Old Curiosity Shop, toko yang menjual berbagai macam benda koleksi. Meski hidup dalam kesederhanaan (bahkan kekurangan), Nell merasa cukup bahagia karena dia dan kakeknya saling memiliki dan menyayangi. Sayangnya, kakeknya tidak berpikiran sama. Dia berambisi untuk membahagiakan dan meningkatkan taraf hidup cucunya itu, dengan cara berjudi. Jalan pintas yang dilaluinya itu bukannya membantu, tetapi justru menjebaknya dalam lilitan utang dan angan-angan kosong yang terus menghantuinya.

shopDi tengah kesulitan yang dibuat oleh kakeknya, muncul pihak-pihak yang ingin memanfaatkan hal itu demi ambisinya sendiri. Sebut saja Quilp yang kejam, yang mengambil alih Old Curiosity Shop sebagai pengganti utang yang tidak mempu dibayar kakek Nell. Ada juga Frederick, kakak Nell yang berhati busuk, yang mengatur jebakan untuk adiknya sendiri. Namun, Nell tidak sendirian, ada Kit Nubbles, pelayan sekaligus sahabat yang selalu ada untuk Nell, saat tidak ada siapa pun yang bisa melindunginya.

Bagaimanapun, tekanan yang mereka terima ternyata sangat mengguncang kakek Nell. Demi kebaikan keduanya, mereka harus meninggalkan rumah, meninggalkan London secara diam-diam, termasuk meninggalkan Kit yang sempat disalahpahami. Jadilah Nell dan kakeknya mengalami sebuah perjalanan yang mempertemukan mereka dengan banyak orang, berbagai pengalaman yang menguji dan mendewasakan keduanya. Terutama Nell, yang meski baru berusia empat belas tahun, seringkali harus bertindak lebih dewasa karena sang keterbatasan sang kakek.

nell

While he, subdued and abashed, seemed to crouch before her, and to shrink and cower down as if in the presence of some superior creature, the child herself was sensible of a new feeling within her, which elevated her nature, and inspired her with an energy and confidence she had never known. There was no divided responsibility now; the whole burden of their two lives had fallen upon her, and henceforth she must think and act for both. ‘I have saved him,’ she thought. ‘In all dangers and distresses, I will remember that.’ (p.424)

Kita dibawa dalam ketegangan dan ketakutan saat Nell dan kakeknya terpaksa harus berjalan bersama orang yang kelihatan hanya ingin mengeruk manfaat dari mereka, bahkan mengancam akan membawa keduanya kembali ke Quilp. Kita juga diajak dalam hari-hari yang hangat, saat Nell dan kakeknya bertemu dengan orang-orang baik yang membantu mereka setulus hati, meski tak mengetahui latar belakang keduanya. Pun saat perpisahan harus terjadi, keputusan besar harus diambil, dan kerinduan akan rumah membuncah dalam diri orang-orang itu, penulis menceritakan kejadian dan emosi dengan detail yang membuat pembaca ikut merasakan dan masuk ke dalam perjalanan Little Nell.

‘… Forgotten! oh, if the good deeds of human creatures could be traced to their source, how beautifully would even death appear; for how much charity, mercy, and purified affection, would be seen to have their growth in dusty graves!’ (p.537)

Membaca buku ini bukanlah perjalanan yang mudah. Kita dihadapkan pada konflik yang bervariasi, tidak hanya perjalanan Nell dan kakeknya, tetapi juga perjuangan Kit di London, juga Quilp dengan tingkah laku busuk yang tak ada habisnya. Banyak karakter pendukung lain yang berperan dan konflik-konflik ini, seperti kakak beradik Brass, pengacara yang berhubungan dengan Quilp, istri dan mertua Quilp yang menegaskan bagaimana sikap kasar dan buruk pria itu, ibu dan adik-adik Kit, Barbara dan ibunya yang banyak membantu Kit, pelayan Brass yang nantinya akan berperan penting, penyewa di tempat Brass yang juga mencari Nell, dan masih banyak lagi, salah satu yang tak boleh dilupakan adalah Dick Swiveller, salah satu karakter dengan transformasi yang menarik. Segala kerumitan ini masih ditambah lagi suasana kisah yang murung dan hari-hari gelap yang seolah tiada akhir, juga aroma kematian yang kental di sepanjang buku. Akan tetapi, masa-masa mendung yang berkepanjangan itu membuat apa yang akan muncul kemudian terasa jauh lebih hangat dan lebih indah—meski tak bisa dikatakan bahwa buku ini sepenuhnya berakhir bahagia.

