Lola Rose – Jacqueline Wilson

re_buku_picture_80523Title : Lola Rose
Author : Jacqueline Wilson (2003)
Illustrator : Nick Sharratt
Translator : Poppy Damayanti Chusfani
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, April 2007
Format : Paperback, 304 pages

Ayah Jayni suka memukul. Mulanya dia tampak sangat menyayangi keluarganya; Mum, dirinya, dan Kenny, adiknya. Namun begitu cepat suasana hatinya berubah, dia bisa menjadi monster dalam keluarga, mabuk, bertengkar, dan memukuli Mum. Kenny yang baru berusia lima tahun tidak memahami hal ini, dia memandang ayahnya sebagai jagoannya dan mendengarkan apa katanya. Sedangkan Jayni yang sudah berusia praremaja gusar dengan kondisi keluarganya yang rapuh, hingga suatu saat dia melawan, kemudian untuk pertama kalinya, Dad memukulnya juga.

Mum baru memperoleh uang yang banyak dari lotre, mereka bertiga kabur dari rumah, menjauh sejauh-jauhnya dari Dad. Tujuan mereka adalah London, mereka memulai kehidupan baru dengan nama baru. Kenny menjadi Kendall. Jayni mengganti namanya dengan Lola Rose, berharap menjadi dewasa dan sekeren model yang ada di buku klipingnya. Tetapi masalah tidak pergi dari kehidupan mereka. Mulanya Jake, pacar Mum yang tidak disukainya. Kemudian penyakit Mum, dan bayangan Dad yang tidak pernah pergi dari hidup mereka.

Tema yang cukup berat untuk sebuah buku anak ini berhasil diramu penulis dengan apik. Meski berat dan suram, buku ini tak kehilangan sisi terangnya sebagai buku anak. Ada masa-masa indah, ada harapan, ada cinta tulus, mungkin itulah yang diperlukan, keyakinan bahwa pada akhirnya, segalanya akan baik-baik saja.

Karakter Tokoh Utama

Lola Rose mungkin bersikap lebih dewasa dari usianya karena tuntutan keadaan. Ayahnya yang bertemperamen kasar, beberapa kali masuk penjara, dan selalu menyiksa ibunya, menyalakan alarmnya ketika dia ada di rumah. Sementara ibunya sendiri terlalu lemah di hadapan ayahnya, entah cinta, entah kebodohan—tampaknya keduanya tak jauh berbeda, mengingat usia ibunya masih sangat belia ketika mengandungnya (16 tahun). Dalam kondisi keluarga yang sulit ini, Lola Rose yang harus berperan sebagai ibu bagi Kendall dan ibunya sekaligus. Lola Rose yang mengingatkan ibunya saat lupa diri, menghabiskan uang lotre untuk berfoya-foya, tidak memikirkan bagaimana besok. Lola Rose juga yang menenangkan ibunya saat gelisah dan ketakutan, serta melindungi keluarganya sebisa mungkin, dengan cara yang bisa dipikirkan seorang anak kelas enam. Bisa jadi, karakter Lola Rose tak akan sekuat dan sedewasa ini jika ibunya jauh lebih bijaksana.

Di balik sikap dewasanya, Lola Rose tetaplah seorang anak. Di masa-masa menjelang remaja, dia mulai mengkhawatirkan bentuk tubuhnya, memiliki teman dekat, berurusan dengan anak laki-laki, menginginkan perhatian, menginginkan rasa aman, merindukan sebuah keluarga yang utuh dan normal.

Aku menemani Kendall tidur. Aku menemani Mum tidur. Aku ingin seseorang datang dan menemaniku tidur. (p.223)

Menurut saya, Lola Rose bukan karakter yang utopis. Mungkin saja ada banyak Lola Rose lain di luar sana, yang terpaksa menjadi lebih dewasa dari umurnya demi mempertahankan sebuah keluarga. Bahkan pada wanita dewasa, sekuat dan semandiri apa pun, pada suatu saat akan selalu ada perasaan ingin dilindungi.

Februari : Karakter Tokoh Utama

Februari : Karakter Tokoh Utama

Buku ini memiliki konflik yang padat, susul-menyusul dan tak berhenti sampai buku ini berakhir. Tidak melulu dipenuhi masalah, ada kalanya mereka bersenang-senang, berusaha melupakan masalah, dan tampak dapat hidup wajar dan normal sebelum masalah berikutnya datang. Pada mulanya, konflik keluarganya cukup bisa dimengerti, tetapi lama-kelamaan, sesuatu tentang penyakit Mum tampak agak dipaksakan. Akhirnya pun terkesan terburu-buru. Meski begitu, lebih dari setengah buku ini sangat bisa dinikmati.

4/5 bintang untuk putri sang Dewi Fortuna.

Review #13 of Children’s Literature Reading Project

Review #5 for Lucky No.15 Reading Challenge category Bargain All The Way

5 responses to “Lola Rose – Jacqueline Wilson

  1. Wah ternyata ceritanya gitu. Awalnya saya kira isinya hepi-hepi melulu gara2 covernya yang ngejreng ._.

  2. iya sih sakit mum kayaknya supaya lebih drama walau aku pikir itu sebagai pintu untuk mengenalkan bibi Barbara. Mungkin lebih terasa ngalir kalau Mum masuk rumah sakit karena ayah Jayni udah kelewat batas.

    Jadi inget Katniss dan Penrynn yang tangguh tapi yah tetep gak kuasa menolak belaian😀

  3. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s