The Wind In The Willows – Kenneth Grahame

Judul buku : The Wind in the Willow (Embusan Angin di Pohon Dedalu)
Penulis : Kenneth Grahame (1908)
Penerjemah : Rini Nurul Badariah
Penyunting : Nadya Andwiani
Penerbit : Mahda Books, April 2010 (cetakan pertama)
Tebal buku : 138 halaman

“Lakukan petualangan! Sambut panggilannya, sebelum terlambat! Tinggal tutup pintu rumahmu, maju selangkah dengan leluasa, dan hidupmu takkan lagi menjemukan! Lalu suatu hari, kembalilah kemari setelah puas berkeliling, dan duduklah di tepi sungai yang tenang dengan kenangan indah.” (p.96)

Namanya Moly, seekor tikus tanah yang rajin dan polos. Suatu hari dia meninggalkan kegiatan bersih-bersih di rumahnya, menyambut panggilan musim semi dan pergi ke tepi sungai. Di sana dia bertemu dengan Ratty, si Tikus Air, yang mengajaknya berperahu dan memperkenalkan dengan kehidupan di Tepi Sungai.

Moly bertemu dengan Toad, katak yang kaya, tergila-gila dengan petualangan yang berbahaya, sombong, tapi setia kawan. Dia juga bertemu dengan Luak yang bijaksana dan baik hati. Kita pun diajak untuk bertualang di Jalan Raya, di Hutan Rimba, sampai pada pulau kecil tempat Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil bersama Moly dan Ratty.

Selain itu, petualangan Toad tak kalah menarik. Oleh karena kegilaannya pada mobil Tut-Tut, dia dimasukkan dalam penjara. Untungnya anak perempuan sipir yang baik hati menolongnya untuk kabur dari penjara. Berkat bantuan dari Masinis dan Pemilik Tongkang, Toad kembali ke rumahnya. Akan tetapi, masalah baru menantinya. Meski begitu, Toad masih memiliki ahabat-sahabatnya; Moly, Ratty dan Tuan Luak, yang setia membantunya, hingga menjadi titik balik dari kehidupannya selama ini.

Fabel klasik ini sangat dapat dinikmati sebagai hiburan, maupun–sebagaimana kebanyakan kisah fabel dibuat–sebagai cerminan dari kehidupan kita sehari-hari. Moly yang keluar dari zona aman di rumahnya di bawah tanah, kemudian menetap di tempat teman barunya, Ratty, yang penuh petualangan di Tepi Sungai. Tetapi petualangan yang lebih liar terjadi di Jalan Raya bersama Toad, atau Hutan Rimba tempat Luak. Sama seperti dunia ini, kita punya zona aman di rumah kita, tempat menetap dimana kita hidup sehari-hari untuk bekerja atau belajar, tetapi tak lengkap tanpa satu dua petualangan liar, apapun bentuknya. Meski demikian, seperti yang dialami Moly, pada akhirnya tempat paling nyaman adalah rumah sendiri.

Buku ini diterjemahkan dengan baik, bahasanya sesuai dan mudah dicerna oleh anak-anak. Akan tetapi, ternyata versi buku yang diterjemahkan ternyata berbeda dengan yang saya dapat dari gutenberg.org (EBook #27805). Dalam Ebook versi bahasa Inggris itu, ada beberapa paragraf yang terlewatkan oleh buku terjemahan ini, yang meskipun tidak mempengaruhi esensi dari buku ini, tetapi cukup melewatkan beberapa bagian-bagian yang indah dan menarik.

4/5 untuk (yang katanya) fabel terbaik sepanjang masa.

Sebagai pengembangan, di bawah ini adalah analisis buku ini berdasarkan pertanyaan yang dibuat oleh Baca Klasik

1. Dari antara 4 tokoh utama: Tikus Air, Tikus Tanah, Tuan Luak dan Tuan Katak, adakah menurut kalian yang mengalami perubahan dalam karakter atau pandangan hidup, karena persahabatan mereka?
Kalau ada, sebutkan siapa (boleh lebih dari 1). Siapa yang telah mengubahnya? Bagaimana ia dulu? Bagaimana ia kini?