But night-time in this dreadful spot!—night, when the smoke was changed to fire; when every chimney spirted up its flame; and places, that had been dark vaults all day, now shone red-hot, with figures moving to and fro within their blazing jaws, and calling to one another with hoarse cries—night, when the noise of every strange machine was aggravated by the darkness; when the people near them looked wilder and more savage; when bands of unemployed labourers paraded the roads, or clustered by torchlight round their leaders, who told them in stern language of their wrongs, and urged them on to frightful cries and threats; when maddened men, armed with sword and firebrand, spurning the tears and prayers of women who would restrain them, rushed forth on errands of terror and destruction, to work no ruin half so surely as their own—night, when carts came rumbling by, filled with rude coffins (for contagious disease and death had been busy with the living crops); when orphans cried, and distracted women shrieked and followed in their wake—night, when some called for bread, and some for drink to drown their cares; and some with tears, and some with staggering feet, and some with bloodshot eyes, went brooding home—night, which, unlike the night that Heaven sends on earth, brought with it no peace, nor quiet, nor signs of blessed sleep—who shall tell the terrors of the night to the young wandering child! (p.445-446)

Sidekick characters

Juli : Sidekick Characters

Juli : Sidekick Characters

A sidekick is a close companion who is generally regarded as subordinate to the one he accompanies. (source)

Walaupun bukan ‘companion’ dalam arti yang literal, Kit Nubbles adalah sidekick character favorit saya dalam buku ini. Kit menyayangi Nell dengan sepenuh hatinya, rasa sayang yang mewujud dalam kesetiaan, pengabdian dan pelayanan. Kit yang pada mulanya selalu menjaga Nell dari depan Old Curiosity Shop saat kakek Nell keluar rumah sepanjang malam untuk berjudi. Kit juga memiliki kualifikasi karakter yang luar biasa, dari kejujurannya, dia berhasil mendapatkan pekerjaan yang bagus dari orang-orang yang nantinya akan berguna untuk Nell. Meski secara fisik Kit terpisah dari Nell, segala yang dilakukannya tak pernah lepas dari pengabdian penuh akan kepentingan bekas majikannya itu. Tak jarang bocah itu menjadi sasaran orang-orang yang hendak memanfaatkan Nell, sehingga Kit harus terjatuh dalam jebakan yang membuat dia dan keluarganya menderita. Namun, hingga akhir, Kit masih setia.

kit

Satu lagi karakter yang sebenarnya bukan sidekick dari karakter utama, tetapi punya peran cukup penting dalam cerita, yaitu Dick Swiveller. Pada mulanya, Dick adalah kawan Frederick Trent, yang nantinya akan bekerja untuk kepentingan Quilp. Dalam perjalanan kisah, banyak hal menimpa Dick yang membuatnya memandang segala sesuatu dengan berbeda. Jika Nell dan Kit digambarkan sebagai karakter yang tanpa cacat, sedangkan karakter-karakter lain digambarkan dalam wilayah hitam, Dick adalah satu dari sedikit yang masuk dalam area abu-abu. Karakter Dick adalah karakter yang paling manusiawi dalam buku ini, tidak sepenuhnya cacat, dan tidak sepenuhnya sempurna. Hingga pada akhirnya, dia mengambil peranan penting yang menjadikannya sebagai pahlawan.

