Character Thursday (10)

Character Thursday
Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.
Syarat Mengikuti :
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah post. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Minggu ini saya masih ingin mengambil karakter dari buku yang sama dengan minggu lalu.

Kalau kemarin Ethel Williams menarik saya, sekarang setelah lebih dari seperlima buku, adiknya yang membuat saya kagum.

Billy Williams

Di usianya yang ketiga belas, seperti penduduk Aberowen yang lain, setiap laki-laki mulai bekerja di tambang. Billy saat itu bertubuh lebih kecil daripada teman sebayanya, yang sering membuatnya merasa minder. Tapi di hari pertamanya di tambang, dia berhasil mengagumkan banyak orang dengan keberaniannya.

Saat sudah lebih dewasa, dia menjadi lebih menonjol. Apalagi saat dia menjadi pahlawan saat terjadi kecelakaan di tambang. Di samping itu, dia mulai berpikir kritis dan terbuka. Dia tidak puas pada sesuatu yang diturunkan dari nenek moyang, sebelum dia tahu maksud dan tujuannya, serta menganggapnya masuk akal. Sifat yang sering membuatnya berdebat dengan ayahnya sendiri.

Kemudian rasa cintanya pada kakaknya, Ethel, yang begitu besar. Ketika Ethel diusir oleh ayah mereka karena melakukan ‘dosa’, dengan berani Billy menyuarakan pengampunan yang seharusnya dilakukan ayahnya. Dan yang lebih mengagumkan adalah caranya menunjukkan pada seluruh masyarakat Aberowen, saat dia membacakan Alkitab di depan seluruh jemaat gereja, menyindir mereka semua tentang penghakiman mereka terhadap Ethel. Pada bagian itulah terasa sekali pergulatan emosinya, akan sesuatu yang dianggapnya benar dan salah, melawan apa yang dianggap masyarakat benar dan salah.

Adakah masukan, siapa yang kira-kira cocok memerankan Billy Williams?

Kamu juga bisa ikut Character Thursday dengan singgah ke sini.

Wishful Wednesday (7)

Wuih, lama ya ga ikut Wishful Wednesday. Tak apa lah, itung-itung memang sudah sering ‘kalap’ beli buku, malu lah kalo masih ‘ngarep’ terus tiap minggu, hehe.

Ceritanya, ada seorang pengarang yang sudah kukenal sejak sekitar tahun 2006 atau 2007. Pertama kali membaca bukunya, aku langsung jatuh cinta pada tulisannya. Pasalnya, tema dan ide yang disampaikan di buku itu ‘aku banget’ dan saat itu memang ‘ngena’ di aku (dengan pengabaian pesan religiusnya karena berbeda dengan keyakinanku). Walaupun belakangan kulihat dari beberapa review di Goodreads banyak yang ‘kapok’ membaca buku si pengarang itu gara-gara membaca buku yang bikin aku jatuh cinta itu.

Buku yang kumaksud adalah The Alchemist karya Paulo Coelho.  Setelah membaca itu, aku berlanjut dengan The Zahir, By The River Piedra I Sat Down and Wept (fiuh, judul buku terpanjang yang pernah kubaca), The Devil and Miss Prym, dan kemudian sepertinya berhenti di situ, karena waktu. Sejak itulah, aku percaya bahwa buku apa pun karya penulis asal Brazil itu, pasti aku suka. Seperti Veronika Decides to Die yang kubaca sekitar tahun 2010, bahkan The Pilgrimage yang tidak terlalu greget yang berhasil kuselesaikan tahun 2011, tetap saja aku suka. Buku-bukunya berhasil menyentuh sisi kehidupan yang jarang diperhatikan orang. Kadang kala sesuatu yang aku yakini pada suatu saat, yang berbeda dengan pemikiran orang lain, tiba-tiba kutemukan di bukunya. Atau sesuatu yang mengambang dalam pikiranku, tiba-tiba kutemukan definisinya dalam kalimat-kalimatnya.

Buku-bukunya yang lain tentu saja ada di rak to-read ku selama bertahun-tahun ini (milik kakakku sebenarnya, yang pertama kali mengenalkanku). Kemudian saat aku melihat Gramedia menerjemahkan karya om Coelho yang ini, langsung deh masuk di wishlist.

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek, untuk sinopsisnya bisa dilihat di sini. Aku bahkan tidak repot-repot melihat sinopsis dan review sama sekali, karena nama penulisnya sudah menjadi jaminan tersendiri untukku.

Buku ini tidak mahal dan tidak sulit dicari karena masih baru. Tapi justru karena itu aku menunda-nunda membeli buku ini. Di antara beberapa buku yang ingin dan wajib aku beli, tampaknya buku ini dengan malangnya harus disisihkan untuk dibeli di bulan yang tidak terlalu boros banyak pembeliannya. Salah satu faktornya ya rak to-read yang masih penuh itu, termasuk buku-buku om Coelho yang lain.