Dalam kisah persahabatan dalam buku The Wind In The Willows ini, menurut saya hampir semua tokoh mengalami perubahan dalam karakter dan pandangan hidup. Kecuali Tuan Luak yang tampaknya digambarkan sebagai pribadi yang matang dan bijaksana. Dimulai dari kehidupan di bawah tanah, Tikus Tanah menjelajah keluar sampai ke tepi sungai, ke hutan, dan ke kota. Perjalanan hidupnya di tempat baru itu memberinya banyak pengalaman dan pelajaran. Dia tidak lagi menjadi sosok yang pemalu, tetapi dia mulai bisa mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri, bermanfaat untuk orang lain, dan keberaniannya juga berkembang. Selain itu, meski dia menemukan kehidupan dan petualangan di atas tanah lebih menyenangkan, dia juga menyadari bahwa rumah tetaplah tempat yang terbaik.

Tikus air, awalnya dia begitu bangga dengan kehidupan Tepi Sungai yang diperkenalkannya pada Tikus Tanah. Dia begitu mencintai rumahnya hingga tak pernah sekali pun berminat untuk meninggalkannya. Namun, setelah pertemuan dengan Tikus Laut, dia mulai merasakan haus petualangan, meskipun dia belum merealisasikannya dalam buku ini, tetapi mulai tampak kesadaran bahwa ada sesuatu di luar sana yang patut untuk dilihat.

Sedangkan yang paling dramatis adalah perubahan Tuan Katak. Setelah kejadian demi kejadian yang menegangkan, entah mengapa perubahan Katak digambarkan secara tiba-tiba, dan sangat drastis. Dari yang dulunya sembrono, ceroboh dan gemar membanggakan diri, menjadi sangat bijaksana dan rendah hati. Mungkin ‘banjir’ petualangan bisa membuat seseorang berubah seperti itu, karena sebelumnya dia tidak punya cukup banyak waktu untuk merenungkannya.

2. Setelah petualangan di “Rumahku Istanaku” (hlm. 49), kesadaran apa yang didapat oleh Tikus Tanah?

Tikus Tanah akhirnya menyadari bahwa seindah apa pun kehidupan di luar sana, rumah tetaplah yang terbaik. Sesederhana apa pun, rumah selalu menyimpan kenangan yang tak bisa ditukar dengan apa pun. Meskipun kita tidak selamanya harus di dalamnya, tetapi rumah tetap tersimpan dalam lubuk hati yang paling dalam.

3. Menurut kalian apa yang sebenarnya dialami Tikus Tanah dan Tikus Air pada petualangan mereka di “Pelindung Makhluk-Makhluk Kecil” (hlm. 69) ?

Dalam bab itu, tampak penggambaran yang religius. Tempat yang tenang dan membawa kedamaian. Tempat itu bisa diartikan bermacam-macam, sesuai dengan keyakinan pembacanya. Kalau saya pribadi, saya lebih suka mengartikannya sebagai saat-saat dimana kita paling dekat dengan Tuhan. Entah saat berdoa atau saat beribadah, kemudian kita menemukan ketenangan jiwa. Setelah kita ke ‘tempat’ itu, kita masih selalu bisa kembali ke ‘dunia kita’, tetapi pengalaman yang indah itu akan semakin kabur, kecuali jika kita mengulang kembali ‘petualangan religius’ itu.

4. Apa yang kalian dapatkan dari membaca The Wind in the Willows?

Dari membaca buku The Wind In The Willows, banyak hal yang bisa didapatkan. Beberapa di antaranya yang sudah tercakup dalam analisis 1-3. Dari sisi literasi, kita bisa melihat penggambaran dunia kita yang diceritakan ulang dalam wujud fabel. Bukan untuk menyindir, tetapi lebih pada pengembangan imajinasi kita. Penulisan dalam buku ini juga saya rasa sangat terbuka untuk berbagai penafsiran. Jika dibacakan untuk anak-anak, maka orang tua bisa menanamkan banyak nilai yang ingin ditanamkannya.

5 responses to “The Wind In The Willows – Kenneth Grahame

  1. astridfelicialim

    keren analisisnya mbak! =)

  2. “Lakukan petualangan! Sambut panggilannya, sebelum terlambat! Tinggal tutup pintu rumahmu, maju selangkah dengan leluasa, dan hidupmu takkan lagi menjemukan! Lalu suatu hari, kembalilah kemari setelah puas berkeliling, dan duduklah di tepi sungai yang tenang dengan kenangan indah.” (p.96)

    Suka banget quotenya!! Beli ah buat anak ku, hehe🙂

  3. Pingback: Children’s Classics Literature: Berbagai Genre, Berbagai Masa | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s