There are chords in the human heart—strange, varying strings—which are only struck by accident; which will remain mute and senseless to appeals the most passionate and earnest, and respond at last to the slightest casual touch. (p.541)

Karya ini dikatakan merupakan salah satu karya Dickens yang paling sentimental, karena buku ini ditulis untuk mengenang adik iparnya yang meninggal dalam usia muda. 4/5 bintang untuk perjalanan yang penuh makna.

Review #27 of Classics Club Project

Review #27 for Lucky No.15 Reading Challenge category Randomly Picked

Advertisements

Little Women – Louisa May Alcott

Review in Indonesian and English.Little Women

Title : Little Women
Author : Louisa May Alcott (1868-1869)
Publisher : Penguin Classics
Edition : 42nd printing, © 1989
Format : Paperback, xxxvi + 508 pages

Little Women merupakan salah satu bildungsroman alias coming-of-age story yang populer pada masanya, bahkan hingga saat ini. Karya ini merupakan semi-autobiografi penulis, sehingga pada beberapa bagian, kita dapat menemukan persamaan dengan kehidupan pribadi penulis, meski sebagian lainnya tetap merupakan fiksi. Pada awalnya, buku ini terbit menjadi dua bagian; di mana bagian kedua diberi judul Good Wives oleh penerbit di Inggris. Edisi yang saya baca ini merupakan penyatuan dari dua bagian buku itu, dengan bagian kedua dimulai di halaman 236. Edisi ini juga diperkaya dengan pengantar dan catatan kaki yang menjelaskan kata-kata dan referensi yang mungkin kurang umum pada masa sekarang. Menilik catatan itu, saya melihat bahwa Alcott relatif banyak menggunakan referensi karya-karya Charles Dickens dalam bukunya.

Buku ini berkisah tentang tahun-tahun anak-anak March menjadi dewasa. Pasangan March memiliki empat orang anak gadis dengan karakteristik yang berbeda-beda; Meg yang paling dewasa dan paling kehilangan masa-masa kejayaan Mr. March yang sekarang telah bangkrut, Jo yang tomboy dan bebas, Beth yang kalem dan pemalu, serta Amy si bungsu yang manja. Mr. March termasuk sebagai salah seorang yang bertugas pada Perang Sipil di Amerika saat itu, sehingga keempat anak tersebut—yang saat itu berusia 12-16 tahun—tinggal bersama Mrs. March (Marmee) dan Hannah, pembantu mereka sejak kecil.

Mrs. March tak hanya membesarkan mereka, tetapi juga mendidik keempat putrinya dengan caranya sendiri. Dalam kondisi keluarga yang sedang prihatin, mereka dididik untuk tetap bersemangat menjalankan tugas-tugas mereka dengan penuh tanggung jawab. Meski Meg sebagai guru privat mendapatkan anak didik yang nakal, Jo harus berkutat di rumah Aunt March yang membosankan, keduanya mendapatkan teladan dari ibu mereka yang tak habis membuat keduanya kagum. Beth yang sangat minder hingga tak bisa bergaul di sekolah tetap mendapatkan pendidikan di rumah, sambil membantu pekerjaan rumah. Hanya Amy yang masih bersekolah.

Mrs. March knew that experience was an excellent teacher, and, when it was possible, she left her children to learn alone the lessons which she would gladly have made easier, if they had not objected to taking advice as much as they did salts and senna. (p.259)

Perubahan terjadi saat Jo berkenalan dengan tetangga mereka, Laurie, yang tinggal bersama kakeknya yang kaya raya, Mr. Laurence. Kesamaan sifat membuat Jo cepat akrab dengan Laurie, dan otomatis membuat Laurie dekat dengan keluarga March, bahkan termasuk Beth. Akan tetapi, kisah mereka tidak melulu dihiasi kebahagiaan. Setiap anggota keluarga mendapatkan ujiannya masing-masing, yang menguji kedewasaan dan membuat mereka lebih baik. Seperti Meg yang diuji dengan kemewahan yang sangat diidam-idamkannya, Jo dengan kesabarannya yang pendek, atau Amy dengan kebanggaannya.