Ini Wishful Wednesday-ku. Mari bagi buku inceranmu, caranya gampang:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post Books to Share). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

The Sign of Four – Sir Arthur Conan Doyle

Judul buku : The Sign of The Four
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle (1890)
Penerbit : Project Gutenberg (Ebook), Maret 2000 (Etext #2097)

The Sign of The Four merupakan novel kedua Sherlock Holmes. Di sini, masih dalam sudut penceritaan oleh Watson, diawali dengan pendalaman mengenai metode deduksi Holmes, maupun kepribadian detektif itu sendiri.

Sebut saja bagaimana sebuah kasus begitu penting untuk Sherlock Holmes, yang tampak dari kata-katanya.

“My mind rebels at stagnation.”

“I cannot live without brain-work. What else is there to live for? Stand at the window here. Was ever such a dreary, dismal, unprofitable world? See how the yellow fog swirls down the street and drifts across the duncolored houses. What could be more hopelessly prosaic and material? What is the use of having powers, doctor, when one has no field upon which to exert them? Crime is commonplace, existence is commonplace, and no qualities save those which are commonplace have any function upon earth.”

“I never remember feeling tired by work, though idleness exhausts me completely.”

Di saat seperti itulah, Watson melihat bahwa Holmes menggunakan kokain untuk menenangkan diri. Meskipun pada masa itu penggunaan kokain masih legal, tapi sebagai dokter, Watson tahu bahwa ketergantungannya kurang baik. Sebagai pengalih perhatian, Watson pun menguji kawannya itu dengan pertanyaan mengenai arloji yang dipakainya. Secara mengejutkan, Holmes berhasil mengetahui asal arloji tersebut beserta kepribadian pemilik sebelumnya.

Kemudian datanglah yang ditunggu-tunggu, kasus baru. Seorang wanita, Miss Morstan datang untuk meminta bantuan. Sepuluh tahun lalu, ayahnya kembali dari tugas di India, akan tetapi di hari yang dijanjikannya untuk bertemu puterinya itu, dia tiba-tiba menghilang. Empat tahun berselang, Miss Morstan mendapatkan iklan di koran yang meminta alamatnya, diikuti dengan pengiriman paket berisi perhiasan yang diterimanya setiap tahun. Dan kini, dia mendapatkan surat yang memintanya untuk datang ke suatu tempat sendirian, atau membawa dua orang teman yang bukan polisi. Karena mendengar reputasi Holmes, maka Miss Morstan pun mempercayakan kasusnya pada detektif ini dan juga kawannya.

Pada waktu yang dijanjikan, mereka bertiga; Miss Morstan, Holmes dan Watson dibawa ke rumah Thaddeus Sholto, mendapatkan kisah aneh tentang harta karun. Ayah Thaddeus, Major Sholto adalah kawan dari ayah Miss Morstan, Captain Morstan. Untuk mendapatkan kejelasan mengenai harta itu, mereka pun menuju ke rumah saudara Sholto yang lain, Bartholomew, yang juga menyimpan harta tersebut. Hal mengejutkan hadir ketika di rumah, mereka menemukan Bartholomew sudah terbunuh.

Yang menarik dari Sherlock Holmes adalah kecerdasannya. Dia mengobservasi sesuatu, menyingkirkan yang tidak mungkin, dan menarik kesimpulan yang paling masuk akal, dan nyaris tanpa kesalahan.

“when you have eliminated the impossible whatever remains, HOWEVER IMPROBABLE, must be the truth”

Di samping itu, seperti yang diakuinya, meski memiliki banyak cara untuk mengikuti petunjuk, dia memilih cara yang termudah, yang telah tersedia, untuk lebih menyederhanakan kasus itu sendiri.

“Do not imagine, that I depend for my success in this case upon the mere chance of one of these fellows having put his foot in the chemical. I have knowledge now which would enable me to trace them in many different ways. This, however, is the readiest and, since fortune has put it into our hands, I should be culpable if I neglected it. It has, however, prevented the case from becoming the pretty little intellectual problem which it at one time promised to be. There might have been some credit to be gained out of it, but for this too palpable clue.”

Yang saya suka di sini, penulis menggambarkan ‘sisi manusia’ Holmes yang belum diceritakannya di buku pertamanya, A Study in Scarlet. Bagaimana saat dia dengan kepercayaan dirinya menemukan jalur yang benar dalam penyelidikan, kemudian tiba-tiba mengalami jalan buntu, hal yang sangat menyinggung bagi seorang Sherlock Holmes. Dalam berbagai usaha yang terus dijalankannya, dengan cara unik menggunakan pasukannya sendiri yang terdiri atas orang jalanan, yang disebutnya sebagai Baker Street irregulars. Di samping itu, saat tampaknya dia tak mengalami kemajuan, dia mengalihkan pikirannya kepada eksperimen di laboratorium, atau sekedar bermain biola. Akan tetapi, tetap saja, dia tidak bisa berhenti ‘bertindak’, seperti yang dikatakan sendiri oleh Watson.

