The Sign of Four – Sir Arthur Conan Doyle

Judul buku : The Sign of The Four
Penulis : Sir Arthur Conan Doyle (1890)
Penerbit : Project Gutenberg (Ebook), Maret 2000 (Etext #2097)

(Review in both Bahasa Indonesia and English)

The Sign of The Four merupakan novel kedua Sherlock Holmes. Di sini, masih dalam sudut penceritaan oleh Watson, diawali dengan pendalaman mengenai metode deduksi Holmes, maupun kepribadian detektif itu sendiri.

Sebut saja bagaimana sebuah kasus begitu penting untuk Sherlock Holmes, yang tampak dari kata-katanya.

“My mind rebels at stagnation.”

“I cannot live without brain-work. What else is there to live for? Stand at the window here. Was ever such a dreary, dismal, unprofitable world? See how the yellow fog swirls down the street and drifts across the duncolored houses. What could be more hopelessly prosaic and material? What is the use of having powers, doctor, when one has no field upon which to exert them? Crime is commonplace, existence is commonplace, and no qualities save those which are commonplace have any function upon earth.”

“I never remember feeling tired by work, though idleness exhausts me completely.”

Di saat seperti itulah, Watson melihat bahwa Holmes menggunakan kokain untuk menenangkan diri. Meskipun pada masa itu penggunaan kokain masih legal, tapi sebagai dokter, Watson tahu bahwa ketergantungannya kurang baik. Sebagai pengalih perhatian, Watson pun menguji kawannya itu dengan pertanyaan mengenai arloji yang dipakainya. Secara mengejutkan, Holmes berhasil mengetahui asal arloji tersebut beserta kepribadian pemilik sebelumnya.

Kemudian datanglah yang ditunggu-tunggu, kasus baru. Seorang wanita, Miss Morstan datang untuk meminta bantuan. Sepuluh tahun lalu, ayahnya kembali dari tugas di India, akan tetapi di hari yang dijanjikannya untuk bertemu puterinya itu, dia tiba-tiba menghilang. Empat tahun berselang, Miss Morstan mendapatkan iklan di koran yang meminta alamatnya, diikuti dengan pengiriman paket berisi perhiasan yang diterimanya setiap tahun. Dan kini, dia mendapatkan surat yang memintanya untuk datang ke suatu tempat sendirian, atau membawa dua orang teman yang bukan polisi. Karena mendengar reputasi Holmes, maka Miss Morstan pun mempercayakan kasusnya pada detektif ini dan juga kawannya.

Pada waktu yang dijanjikan, mereka bertiga; Miss Morstan, Holmes dan Watson dibawa ke rumah Thaddeus Sholto, mendapatkan kisah aneh tentang harta karun. Ayah Thaddeus, Major Sholto adalah kawan dari ayah Miss Morstan, Captain Morstan. Untuk mendapatkan kejelasan mengenai harta itu, mereka pun menuju ke rumah saudara Sholto yang lain, Bartholomew, yang juga menyimpan harta tersebut. Hal mengejutkan hadir ketika di rumah, mereka menemukan Bartholomew sudah terbunuh.

Yang menarik dari Sherlock Holmes adalah kecerdasannya. Dia mengobservasi sesuatu, menyingkirkan yang tidak mungkin, dan menarik kesimpulan yang paling masuk akal, dan nyaris tanpa kesalahan.

“when you have eliminated the impossible whatever remains, HOWEVER IMPROBABLE, must be the truth”

Di samping itu, seperti yang diakuinya, meski memiliki banyak cara untuk mengikuti petunjuk, dia memilih cara yang termudah, yang telah tersedia, untuk lebih menyederhanakan kasus itu sendiri.

“Do not imagine, that I depend for my success in this case upon the mere chance of one of these fellows having put his foot in the chemical. I have knowledge now which would enable me to trace them in many different ways. This, however, is the readiest and, since fortune has put it into our hands, I should be culpable if I neglected it. It has, however, prevented the case from becoming the pretty little intellectual problem which it at one time promised to be. There might have been some credit to be gained out of it, but for this too palpable clue.”