“That is perfectly natural, and quite harmless, if the liking does not become a passion, and lead one to do foolish or unmaidenly things. Learn to know and value the praise which is worth having, and to excite the admiration of excellent people, by being modest as well as pretty, Meg.” (p.97)

Cobaan terbesar, yang juga merupakan klimaks dari kisah bagian pertama adalah saat Mr. March terluka hingga membutuhkan perawatan khusus, sedangkan Beth terkena scarlet fever saat Marmee sedang ke luar kota merawat ayahnya. Penyakit yang pada saat itu—sebelum era antibiotik—termasuk salah satu penyakit mematikan, merupakan ujian berat bagi keluarga March yang saling terikat secara emosional satu sama lain.

Title page: Little Women (1868), by Louisa May Alcott (1832-1888). Boston: Roberts Brothers, 1868. *AC85.Aℓ194L.1869, Houghton Library, Harvard University

Pada bagian kedua (yang sebenarnya sudah ditandai pada akhir bagian pertama), satu per satu putri-putri March bertambah dewasa, yang ditandai dengan pernikahan Meg. Bagi Jo yang berjiwa bebas, kehilangan kakak satu-satunya adalah hal yang berat. Pun bagi Meg yang mengalami berbagai masalah rumah tangga sebagaimana layaknya pasangan yang baru menikah. Pada bagian ini, pengejaran mimpi dan cita-cita mereka juga disorot dengan lebih dalam, terutama Jo dengan semangatnya di bidang menulis, dan Amy dengan bakat seninya.

“Never till I’m stiff and old, and have to use a crutch. Don’t try to make me grow up before my time, Meg; it’s hard enough to have you change all of a sudden; let me be a little girl as long as I can.” (p.153)

Hal yang menarik dari buku ini adalah ikatan antar anggota keluarga yang sangat kuat, persahabatan dengan keluarga Laurence yang sangat tulus, serta bumbu-bumbu kehidupan yang beraneka rasa. Penulis memotret bagian-bagian menarik dari kehidupan keluarga March ke dalam bab-bab yang relatif pendek. Mungkin ada beberapa bagian yang terasa membosankan, tetapi lebih banyak bagian yang seru, bagian yang menyenangkan (terutama kreativitas permainan masa kecil mereka), bagian yang kocak, sedih, hingga mengaduk-aduk emosi. Bagian paling mengharukan bagi saya adalah yang melibatkan Beth dan Mr. Laurence, sedang yang paling kocak adalah yang melibatkan Jo dan cinta. Dan bagian favorit saya, sekaligus paling berkesan dan selalu saya ingat ada di sebelum bab terakhir bagian kedua, Under the Umbrella.

And here let me premise, that if any of the elders think there is too much “lovering” in the story, as I fear they may (I’m not afraid the young folks will make that objection), I can only say with Mrs. March, “What can you expect when I have four gay girls in the house, and a dashing young neighbor over the way?” (p.236)

Di antara bab-bab dalam buku ini kadang disertai bab yang berisi korespondensi, terutama bagian yang terlalu panjang jika diceritakan dengan narasi, dan terasa lebih baik jika dipadatkan dalam bentuk surat-menyurat. Selain lebih ringkas, format penulisan surat secara tidak langsung menunjukkan kepribadian penulisnya dengan lebih kuat, serta suasana hati dengan lebih gamblang. 4/5 bintang untuk perjalanan panjang gadis-gadis March.

This is *only* my second read of Little Women, after I read the abridged version years ago. I read this along with Hamlette since March 2015, and my first experience of discussing chapter per chapter. From this reading, I got so many details that I may lose if I read it by myself, despite the introduction and notes included on my edition.

This book portrays the life of the Marches in its own way. It’s everyday life, with obvious morals here and there, it may seem a little bit preachy for some people, but not for me. Since, the author told the morals through Mrs. March, and it is natural for a mother to preach her children. I love the characterizations of the March girls. Each girl has her part in the story, together they make a heart-warming story of family, friendship, and love.

