Catatan dari Bawah Tanah – Fyodor Dostoevsky

Judul buku : Catatan dari Bawah Tanah (Notes from Underground)
Penulis : Fyodor Dostoyevski
Penerjemah : Asrul Sani
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya, Desember 2008 (cetakan ketiga)
Tebal buku : 182 halaman

Apakah pokok pembicaraan yang paling disenangi seorang lelaki yang baik? Jawabnya, dirinya sendiri. (p.11)

Saya sebenarnya tidak tahu siapa sebenarnya tokoh ‘aku’ atau ‘manusia bawah tanah’ dalam buku ini. Yang jelas, ‘aku’ adalah sebuah potret seorang manusia. Dan manusia itu ada. Entah dalam tubuh pengarangnya, atau tubuh seseorang yang lain, atau bahkan terpecah dalam tubuh beberapa orang. Termasuk saya.

Catatan dari Bawah Tanah (atau disebutkan juga sebagai Notes From The Underground atau Letters From The Underworld) adalah novel pendek karya Dostoevsky yang diterbitkan pada tahun 1864. Di sini, Dostoevsky menceritakan bagaimana ‘aku’ berpikir. ‘Aku’ yang menuliskan sebuah catatan tentang pemikirannya, tentang kejadian-kejadian yang berkesan dalam hidupnya. Untuk siapa? Bukan untuk siapa-siapa, itu kata ‘aku’, tapi saya tidak percaya. Kalau Anda membaca buku ini, Anda juga sedikit banyak meragukan beberapa kata-kata ‘aku’.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menceritakan bagaimana ‘aku’ memandang hidup. Di usianya yang ke-40 tahun di ‘bawah tanah’. ‘Aku’, sang Manusia Bawah Tanah, memiliki pemikiran yang berbeda dengan kebanyakan orang. Kecerdasan yang diklaim dimilikinya membuatnya selalu berpikir dalam setiap tindakannya. Dia sangat menginginkan bisa menjadi orang ‘spontan’, yang langsung bereaksi terhadap kejadian di sekitarnya. Tetapi nyatanya dia tidak bisa bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu, yang seringkali hal ini juga menyiksanya.

Tentu saja aku tidak bisa menembus dinding itu dengan jalan membenturkan kepalaku padanya sekiranya aku betul-betul tidak punya kekuatan untuk meruntuhkannya, tapi aku tidak akan menyerah padanya hanya karena ia dinding batu dan aku tidak punya kekuatan. (p.21)

Aku mengatakan bahwa seseorang melakukan pembalasan karena ia menganggap perbuatan itu adil. Ia menemui suatu sebab utama, yaitu keadilan. Dengan demikian, ia merasa lega dan tenang dan dapat melakukan pembalasannya dengan tenang dan berhasil karena ia sudah yakin apa yang ia lakukan itu adalah adil dan jujur. Aku tidak melihat keadilan di dalamnya dan aku juga tidak bisa melihat kebajikan di dalamnya. Oleh karena itu kalau aku mencoba melakukan pembalasan, maka hal itu kulakukan hanya karena rasa kesal. (p.27)

Saat kita seringkali terkungkung, atau mengungkung diri, dalam suatu aturan yang menurut kita baik, kita tidak menyadari bahwa pada suatu titik, kita akan mendambakan terbebas dari peraturan itu. Tak peduli sebaik apa pun menurut pemikiran kebanyakan orang, tetapi menurut ‘aku’, naluri manusia adalah untuk selalu memberontak.

Yang diinginkan manusia hanya sekedar pilihan bebas, biar berapa pun harus ia bayar untuk kebebasan itu dan biar apa pun akibatnya. (p.38)

Siapa tahu (kita tidak tahu dengan pasti), barangkali satu-satunya tujuan yang dikejar oleh manusia di bumi ini terkandung dalam proses usaha yang tak henti-hentinya, artinya, dalam hidup itu sendiri, dan bukan dalam hal yang hendak dicapai, yang selalu harus diutarakan sebagai sebuah rumus, positif seperti dua kali dua ada empat, sedangkan positivitas seperti itu, bukanlah hidup, Tuan-tuan, tapi awal kematian. (p.48-49)

Pada bagian kedua dalam buku ini, ‘aku’ menceritakan hidupnya saat berusia dua puluh empat tahun. Saat itu dia bekerja pada sebuah kantor milik pemerintah. Dia merasa terasing di mana pun dia berada. Bahkan sejak masa sekolah. Mungkin karena fisiknya, atau karena dirinya sendiri yang menganggap diri tidak layak untuk bergaul.