“He has some small matter upon his mind which makes him restless.”

Tidak hanya Holmes, dalam novel ini Doyle juga memberi bagian pada sisi pribadi Watson. Dia jatuh cinta pada Miss Morstan, hal yang sulit baginya, apalagi dia tidak bisa mendapatkan simpati Holmes yang sangat tidak tertarik pada hubungan emosional antar manusia, lebih-lebih orang itu adalah kliennya.

“..not to allow your judgment to be biased by personal qualities. A client is to me a mere unit,–a factor in a problem. The emotional qualities are antagonistic to clear reasoning.”

“But love is an emotional thing, and whatever is emotional is opposed to that true cold reason which I place above all things. I should never marry myself, lest I bias my judgment.”

In this book, we can see the ‘human side’ of Sherlock Holmes. His cocaine-use habit, his restless brain, and how he acted when he met deadlock at his investigations. He has methods, and I love to see how he led us to his deduction, just to amaze us. But not only Holmes, here, Watson was falling in love with Miss Morstan, Holmes’ client. This was an emotional matter that didn’t touch Holmes. Holmes is, however, a cold and unemotional person as far as we saw here. He’s not good in his social life, but he’s brilliant for whatever he do.

There is a small matter that seems contradictive with Doyle’s previous book. From A Study in Scarlet, we know that Watson was struck by a Jezail bullet on the shoulder, but on The Sign of The Four, he said that he had it through his leg. I don’t know whether he had injured twice or whatever happened, but it makes me questioning.

Secara keseluruhan, novel Sherlock Holmes memang tidak memanjakan imajinasi dan deduksi para pembaca. Kita disuguhkan betapa brilliannya pemikiran Holmes dan mengikuti pola pikir dan alur kerja yang dilakukannya. Kita hanya menebak-nebak apa yang terjadi tanpa tahu petunjuk apa yang telah dimiliki oleh detektif itu. 3/5 untuk kisah perburuan harta karun.

Review #2 of Classics Club Project

A Study In Scarlet – Sir Arthur Conan Doyle

Judul buku : A Study in Scarlet
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle (1887)
Penerbit : Project Gutenberg (Ebook), April 1995 (Etext #244)

Ini adalah buku pertama dari seri Sherlock Holmes. Dimana pertama kalinya Sir Arthur Conan Doyle memperkenalkan Sherlock Holmes dan Dr. John Watson. Novel ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama dan akhir bagian kedua ditulis dalam bentuk jurnal Dr. John Watson, dokter veteran perang Afghanistan yang menjadi teman satu flat Sherlock Holmes. Sedangkan sebagian besar bagian kedua merupakan kisah tersendiri yang berhubungan dengan bagian pertama.

John Watson adalah dokter veteran Afghanistan, dia dipulangkan ke Inggris lebih awal karena tak bisa melanjutkan tugasnya. Dia hidup tanpa arah sampai bertemu teman lamanya, kemudian diperkenalkan dengan Sherlock Holmes. Dari situlah mereka mulai menyewa flat bersama-sama di 221B Baker Street yang termasyhur itu.

Meski telah tinggal bersama dalam satu flat, Watson nyaris tidak mengetahui apa pun tentang Holmes. Dia hanya melihat bahwa Holmes memiliki rutinitas setiap pagi, mengerjakan entah apa di laboratorium rumah sakit, menerima kunjungan-kunjungan tertentu, termasuk dari pihak kepolisian. Lambat laun, barulah Holmes menceritakan pekerjaannya, yaitu sebagai detektif konsultan. Dengan metode deduksi dan analisisnya, Holmes dapat mengetahui karakter dan kebiasaan seseorang hanya dari kukunya, lengan mantelnya, sepatu, jari-jari, dan lain sebagainya.

“From long habit the train of thoughts ran so swiftly through my mind, that I arrived at the conclusion without being conscious of intermediate steps.”

Itulah mengapa seringkali tampak bahwa Holmes langsung mendapatkan kesimpulan, tanpa kita tahu awal dan proses pikirnya. Akan tetapi, bukan berarti dia tidak memiliki dasar pemikiran yang jelas, karena biasanya akan dijelaskannya kemudian.

“It is a capital mistake to theorize before you have all the evidence. It biases the judgment.”

“Read it up — you really should. There is nothing new under the sun. It has all been done before.”