Frontispiece illustration from part 1 of Little Women by Louisa May Alcott (1832-1888), illustrated by her sister May Alcott. Boston: Roberts Brothers, 1868 *AC85.Aℓ194L.1869, Houghton Library, Harvard University

“… You are the gull, Jo, strong and wild, fond of the storm and the wind, flying far out to sea, and happy all alone. Meg is the turtle-dove, and Amy is like the lark she writes about, trying to get up among the clouds, but always dropping down into its nest again. Dear little girl! she’s so ambitious, but her heart is good and tender, and no matter how high she flies, she never will forget home. …” (p.375)

I think I ended up liking all the characters in this book. They improved quite much as the years went by, especially Amy, the little one. However, nothing could compare with the improvement of shy Beth when she and Mr. Laurence became friends on the earlier chapters. The scene, as most scene with Beth, drew my tears out. The progress of Jo’s love was smooth and lovely, and of course Meg with her happy little family was a precious journey.

This book is one of the great choice to revisit. Either chapter we decide to read could make a different effect in different situation, also a better understanding of the characters. Reading this book is a kind of reminder of how simplicity may change many things. It is the simple thing that often touches the heart. It is also the simple thing that shows sincere love.

Review #26 of Classics Club Project

Review #24 of Children’s Literature Reading Project

Review #25 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

Good Omens – Neil Gaiman & Terry Pratchett

7999784Title : Good Omens : The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch
Author : Neil Gaiman & Terry Pratchett (1990)
Translator : Lulu Wijaya
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : April 2010
Format : Paperback, 520 pages

“Kuberitahukan ini kepada engkau, dan kuperintahkan engkau dengan kata-kataku. Akan ada Empat pengendara kuda, dan Empat juga akan berkuda, dan Tiga akan berkuda dengan langit di antara mereka, dan Satu akan berkuda dalam kobaran api; dan takkan ada yang bisa menghentikan mereka: baik ikan, hujan, tombak, Iblis, maupun Malaikat. Dan engkau pun akan berada di sana, Anathema.” (p.51)

Buku ‘The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch” adalah buku ramalan paling tepat dan akurat, tetapi sayangnya tidak laku dijual pada masanya. Kini, buku tersebut hanya tersisa satu eksempar di tangan Anathema Device, cucu buyut Agnes. Semua yang diramalkan Agnes pasti terjadi, hingga Anathema menjadikannya sebagai buku panduan hidupnya. Catatan dalam buku itu berakhir Sabtu depan, saat terjadinya Kiamat.

Sebelas tahun yang lalu, Aziraphale dan Crowley, dua malaikat yang diturunkan ke bumi, yang masing-masing mewakili Surga dan Neraka, ditugaskan untuk mengawasi bayi Antikristus yang akan menjadi kunci terjadinya Armageddon. Setelah berabad-abad tinggal di bumi, keduanya menjadi sangat betah dan nyaman dengan keadaan dunia ini, di dalam hati, mereka tak menginginkan terjadinya Armageddon. Untuk apa? Pikir mereka, jika sudah dipastikan bahwa Kebaikan yang akan menang, mengapa harus mengorbankan manusia yang tak tahu apa-apa? Aziraphale dan Crowley pun memiliki rencana yang mereka simpan sendiri untuk mengupayakan masa dunia yang lebih panjang. Namun, di luar dugaan, kekacauan terjadi sehingga mereka kehilangan jejak bayi Antikristus yang asli.

Satu-satunya harapan Aziraphale adalah buku ramalan Agnes Nutter, jika dia menemukannya, dia akan tahu prediksi hari Kiamat secara tepat untuk menghentikannya tepat pada waktunya. Sementara itu, Shadwell, seorang Pemburu Penyihir dilibatkan untuk mencari cucu buyut Agnes—yang diduga menyimpan satu-satunya buku yang tersisa. Shadwell sendiri sebelumnya sudah menugaskan muridnya, Newton Pulsifer, ke Tadfield karena fenomena aneh yang terjadi di daerah tersebut. Tak heran, karena di Tadfield ada Anathema, dan Antikristus yang dididik seperti manusia biasa.