Dia menceritakan kepuasan diri kala berhasil ‘membalas dendam’ pada seorang perwira dengan cara yang, bahkan menurutnya sendiri, konyol. Kemenangan yang bahkan tidak sempurna, tetapi dilakukannya untuk kepuasan dan pembuktian diri. Kemudian saat dia mengunjungi seorang teman sekolah, salah satu dari sedikit yang pernah dekat dengannya, dan melakukan hal konyol lain dengan melibatkan diri dalam makan malam perpisahan dengan seorang teman yang dibencinya. Masalah dihadapinya, yang berkaitan dengan harga dirinya, sekali lagi, memancing tindakan-tindakan konyol lainnya.

Sekali saat dia berusaha mengembalikan harga dirinya, dia mencari teman-temannya untuk berdalih, tetapi justru dia bertemu dengan seorang pelacur bernama Liza. Dia mengeluarkan seluruh kalimat bijaknya kepada Liza, berusaha menyadarkan wanita itu akan cara hidupnya yang salah.

Banyak paradoks yang terdapat dalam sifat dan sikap Manusia Bawah Tanah ini. Di suatu bagian, saya memandangnya sebagai seorang yang bijaksana, tetapi di bagian lain, saya tidak habis pikir dengan tindakannya yang konyol. Dalam sekali baca, saya hanya bisa meraba-raba karakter ‘aku’ dari penggalan-penggalan kejadian dan kalimat, tetapi sulit untuk menemukan pribadi ‘aku’ secara utuh. Mungkin seperti yang dituliskannya sebagai kalimat pertama: “Aku orang sakit…”

Bukan sakit secara fisik, tetapi sakit secara psikis. Latar belakang keluarganya, dari yang tersirat dalam kisahnya, tidak terlalu baik. Sehingga meskipun dia tumbuh sebagai seorang yang ‘cerdas’, tapi tetap saja dia ‘sedikit sakit’, terutama secara sosial.

Dostoevsky meramu novella ini dengan kalimat-kalimat panjang yang mengharuskan kita berfokus pada apa yang hendak disampaikan ‘aku’. Penerjemah juga berhasil menyampaikan dengan cukup dimengerti, sehingga tidak terlalu sulit untuk memahami kalimat-kalimat panjang tersebut. Meski begitu, tetap saja ada bagian yang harus dibaca berkali-kali, karena paradoks pikiran itu juga pada akhirnya mempengaruhi pembaca juga.

Buku ini termasuk ‘berat’ menurut saya. Karena titik beratnya bukan pada kisah itu sendiri, tetapi pada sebuah pemikiran. Akan tetapi, ternyata bacaan yang berat tak harus selalu serius. Ada satu bagian yang meledakkan tawa ketika sang Manusia Bawah Tanah telah berbicara serius kepada Liza, dia merasa telah berbicara dengan begitu menyentuh, Liza justru menanggapinya di luar dugaan (meskipun sesungguhnya dia benar-benar tersentuh juga).

“Kenapa kau…” demikian ia mulai, tapi segera berhenti. Aku mengerti, dalam suaranya ada suatu getaran yang lain sama sekali, tidak singkat, kasar, dan keras, seperti sebelumnya, tapi agak lunak dan malu-malu, begitu malu-malu sehingga aku tiba-tiba merasa malu dan berdosa.
“Apa?” tanyaku dengan rasa ingin tahu yang ramah.
“Kenapa kau…”
“Apa?”
“Kenapa kau…bicara seperti buku,” katanya lalu dalam suaranya terasa kembali nada mengejek.
(p.138)

4/5 untuk paradoks Manusia Bawah Tanah yang ditulis secara apik.

6 responses to “Catatan dari Bawah Tanah – Fyodor Dostoevsky

  1. Waah…jadi pengen baca. Daridulu pengen baca Dostoievsky, tapi selalu gak berani karena takut terlalu berat dan akhirnya gak tamat. Gak tahunya Notes from Underground ini novella ya, mmm…coba aah..

  2. Bolehkah kupasan ini dimuat di Demi Pustaka Jaya? http://demipustakajaya.wordpress.com

  3. Pingback: Character Thursday (3) « Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s