Pertama kali Watson melihat Holmes menangani kasus adalah saat Gregson dari kepolisian meminta bantuannya pada sebuah pembunuhan di Lauriston Gardens. Polisi tidak bisa menemukan apa pun, tidak ada senjata, dan tidak ada luka mematikan pada korbannya. Secara mengejutkan, Holmes dapat dengan tiba-tiba ‘membaca’ tempat kejadian, seolah-olah dia menyaksikan saat kematian korban itu.

Dengan berbekal petunjuk yang didapatkannya, dia mulai melakukan penyelidikan dengan caranya, sampai-sampai pembunuh itu sendiri yang datang ke Baker Street.

Pada bagian kedua, setting beralih ke padang pasir, dimana seorang laki-laki dan anak perempuan hampir mati kehausan. Mereka ditemukan oleh suku Mormons, ditolong, dan kemudian hidup bersama mereka. Kisah ini merupakan kisah tersendiri yang pada akhirnya akan berhubungan dengan asal-muasal serta alasan pembunuhan yang terjadi pada bagian pertama, yang telah dipecahkan oleh Sherlock Holmes.

Pengenalan karakter Sherlock Holmes dalam novel yang pertama ini begitu memukau. Kecerdasan Holmes begitu menonjol, dan kekaguman Watson juga tidak ditutup-tutupi. Sayangnya, dengan hilangnya kisah Holmes di bagian kedua menjadi semacam antiklimaks yang membosankan. Akan tetapi, setelah itu, semuanya berhasil dihubungkan dengan sangat cantik dan masuk akal. 4/5 untuk detektif dari Baker Street dan kawannya.

Mengenai karakter Sherlock Holmes secara umum dapat dilihat di sini.

Catching Fire – Suzanne Collins

Judul buku : Catching Fire (Tersulut)
Penulis : Suzanne Collins (2009)
Penerjemah : Hetih Rusli
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Juli 2010
Tebal buku : 424 halaman

Buku ini merupakan sekuel dari The Hunger Games, masih kisah seputar Katniss. Di sini, konflik yang muncul pertama kali adalah bagaimana kehidupan Katniss setelah dia memenangkan Hunger Games. Meski lolos dari kematian di arena, tetapi kehidupannya tak menjadi lebih mudah. Walaupun dielu-elukan di seluruh penjuru Panem–terutama Capitol, mendapatkan kekayaan yang menjaminnya dan keluarganya tak akan pernah kelaparan lagi, tapi kehidupan lamanya yang tenang tidak bisa kembali. Dia menanggung beban atas penghinaan dan pemberontakan terhadap Capitol, yang ditunjukkannya dalam Hunger Games yang diikutinya, meski tidak secara terang-terangan.

Dia pun harus melanjutkan permainan yang dirancang Capitol, atau keluarga serta sahabatnya berada dalam bahaya. Akan tetapi pemberontakan tetap tidak bisa dibendung, beberapa distrik sudah memulai, dan beberapa distrik lain sudah mengancam. Capitol mulai geram. Hunger Games kali ini, yang ke-75 atau disebut sebagai Quarter Quell yang ketiga, menjebaknya dan Peeta kembali ke arena Hunger Games. Dengan lawan para pemenang Hunger Games sebelumnya, di arena yang belum pernah ada, yang lebih mengancam, semakin banyak ketegangan, semakin banyak strategi, dan semakin banyak darah.

Konflik yang muncul kini semakin kompleks dan lebih serius. Di sini semakin terlihat juga karakter Katniss yang sangat ‘remaja’ sekali; impulsif dan kurang matang. Akan tetapi keberanian dan tekadnya layak mendapatkan penghormatan yang tertinggi.

Kesan yang kudapatkan tak jauh berbeda dengan buku pertamanya, dengan perkecualian bahwa aku sudah mengenal karakteristik dunia yang dibangun Suzanne Collins ini. Di samping itu, unsur politis dalam buku ini juga sukses membuatku muak, seakan-akan aku bisa ikut merasakan memiliki pemerintahan yang semacam itu. Masih ada ketegangan, masih membuat penasaran, masih tidak bisa ditebak. Akan tetapi emosi yang timbul tidak sevariatif buku pertama, kemungkinan karena keadaan yang diceritakan cukup mencekam, atau karena aku sudah terbiasa dengan ‘situasi’ di negeri Panem.

Di buku kedua ini, penulis tak membiarkan pembacanya bernapas sebelum dia memegang buku ketiganya. 3/5 untuk ketegangan Hunger Games.

The Hunger Games – Suzanne Collins

Judul buku : The Hunger Games
Penulis : Suzanne Collins (2008)
Penerjemah : Hetih Rusli
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Oktober 2009
Tebal buku : 408 halaman

Di suatu sudut Distrik 12, hidup seorang gadis yang mati-matian mengusahakan kehidupan keluarganya, namanya Katniss Everdeen. Setelah kematian ayahnya dalam kecelakaan di tambang, ibunya depresi, dia dan adiknya, Prim, terancam mati kelaparan. Tapi Katniss sebelas tahun tidak seperti anak perempuan kebanyakan, dia berhasil menjadi kepala rumah tangga, menyelamatkan perut-perut kosong di keluarganya.