Apakah yang akan terjadi jika Antikristus tak dipersiapkan sejak awal untuk hari besar ini? Apakah Aziraphale dan Crowley dapat mengubah sesuatu sebelum waktu yang diramalkan? Apakah mereka bisa lolos dari masalah dengan atasan mereka setelah semuanya berakhir?

Konflik utama dalam buku ini, tentang hari Kiamat, memang sebaiknya tidak dipikirkan secara serius. Karena jika dipikirkan secara serius, pasti banyak terdapat kontradiksi di sana-sini. Yang saya tangkap dari tema yang diangkat Gaiman dan Pratchett ini lebih kepada kritik terhadap umat manusia. Kedua penulis ini tidak mengkritik Tuhan, Malaikat, Iblis, atau makhluk supranatural apa pun, tetapi manusia.

Oh, dia berusaha keras untuk membuat hidup mereka sengsara, karena memang itu tugasnya, tapi kejahatan apa pun yang bisa direncanakannya selalu kalah dengan kejahatan yang bisa direncanakan manusia sendiri. Sepertinya manusia punya bakat khusus untuk menyengsarakan hidup mereka sendiri. (p.54)

Dengan menyoroti dua karakter yang menjadi perwujudan ‘kebaikan’ dan ‘keburukan’ dalam wujud manusia, Aziraphale dan Crowley tampaknya sudah banyak ‘menyerap’ sifat manusia dalam berbagai variasinya. Jika Aziraphale dan Crowley sudah ‘tercetak’ untuk menjadi baik dan buruk, lain halnya dengan manusia yang bisa memilih untuk menjadi baik atau buruk, pun meski keduanya tak memiliki batas yang tegas.

Manusia tidak bisa benar-benar baik, begitu katanya, kalau mereka juga tidak memiliki peluang untuk menjadi benar-benar jahat. (p.55)

Buku ini, menurut saya, memiliki makna filosofi yang agak berat. Dalam kesimpulan akhir pun, kita masih dibuat berpikir tentang sebab-akibat, tentang pilihan, tentang apa yang kita pandang benar dan salah. Seringkali, ego dari dua kelompok untuk menunjukkan keunggulan masing-masing melibatkan orang-orang lain yang tidak bersalah, pun tidak secara langsung peduli terhadap urusan tersebut. Tentang waktu yang relatif, tentang segala sesuatu yang begitu panjang sekaligus begitu singkat. Tentang hidup dan segala misterinya.

Antikristus yang asli, Adam Young, beserta tiga kawannya yang menamakan diri sebagai Mereka, secara tidak langsung juga membawa pesan filosofis yang khas anak-anak. Imajinasi dan ekspektasi anak-anak yang polos adalah kritik terbaik untuk orang dewasa. Orang-orang dewasa yang seringkali melupakan hal-hal sederhana yang bermakna, mungkin tak menyangka bahwa anak-anak yang sering bermasalah seperti Mereka, akan membawa misi yang tak terbayangkan pada hari Sabtu depan.

“Tidak. Kurasa aku mulai mengerti sekarang. Menurutku, hal yang paling bijaksana adalah orang-orang harus tahu bahwa kalau mereka membunuh ikan paus, yang mereka dapat adalah ikan paus mati.” (p.478)

Di luar itu semua, imajinasi para penulis ini patut diacungi jempol. Dengan mengadaptasi karakter-karakter dan kejadian-kejadian dalam kitab suci, mereka menciptakan karakter dan konflik dalam sentuhan manusiawi. Beberapa detail unik seperti iblis yang mengumpat dengan kata-kata pujian, humor dan sarkasme yang khas, serta ketepatan dalam membuat analogi, membuat buku ini sangat bisa dinikmati.

4/5 bintang untuk ramalan Agnes Nutter Sabtu besok.