Yang saya suka di sini, penulis menggambarkan ‘sisi manusia’ Holmes yang belum diceritakannya di buku pertamanya, A Study in Scarlet. Bagaimana saat dia dengan kepercayaan dirinya menemukan jalur yang benar dalam penyelidikan, kemudian tiba-tiba mengalami jalan buntu, hal yang sangat menyinggung bagi seorang Sherlock Holmes. Dalam berbagai usaha yang terus dijalankannya, dengan cara unik menggunakan pasukannya sendiri yang terdiri atas orang jalanan, yang disebutnya sebagai Baker Street irregulars. Di samping itu, saat tampaknya dia tak mengalami kemajuan, dia mengalihkan pikirannya kepada eksperimen di laboratorium, atau sekedar bermain biola. Akan tetapi, tetap saja, dia tidak bisa berhenti ‘bertindak’, seperti yang dikatakan sendiri oleh Watson.

“He has some small matter upon his mind which makes him restless.”

Tidak hanya Holmes, dalam novel ini Doyle juga memberi bagian pada sisi pribadi Watson. Dia jatuh cinta pada Miss Morstan, hal yang sulit baginya, apalagi dia tidak bisa mendapatkan simpati Holmes yang sangat tidak tertarik pada hubungan emosional antar manusia, lebih-lebih orang itu adalah kliennya.

“..not to allow your judgment to be biased by personal qualities. A client is to me a mere unit,–a factor in a problem. The emotional qualities are antagonistic to clear reasoning.”

“But love is an emotional thing, and whatever is emotional is opposed to that true cold reason which I place above all things. I should never marry myself, lest I bias my judgment.”

In this book, we can see the ‘human side’ of Sherlock Holmes. His cocaine-use habit, his restless brain, and how he acted when he met deadlock at his investigations. He has methods, and I love to see how he led us to his deduction, just to amaze us. But not only Holmes, here, Watson was falling in love with Miss Morstan, Holmes’ client. This was an emotional matter that didn’t touch Holmes. Holmes is, however, a cold and unemotional person as far as we saw here. He’s not good in his social life, but he’s brilliant for whatever he do.

There is a small matter that seems contradictive with Doyle’s previous book. From A Study in Scarlet, we know that Watson was struck by a Jezail bullet on the shoulder, but on The Sign of The Four, he said that he had it through his leg. I don’t know whether he had injured twice or whatever happened, but it makes me questioning.

Secara keseluruhan, novel Sherlock Holmes memang tidak memanjakan imajinasi dan deduksi para pembaca. Kita disuguhkan betapa brilliannya pemikiran Holmes dan mengikuti pola pikir dan alur kerja yang dilakukannya. Kita hanya menebak-nebak apa yang terjadi tanpa tahu petunjuk apa yang telah dimiliki oleh detektif itu. 3/5 untuk kisah perburuan harta karun.

Review #2 of Classics Club Project

11 responses to “The Sign of Four – Sir Arthur Conan Doyle

  1. Ah..menarik ya, Watson menemukan cinta di sini. Apakah si Ms. Morstan ini yang bakal jadi Mrs. Watson?

  2. Iya, Si Sherlock itu nggak bisa hidup kalo ngga ada kasus. keren ya..
    eh,terus maksud The Sign of Four itu apanya ya Mbak?

    • The Sign of Four itu tanda dr hartanya itu, pemilik aslinya empat orang. Hubungannya sm Major Sholto & Captain Morstan ada di bagian2 akhir, ntr jadi spoiler klo kulanjut, hehe.

  3. Pingback: First Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  4. belinya dimana nih? masih ada gak ya sekarang?

    • Klo edisi terjemahannya sudah ada dr Gramedia & Visimedia, masih beredar kok. Klo aslinya, ebook gratis banyak (termasuk edisi yg kubaca).

  5. kalau mau beli yg versi inggris dimana ya. butuh bgt ini buat skripsi. help please.

  6. Pingback: The Adventures of Sherlock Holmes – Sir Arthur Conan Doyle | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s