Distrik 12 hanyalah satu dari wilayah kekuasaan Capitol di negeri Panem. Masih ada 11 distrik yang menjadi bagian dari negeri itu. Sejarahnya, dulu ada 13 distrik di Panem, akan tetapi setelah terjadi pemberontakan, Capitol menghancurkan Distrik 13, dan menciptakan sebuah ‘permainan’ untuk memperingatinya. ‘Permainan’ itu semacam reality show yang disaksikan di seantero negeri, Hunger Games. Setiap distrik diwajibkan mengirim seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, dengan demikian ada 24 anak berusia 12-18 tahun yang dikirimkan ke arena Hunger Games di Capitol. Bagi Capitol ini hanya sebuah permainan, tetapi bagi distrik-distrik pesertanya, Hunger Games adalah ajang pembantaian paling meriah dan dielu-elukan. Hanya ada satu orang yang menang, pemenangnya adalah yang bisa bertahan hidup.

Tidak ada yang ingin terpilih dalam Hunger Games, dan tak ada keluarga yang ingin salah satu anggotanya ikut ke dalam Hunger Games. Terpilihnya Prim menjadi peserta tahun ini adalah pukulan telak bagi Katniss. Katniss sudah ‘menghidupkan’ keluarganya, dan apa pun yang terjadi, dia tak akan membiarkan adik satu-satunya mati karena sebuah ‘permainan’. Dia maju menggantikan Prim. Awalnya dengan niat menggantikan nyawa adiknya, tetapi sebelum berangkat dia mengubah tekadnya, dia harus menang, karena hidup keluarganya masih bergantung padanya.

Sejak awal, aku tidak pernah menyentuh buku ini waktu melihatnya di toko buku. Mungkin karena cover yang gelap, atau judulnya yang kurang ‘nancep’ di aku. Baru menyadari buku ini tentang apa waktu acara dengan teman-teman BBI pertama kali (sebelum aku resmi masuk BBI). Saat itulah aku mulai ‘ngeh’, meski belum sempat membacanya, tapi berniat suatu saat akan membacanya. Dan sekarang aku baru tahu mengapa buku ini begitu disukai, suspense yang ringan dan sangat remaja sekali, sehingga lebih mudah masuk untuk semua kalangan usia.

Sejujurnya, aku pribadi tidak merasa terlalu emosional pada buku ini secara keseluruhan. Akan tetapi, aku harus mengakui bahwa penulisnya sangat luar biasa mengagumkan. Buku ini bisa mengajakku untuk ikut tegang, tertawa, lega, trenyuh, sedih, dan menangis bersama dengan bagian tertentu dalam hidup Katniss. Bisa dikatakan, buku ini mengaduk-aduk emosiku. Penulisnya menggabungkan ketegangan di arena Hunger Games, kesedihan akan perpisahan dengan keluarga di distrik maupun teman seperjuangan di Hunger Games, sampai pada romansa yang ‘unik’ antara Katniss dengan Peeta Mellark, peserta dari distriknya juga. Meski demikian, ada canda ringan yang membuat kisah ini bisa tetap terlihat ‘hidup’, dan hal-hal konyol yang ikut menambah warna emosi saat membacanya.

Orang baik memiliki cara untuk menyelinap masuk ke dalam diriku dan membusuk di sana. (p.59)

Aku suka dengan dunia yang dibangun penulis dan segala isinya, yang disusun rapi bersama konflik-konflik yang berjalan secara natural tapi kebanyakan tak terduga. Adegan pembunuhan mungkin adalah salah satu gaya buku ini, jadi tak ada komentar selain bahwa pembacanya memang harus siap dan layak menerimanya. Sejauh ini, nafsu makanku tidak berubah.

Kisah suspense ringan tapi kaya, mengalir, mudah diterima, unik, dan cukup emosional. Meski penerimaanku tidak seperti kebanyakan orang yang sangat menyukai buku ini, tapi aku sangat menghargai dan kagum pada penulisnya sehingga kuberikan 4/5 bintang untuk buku pertama seri ini.

Nights in Rodanthe – Nicholas Sparks

Judul buku : Nights in Rodanthe (Malam-Malam di Rodanthe)
Penulis : Nicholas Sparks (2002)
Penerjemah : Marina Suksmono
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, November 2006
Tebal buku : 308 halaman

“Aku hanya berharap kau berlari mengejar sesuatu, bukan menghindari sesuatu.” (p.46)

Kehidupan pernikahan Adrienne memang tidak berhasil, dia ditinggalkan oleh mantan suaminya demi wanita lain yang lebih muda. Meskipun begitu, dia tetap bertahan membesarkan ketiga anaknya hingga berhasil. Akan tetapi masalah baru muncul ketika anak keduanya, Amanda, tiba-tiba harus menjanda karena suaminya meninggal dunia. Pukulan ini tidak hanya mengancam putri satu-satunya itu, tetapi juga cucu-cucunya dari Amanda. Untuk membangkitkan Amanda kembali, Adrienne ‘terpaksa’ mengungkit masa lalunya yang terpendam. Kisah cinta ‘rahasia’nya saat berada di Rodanthe.