 

Akhir tahun 2014 lalu, sandiwara radio Good Omens yang diadaptasikan oleh Dirk Maggs disiarkan di BBC4. Terdiri atas 6 episode, masing-masing sekitar 30 menit, kecuali episode 6 yang diperpanjang menjadi 1 jam, sandiwara ini secara mengejutkan merepresentasikan bukunya dengan sangat baik. Adaptasi ini memuat konflik utama, humor dan sarkasme yang penting, serta detail-detail terbaik dalam buku, tanpa terkesan dipanjang-panjangkan ataupun terburu-buru. Bahkan pada salah satu bagian, saya mendapatkan pemahaman yang lebih baik setelah mendengarkan adaptasinya, oleh karena alurnya yang relatif lebih lurus ketimbang di buku. Salah satu bagian yang berkesan adalah pada episode 1 saat Gaiman dan Pratchett menjadi cameo. Selain itu, semua karakter menurut saya berhasil diinterpretasikan dengan baik oleh para pemerannya, termasuk peran anak-anaknya. Suara latarnya juga pas, membangun suasana dengan baik, tanpa mengganggu dialog-dialognya, bahkan saya yang bukan native English speaker.

Review #2 for Lucky No.15 Reading Challenge category Chunky Brick

The Silkworm – Robert Galbraith

silkwormTitle : The Silkworm (Ulat Sutra)
Author : Robert Galbraith (2014)
Translator : Siska Yuanita, M. Aan Mansyur (quotes)
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 536 pages

Ha-ha-ha, kau terjerat jaring-jaringmu sendiri
seperti ulat sutra.
John Webster, The White Devil
(p.502)

Di tengah kejenuhannya dengan kasus-kasus ‘mahal’ tetapi membosankan, Cormoran Strike memutuskan untuk mengambil kasus Leonora Quine yang kemungkinan besar tak bisa membayarnya. Leonora memintanya menemukan suaminya, Owen Quine. Owen terbiasa menghilang untuk mencari sensasi—yang tampaknya tak pernah didapatkannya—tetapi belum pernah sampai selama ini. Bukan kasihan atau semangat yang membuat Cormoran menerima kasusnya, ada suatu alasan yang dia sendiri tak yakin, pada mulanya.

Kasus Quine berkembang ke arah yang tak disangka-sangka. Penulis yang tak terlalu terkenal ini baru saja melahirkan sebuah karya yang menyinggung banyak pihak. Bombyx Mori, yang berarti ulat sutra, menampilkan kisah orang-orang di sekitar Quine, dengan nama-nama samaran yang vulgar serta karakterisasi yang sangat mirip. Hampir semua orang yang dikenalnya menjadi sasaran pengungkapan aib mengerikan melalui simbol-simbol dan peristiwa yang menjijikkan. Kemudian, mayat Quine ditemukan. Cara kematiannya yang spesifik menyempitkan daftar tersangka, sekaligus menyulitkan pihak berwenang menemukan bukti. Siapakah yang sebegitu tersinggungnya dengan Quine, atau merasa posisinya dalam bahaya, jika karya Quine diterbitkan? Siapa yang tega melakukan sesuatu yang keji dan menjijikkan hanya karena goresan pena seorang penulis tak ternama? Siapakah di antara pembaca draft awal yang mungkin menjadi pembunuhnya?

Sama seperti buku pertamanya, kali ini Cormoran Strike masih bekerja dengan cara-caranya yang unik. Perpaduan antara gaya militer yang merupakan latar belakangnya, dan intuisi yang dimilikinya sebagai detektif investigasi selama bertahun-tahun. Intuisi inilah yang seringkali menjadi latar belakang segala tindakannya, yang berakar dari pengalaman dan imajinasi. Mulai dari alasannya menerima kasus Quine yang tidak menjanjikan—baik uang maupun popularitas, hingga kenyataan bahwa semakin jauh dia masuk ke dalam kasus ini, semakin menarik dan jelas fakta-fakta yang didapatkannya.