Dalam masa-masa keputusasaan, Adrienne menyanggupi permintaan temannya untuk menjaga penginapan miliknya di Rodanthe. Dengan satu-satunya tamu bernama Paul Flanner, yang memiliki masalahnya sendiri. Oleh karena hanya tinggal berdua saja, mau tidak mau mereka melakukan banyak hal berdua. Akan tetapi bukan hanya itu, sejak awal telah ada ketertarikan tersembunyi di antara mereka berdua. Adrienne dan Paul pun mulai berbagi kisah dan rahasia, sampai mereka sadar bahwa ada suatu ikatan kuat di antara mereka yang sulit untuk diabaikan.

Meski saling membutuhkan, tetapi perjalanan kisah janda dan duda ini tidak semulus yang diharapkan. Suatu hal memisahkan mereka, dan suatu hal mencegah mereka bersatu kembali. Inilah yang dijadikan alasan bagi Adrienne untuk menceritakan rahasia terbesarnya pada Amanda. Rahasia yang mengubah hidupnya untuk selamanya. Rahasia yang mendewasakannya kembali dalam hal cinta, yang diharapkannya mampu mendewasakan anaknya juga.

Sekarang ini orang tak habis-habisnya bicara tentang indahnya masa muda, tapi Adrienne tak punya keinginan menjadi muda lagi. Setengah baya, mungkin, tapi bukan muda. Betul, dia kehilangan beberapa hal–melompati anak tangga, membawa lebih dari sekantong belanjaan sekaligus, atau punya cukup tenaga untuk mengimbangi cucu-cucunya ketika mereka berlarian keliling rumah–tapi dengan senang hati dia bersedia menukar semua itu dengan pengalaman-pengalaman yang didapatnya, dan pengalaman-pengalaman itu hanya bisa diperoleh lewat bertambah usia. (p.14)

Seperti buku-buku Nicholas Sparks pada umumnya yang berusaha menggambarkan cinta sejati, begitu pula buku ini. Tentang bagaimana menerima takdir dan memaafkan masa lalu. Melanjutkan hidup dengan kesadaran bahwa setiap manusia itu berharga. Dalam buku ini, penulis juga menyoroti cinta dalam keluarga, bagaimana sesuatu hal yang terpenting bagi orang tua, yaitu anak-anaknya, bisa mengalahkan segalanya. Tentang bagaimana seorang anak selalu terlambat mengerti orang tua mereka, tidak sebelum mereka merasakan sendiri menjadi orang tua.

Satu hal lagi yang berkesan adalah cara menghadapi kesedihan yang diajarkan Adrienne pada Amanda.

“Kau tak bisa mengontrol emosi. Kau masih tetap akan menangis, kau masih tetap akan mengalami saat-saat ketika kau merasa tak sanggup melanjutkan hidupmu. Tapi kau harus bersikap seakan-akan kau mampu. Pada masa-masa seperti ini, tindakan adalah satu-satunya yang bisa kaukontrol.” (p.295-6)

Perpisahan memang menyakitkan. Kisah ini memang tragis. Tapi Sparks membuat tokohnya bisa menyikapinya dengan indah. 4/5 untuk cinta sejati.

Character Thursday (9)

Setelah absen dua minggu, akhirnya berhasil juga menyempatkan diri ikut seru-seruan di Character Thursday. Sebelumnya, seperti biasa, ini pengantarnya.
Character Thursday
Adalah book blog hop di mana setiap blog memposting tokoh pilihan dalam buku yang sedang atau telah dibaca selama seminggu terakhir (judul atau genre buku bebas).
- Kalian bisa menjelaskan mengapa kalian suka/benci tokoh itu, sekilas kepribadian si tokoh, atau peranannya dalam keseluruhan kisah.
- Jangan lupa mencantumkan juga cover buku yang tokohnya kalian ambil.
- Kalau buku itu sudah difilmkan, kalian juga bisa mencantumkan foto si tokoh dalam film, atau foto aktor/aktris yang kalian anggap cocok dengan kepribadian si tokoh.
Syarat Mengikuti :
1. Follow blog Fanda Classiclit sebagai host, bisa lewat Google Friend Connect (GFC) atau sign up via e-mail (ada di sidebar paling kanan). Dengan follow blog ini, kalian akan selalu tahu setiap kali blog ini mengadakan Character Thursday Blog Hop.
2. Letakkan button Character Thursday Blog Hop di posting kalian atau di sidebar blog, supaya follower kalian juga bisa menemukan blog hop ini. Kodenya bisa diambil di kotak di button.
3. Buat posting dengan menyertakan copy-paste “Character Thursday” dan “Syarat Mengikuti” ke dalam postingmu.
3. Isikan link (URL) posting kalian ke Linky di bawah post. Cantumkan nama dengan format: Nama blogger @ nama blog, misalnya: Fanda @ Fanda Classiclit.
4. Jangan lupa kunjungi blog-blog peserta lain, dan temukan tokoh-tokoh pilihan mereka. Dengan begini, wawasan kita akan bertambah juga dengan buku-buku baru yang menarik…