Dengan masuk ke dalam kasus Quine, secara otomatis Strike masuk ke dunia Quine. Pembaca pun dibawa untuk menelusuri hiruk-pikuk dunia penulisan dan penerbitan. Pertimbangan apa yang menjadikan sebuah buku diterbitkan, meskipun isinya ‘sampah’—menurut istilah karakter dalam buku ini—semacam karya Quine. Bagaimana orang-orang di masa sekarang memanfaatkan blog, menerbitkan ebook, dan sarana lain sebagai caranya untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai penulis. Pun bagaimana banyak orang merasa bahwa perwujudan tertinggi dari eksistensinya adalah melalui sebuah buku.

Strike merasakan kelelahan yang tiba-tiba menguasainya. Demam macam apakah ini, kenapa orang ingin sekali unjuk diri dalam bentuk tertulis? (p.388)

Dengan memahami ini, Strike mulai membentuk hipotesis, satu demi satu, mencari motif, metode, dan kesempatan, termasuk bukti yang dalam kasus ini sangat sulit dicari. Strike mendengarkan semua orang, mengingat perkataan mereka—penting atau tidak penting, menganalisis manusia, sehingga seluruh tersangka maupun pihak yang terkait dengan buku ini dapat kita kenal dengan baik. Mulai dari penulis pemula kekasih gelap Owen, editornya yang baik hati tetapi menyimpan sesuatu, manajer penerbitan, agennya, sampai penulis ternama yang bermusuhan dengan Owen. Penulis mengajak pembaca mencari pembunuhnya bersama dengan Strike, meski tak sepenuhnya berhasil.

Jadi, apa yang harus dia lakukan berikutnya? Bila tidak ada jejak yang menjauh dari kejahatan, pikir Strike, dia harus memburu jejak yang menuju kejahatan itu. Bila buntut kematian Quine dengan gaib tidak menyajikan petunjuk apa pun, sudah tiba waktunya meneliti hari-hari terakhir hidup Quine. (p.330)

Selain kasus pembunuhannya sendiri, salah satu aspek yang tergambarkan secara kuat di sini adalah hubungan Strike dengan asistennya, Robin Ellacott. Robin yang selalu bermimpi untuk bekerja sebagai detektif sungguhan, harus berhadapan dengan tunangannya, Matthew, yang tak suka dengan pekerjaan maupun bos Robin. Strike memahami ketidaksukaan Matthew, tetapi harus dihadapkan pada Robin yang sangat berharap untuk dilibatkan lebih jauh, untuk diberi pelatihan, untuk memainkan peran lebih besar dalam pekerjaan Strike. Interaksi ini menurut saya bukan hanya sebagai bumbu terhadap kasus pembunuhan, tetapi merupakan sarana untuk masuk dan mengenal detektif kita lebih dalam.

Hal menarik lain dalam buku ini adalah kutipan dari berbagai buku pada tiap awal bab. Kutipan-kutipan ini bukan sekadar penghias atau asal tempel saja, tetapi seringkali menjadi kunci dari bab yang bersangkutan. Penulis juga bermain-main dengan bahasa Latin yang semakin menunjukkan kepiawaiannya berbahasa dan bermetafora. Dan tak lupa selipan humor ringan di sana-sini yang mengendurkan saraf kita yang tegang oleh misteri dan kejahatan yang sadis.

Buku kedua ini mungkin dimaksudkan agar bisa dibaca terpisah oleh yang belum membaca buku pertamanya. Banyak hal-hal penting di buku pertama yang diulang penjelasannya, terutama tentang Charlotte–mantan tunangan Strike, serta latar belakang keluarga sang detektif. Beberapa hal terasa tidak penting dan membosankan bagi yang sudah membaca buku pertama, tetapi menjadi pengantar yang mulus bagi yang belum membacanya.

Strike selalu heran bagaimana publik selalu menganggap kaum selebritas suci, bahkan bila surat kabar mencaci, memburu, dan merubung mereka. Tak peduli berapa banyak orang terkenal yang dihukum karena pemerkosaan atau pembunuhan, keyakinan itu tak berubah, bahkan cenderung fanatik: bukan dia. Tidak mungkin dia. Dia kan terkenal. (p.194)

5/5 bintang untuk perkembangan seru sang detektif dan asistennya.