Karakter yang saya angkat minggu ini diambil dari sebuah fiksi sejarah karya Ken Follett yang berjudul Fall of Giants.

Buku ini memiliki banyak sekali tokoh, tetapi sejauh sekitar sepersepuluh halaman pertama, ada satu nama yang menarik:

Ethel Williams

Ethel Williams adalah puteri dari organisator serikat pekerja di Wales Selatan, daerah para penambang batu bara, tepatnya di Aberowen. Dari anak-anak orang tuanya, hanya dia dan adik laki-lakinya, Billy, yang masih hidup. Saudara-saudarinya meninggal karena penyakit atau kecelakaan tambang. Dia sendiri bekerja di Ty Gwyn, rumah persinggahan milik Earl Fitzherbert.

Hidup dalam lingkungan keras dengan darah pejuang mengalir di nadinya membuat Ethel menjadi gadis yang ‘tidak biasa’. Kecantikan yang menurun dari ibunya, keberanian dan kecerdasan dari watak ayahnya. Dia mendukung hak-hak wanita, meski tak diteriakkan secara lantang–yang bisa membuat majikannya tak senang.

Salah satu keistimewaan gadis ini adalah dalam usianya yang belia, dia diangkat menjadi pengurus rumah tangga di Ty Gwyn, menggantikan pengurus sebelumnya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Tentunya setelah dia menunjukkan kecemerlangannya saat Earl mengundang Raja ke Ty Gwyn. Dia merencanakan banyak hal dengan matang dan teliti, hingga acara itu nyaris sempurna. Tapi satu hal yang melebihi itu adalah pesona dalam kesederhanaannya.

Digambarkan bahwa Ethel adalah gadis yang cantik meski dalam balutan pakaian pelayan. Kata-kata dan tingkah lakunya menarik para pria, yang dalam kisah ini (sejauh yang saya baca) justru lebih mengesankan pria yang ‘tak biasa’, sang Earl dan Raja sendiri. Dia sendiri adalah wanita mandiri yang keras kepala dengan rasa percaya diri yang besar. Saya bisa membayangkan wanita dengan tipe ini, yang penuh semangat dan percaya diri, memang memiliki daya tarik tersendiri, mungkin juga melipatgandakan kecantikan wajahnya. Tak heran jika Earl pun akhirnya takluk oleh kecantikan puteri rakyat jelata ini. Meskipun pada akhirnya dia sendiri juga takluk pada sang Earl, rasanya masih wajar untuk gadis muda yang tak pernah merasakan cinta sebelumnya (dan pria itu adalah seorang Earl!).

Kalau buku ini difilmkan, mungkin tak akan terlalu sulit mencari pemeran Ethel. Menurut saya, yang terpenting adalah dia memiliki kecantikan yang sederhana ditambah kemampuan akting yang baik. Dan mungkin untuk menambah kesan sederhana, aktris yang dipilih adalah yang baru atau belum terlalu terkenal.

Libri di Luca – Mikkel Birkegaard

Judul buku : Libri di Luca
Penulis : Mikkel Birkegaard (2007)
Penerjemah : Fahmy Yamani
Penyunting : M. Sidik Nugraha
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, April 2010 (cetakan ketiga)
Tebal buku : 588 halaman

Setelah kematian Luca Campelli, putra tunggalnya, Jon, mewarisi toko buku miliknya, Libri di Luca. Jon yang sudah berpisah dengan ayahnya selama dua puluh tahun, sejak kematian ibunya, nyaris tak mengenal ayahnya. Dia yang telah mapan sebagai pengacara yang bisa dibilang sukses harus menjalani misteri baru yang menguak kembali seluruh masa lalunya yang masih dipenuhi tanda tanya.

Jon baru mengetahui bahwa ayahnya ada seorang Lector ternama, yang bakatnya diwarisi dari kakek dan buyutnya, dan diwariskan juga padanya. Seorang Lector mampu mempengaruhi pembaca dengan membacakan suatu buku dan menanamkan kesan yang diinginkannya. Kemampuan itu disebut juga sebagai Pemancar. Ada jenis Lector yang disebut sebagai Penerima. Penerima mampu mendengar orang di sekitarnya membaca, dalam hati sekalipun, dan mengendalikannya.

Dahulu, baik para Pemancar maupun Penerima hidup berdampingan, tetapi ada sesuatu yang memecahkan mereka. Luca lah yang selama ini berjuang mempersatukan mereka kembali, dan kematiannya yang penuh misteri membawa kecurigaan bahwa ini berhubungan dengan misi Luca untuk mempersatukan para Lector.

Buku ini pertama menarik perhatian saya karena ada subjudul ‘novel tentang perkumpulan rahasia pecinta buku’ di covernya. Halaman-halaman pertama cukup menarik, mampu membuat penasaran tentang apa yang terjadi dalam berbagai misteri yang timbul. Saat konflik menjadi cukup menarik, di tengah-tengah muncul romansa yang, menurut saya, agak berlebihan. Mungkin saya tidak terbiasa dengan penggabungan fantasi dan romansa yang jenis ini. Saya pun mencoba meyakinkan diri bahwa ini adalah fantasi dewasa, dan mencoba menerima apa pun romansa yang disisipkan dalam cerita.

Akan tetapi, ternyata perkembangan ceritanya tidak seseru awal cerita dan pembangunan konfliknya. Semakin lama, cerita dan sikap masing-masing karakter menjadi semakin klise, dengan penekanan emosi yang kurang pas. Saat konflik semakin seru dengan adanya ‘organisasi bayangan’, alurnya tidak sebanding dengan konflik itu sendiri. Pembahasan tentang organisasi itu sangat dangkal, tidak dijelaskan apa visi dan misinya. Bukannya mendorong pembaca untuk ikut masuk ke dalam cerita, buku ini seolah-olah hanya memberi gambaran hitam putih yang hanya bisa ditelan mentah-mentah. Tidak ada kriteria ‘baik’ atau ‘jahat’, pembaca hanya disuguhkan pendapat para karakter bahwa inilah yang baik, tanpa penjelasan.

Berlawanan dengan itu semua, pemahaman para tokoh dalam buku ini pun terkesan lambat. Pembaca yang sudah diberi tahu apa yang terjadi, dengan tanda-tandanya, membuat tokohnya terkesan ‘bodoh’. Dan sekali lagi memunculkan klise demi klise.

Agak kecewa dengan alur ceritanya yang panjang tetapi tidak efisien. Padahal ide cerita dan konsepnya sangat bagus. Adanya perkumpulan Lector yang bisa mempengaruhi pembaca merupakan daya tarik tersendiri. Belum lagi misteri-misteri yang muncul, seolah tidak ada habisnya dan mendorong rasa penasaran untuk membaca buku ini sampai habis. Buku ini juga menunjukkan ‘nilai’ tersendiri para pecinta buku. Membuat kita terhanyut dalam imajinasi tentang bagaimana buku-buku bisa menjadi begitu berharga sekaligus menakutkan.

Terpaksa nilai akhir saya menjadi 3/5 untuk awal yang menegangkan dan akhir yang mengecewakan.

Wishful Wednesday (6)

Setelah minggu lalu melewatkan Wishful Wednesday, kali ini khusus disiapkan sebelumnya supaya ga terlewat lagi (walaupun nyatanya tetap belum jadi sampai Rabu siang, hehe). Apa sih asyiknya ikutan? Coba dulu deh, caranya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post Books to Share). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Bulan April ini, tepatnya tanggal 13 sampai 26, BBI mengadakan giveaway hop untuk merayakan ulang tahunnya yang pertama. Di samping ikut bagi-bagi buku, saya ga mau kalah dong ikut sebagai peserta di blog-blog lain, siapa tahu kebagian walaupun satu. Karena temanya penulis lokal, maka yang dibagi-bagi juga buku lokal. Agak sedikit canggung waktu menyadari bahwa referensi buku lokalku ternyata sedikiiitt sekali. Karena itulah, sepertinya saya harus memasukkan beberapa buku lokal ke reading list-ku.

Banyak sebenarnya buku lokal, baik baru maupun klasik, yang layak, bahkan wajib dibaca. Salah satunya kukira adalah Pramoedya Ananta Toer. Dulu sekali sebelum kenal beliau ini, temanku pernah minta kado salah satu buku beliau, yang kubelikan judulnya lupa (sayangnya saya ga sempat pinjam juga waktu itu, hehe). Kalau sekarang saya ingin baca karya beliau, mulai dari ini mungkin ya:

Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu …. Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Diambil dari sini.

Yah, semoga selanjutnya wishlist yang ini segera tercapai, karena memang sudah penasaran dengan karya beliau.

Apa Wishful Wednesday-mu hari ini?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 184 other followers